Kamis, 21 Agustus 2014

Rembyak Rambut, Tubuh (by : Sukaryanta G. Utama)

Dinding batu dengan jendela membingkai ke dalam
pada kegelapan dinding-dinding batu
pada hitam cahaya: dengan cahaya
tubuh wanita yang setengah berdiri dan bertahan pada lutut
membentuk pinggul tubuhnya
meraih tubuh telanjangnya
menyembunyikan wajah, dada, pusar, pangkal paha dan segala yang disembunyikannya
dengan rembyak hitam rambutnya,
cahaya putih dari tubuhnya.
Pada tangan yang merentang tubuh
merintang jendela dengan
cahaya tubuh dan bingkai gelap yang memancar keluar
seolah ingin menyaingi tinggi bulan.
Seumpama ia menyibak rambutnya,
seumpama wajahnya mengangkat rambutnya
menggerai punggungnya,
seumpama ini adalah gerhana wanita
dengan tubuh bulannya di jendela
di atas malam yang sempurna.
Setiap detik ingin lebih mengurainya
di sunyi tubuhnya.
Musti malam bertandang, dalam tembang
dalam pungguk lelaki ingin memetik bulan.
Atau lebih hanya bayang yang termangu
di geridip jendela itu.
Seumpama ini sajak yang tak terbaca
meskipun sungguh terbaca,
yang melahirkan sunyi dan di atas semua ledakan-ledakan ini.
Bangun setiap kali dari runtuhannya sendiri
menyulih wanita sekali lagi
yang memancar di gelap jendela.
Tiba saatnya lelaki itu memungut puisi
yang luberi. Cahaya wanita tinggi di kilau
bulan di gelung hitam rambutnya
dan ia akan pacakan tusuk konde
untuk mimpi dan apa yang dilihatnya.
Untuk tubuhnya yang lebih bercahaya.


(Jakarta, 1/9/2014 5:15:11 AM)

Ketakutan (by : Friyani Yeti)

aku dikejar sepi, berbelati
lalu aku berlari sembunyi
di sebalik wajah malam
yang khusuk terpejam

malam, ditikamnya
anyir, sepi-berdarah

rembulan pucat
sendiri menjerat
oh, Tuan
aku ketakutan!

(Cirebon, Mei'14)

Satyam Eva Jayate (by : Den Bagus Lucas Atmadja)

Satu persatu
Bunga lilin gugur
Tersisa dua
Satu dua kubu
Kubu lawan
Kubu bajingan

Sejak dulu
Sejak orde paling baru
Sampai orde-ordean
Menikam bapak
Hal biasa
Sampai ambisi
Mengikis usia

Semua menaruh harap
Menaruh mimpi
Pada pundak ambisi

Kita Jangan
Berpangku tangan
Sebab Hanya kita
Yang bisa merubah keadaan
Tanpa melihat perihnya peristiwa

Abaikan semua
Yang menjerat kaki berlari
Bentangkan sayap
Selebar-lebarnya
Dari sabang sampai merauke
Benih mimpi telah kita sebar

Tak ada kemajuan
Bila masih berpangku tangan
Kini saatnya menyongsong masa depan

Indonesia Indonesia
Bukan milik segelintir orang
Tapi milik kita bersama

INDONESIA JAYA

______

**Den Bagus Lucas Atmadja
**20 MEI 2014
** Satyam Eva Jayate", "pada saatnya kebenaran lah yang akan menang".

Usman Harun (by : Den Bagus Lucas Atmadja)

Beri hormat....
Pada pahlawanku usman harun
Gagah berani dimedan laga

Tidak gentar peluru merobek ulu hati
Tidak gentar engkau bersuara lantang

Tidak kuhiraukan Engkau menyangkal nama pahlawanku arungi gelombang samudra

The Little Dot Red
Jiwa kami geram lawan denganmu
Tapi untuk apa lawan
Jika hanya menambah beban

Usia kelam telah berlalu
Rasa itu masih bersemayam dikalbu
Biarkan ia tenang
Bersanding dengan Tuhan

Tidak usah kau usik lagi The Little Dot Red jika kau masih ingin tenang bersemedi dirongga nadimu.

_______

**Den Bagus Lucas Atmadja
**13:02:2014 Cengkareng

Kau Dan Dua Kelok Pilihan (by : Alex Tanjung)

Di dua kelokan
batu-batu dan batu-batu
itu petunjuk atau hiasan?
dieja atau diacuhkan?
tapi serpihan mereka ada di mana?
atau dari mana suara cadas terkikis hujan?
majulah-maju
diamlah-diam
mundurlah--pulang

di dua kelokan
bunga-bunga dan bunga-bunga
itu keindahan atau halangan?
dihirup atau dijentikan?
namun jatuh di mana putik saksi kelabu?
atau dari mana datangnya kumbang pincang?
jalanlah-jalan
larilah--kejar
diamlah--mati

di dua kelokan
pilihan jalan dari hadapan
tak butuhkan angin pembawa tiga.


(Ciputat, 29052014.)

Gitar Kecil Mendendangkan Hujan (by : Bunga Pena Hbasrie Btmvarao)

lampu hijau menyala, gitar kecil itu beranjak ke sisi jalan
senja kelabu, di simpang jalan itu
gerimisi mulai berjatuhan

pada tugu batu di simpang jalan itu
disandarkannya gitarnya yang kecil dan tubuhnya yang tipis
lalu sambil memeriksa kantong kreseknya yang hampa
perlahan bibirnya pun mulai bersenandung

"kemarilah hujan
engkaulah teman paling setia",serunya

"deraslah hujan", katanya
temani perutku yang bernyanyi...

malam pun datang, kendaraan-kendaraan terus berkejaran
bersama hujan, gitar kecil itu pun terus bernyanyi
entah sampai kapan, berteman lampu merah
di simpang jalan itu

(Batam, 30.05.2014)

Secangkir Kopi Puisiku (by : Dewi Nurhalizah)

kunikmati benar tiap tegukan
rasa dan aroma kopi tubruk
tiap adukan endapan rasa

jangan, bukan yang instan
apalagi bermacam rasa
cukup kopi murni
asli dengan sedikit gula

kunikmati benar tiap tegukan
mana peduli panas atau dingin
pagi siang bahkan malam
aku sangat suka kopi
tetapi tak harus tiap kali,
tetap berbatas jelas
atau jantungku
deg deg plas!

di beranda
di atas gunung
di atas perahu
di ramai
di sepi
di diamku

pada secangkir kopi
puisiku

(Malang, 062014)

Abah dan Tarawangsanya (by : Oma Neska)

Irama Tarawangsa yang mendayu pilu,
digesek Abah dari beranda saung bilik;
bertiang batang kawung.
Merintih
sayu
lirih.

Duuh ...

Si Abah pengepul lahang,
telah lama lupa akan senyum;
apalagi tawa renyah.
Pada punggungnya yang bungkuk,
hanya tersandang
lodong berisi lahang.

Dia tidak hafal angka- angka matematika,
Juga biologi atau politik.
Mesin hitungnya pun delapan jari,
sebab jempol dan telunjuk kirinya;
hilang terpotong golok
ketika mengupas buah cangkaleng.

Abah ...
Suaranya serak menakuti anak- anak.
Tetapi dia tidak pernah berorasi,
memberi janji- janji basi;
berisi pepesan kosong yang tanpa isi
: samasekali.

Tarawangsa bernada sumbang,
mengalunkan tembang;
tentang lahang yang kian hilang.
Karena pupuk tidak terbeli,
dan
pohon Kawungpun mati kurang nutrisi.

Abah tidak pernah menyembah sesiapa,
baik dia Raja ataupun para Petinggi Negara;
apalagi Koruptor buncit.
Karena Abah tidak pernah mengenali mereka,
yang sering berubah- ubah wujud.

Abah hanya mau bersujud,
kepada yang tak berwujud

: Gusti Allah ...


(13juni14)
...................................................

Catatan :

Tarawangsa : alat musik gesek khas Sunda
Lahang (bhs. Sunda) : nira
Bilik : gedek
Kawung : pohon aren
lodong : tempat membawa benda cair,terbuat dari bambu
cangkaleng : kolang kaling

KONON KATANYA (by : Bunga Pena Hbasrie Btmvarao)

Di warung itu, semalam kami menonton sebuah panggung dalam TV dimana orang-orang hebat sibuk memperdebatkan masa depan dan nasib kami

Semakin lama TV itu pun semakin panas memaparkan visi-misinya, nada-nada retorika mengalun menawarkan angka-angka, nyanyian janji-janji beradu merdu mendendangkan mimpi-mimpi

Ah betapa hebatnya, betapa indah deklamasi puisi basi itu, setidaknya demikianlah reaksi yang kami lihat, orang-orang riuh bertepuk tangan, lalu salam-salaman lalu kembali hujat-hujatan

Demikianlah lewat TV di warung itu, hari-hari terakhir ini, kami belajar menimbang pahit-manisnya kopi, yang konon katanya akan memperjuangkan masa depan dan nasib kami

hmmm..., kami hanya bisa percaya
semoga saja, kali ini tak lagi sekedar
... konon katanya

(Batam, 16.06.2014)

Dendang Waktu (by : Oscar Amran)

menemuimu di banyak hari
satu dua kata menjadi angin
dingin menusuk-tusuk waktu
dentang jam kian ciut

menemuimu ingin. di banyak waktu
bukan lagi kesempatan, yang
kini aku kian jauh
mengelu-elu rindu pertemuan
waktu serupa jarak terisak

menemuimu ingin di satu saat
ketika jam berdentang
untuk kesekian kalinya

(Bubulak, Juni 2014)

Sepagi Rindu Bayang-bayang (by : Oscar Amran)

seranting sedaun
sekisah sekasih semusim
angin menderak sunyi

serupa waktu memainkan sunyi
petang mengelam batang
senja hilang di rimbun daun
malam beku ke pucuk rindu

seranting sedaun
sekisah sekasih mengembun
dini hari mengilu tulang

pekik sunyi di pucuk daun
gigil yang tak hilang-hilang
sepagi rindu bayang-bayang

(Jan, 2014)

Pemandangan Yang Memalukan (by : Bunga Pena Hbasrie Btmvarao)

pemandangan ini semakin memalukan saja
semakin lama semakin kusut
semakin hari semakin ribut

di TV-TV di koran-koran
cerita-berita panas membakar
mulut-mulut hitam memperkeruh keadaan

sementara di sepanjang negeri ini
semakin panjang pula rintihan yang terlupakan
di gang-gang sempit dan di lorong-lorong kelam
semakin ramai yang dihimpit beban

seringkali ketika kami bertukar air mata
rintihan-rintihan pedih itu bercerita kepadaku
di tanah moyangnya yang kalian katakan kaya raya ini
mereka megap-megap mengais hari

maka sudahilah tuan-tuan
hentikanlah peperangan hitam
sudahilah mengadu bintang-bintang

lihatlah tuan-tuan
kenyataan ini sudah teramat memilukan
, semakin memalukan

(Batam, 19.06.2014)

Seupaya Sajak (by : Sukaryanta G. Utama)

Laut malam minta selaras dengan langit
layar angin, bintang-bintang berlepasan-berpindahan
berkejaran, serupa bermukim di balik ombak-ombak
suara debur tenggelam dalam kelelapan langit maha tinggi
tetapi terdengar seperti dengkur di laut,
dan keterjagaan yang memandang kebersemayaman
karang-karang di rumah awannya, melayari ombak-ombak
melintasi pulau-pulau,
bintang-bintang berjatuhan dan berkedip di kedalaman laut
malam makin tenggelam, dalam kebermainan ikan-ikan
sisik-sisiknya bersentuhan dengan cahaya bintang
laut terdalam itu pun menyala biru.
Burung-burung malam mematuk ikan-ikan dan memindahkan
ke langit, mereka berenangan seperti bintang-bintang
atau bintang-bintang yang beralih seperti ikan-ikan.
Burung-burung malam mengawal keindahan ini,
yang datang dari tempat jauhnya di surga, para ababil
yang tak lagi mengirimkan batu dari neraka.
Pada malam yang didekatkan
pada malam ikan-ikan diperjalankan ke angkasa
pada malam bintang-bintang tercelup ke laut
pada peristiwa yang sedekat dengan kejadian ini
kejadian yang sekali terjadi. Ketika orang-orang
masih saja merasa bermimpi
pada ingatan mereka yang pendek
dan mengembalikan semua ini pada kebermulaan
padahal sekali keajaiban ini sungguh terjadi.
Mereka, sedikit dari mereka, tidak pada pengingkaran
tegak lurus-lurus,
menyaksikan semua ini, terjadi.
Pada ingatan semua ini, pada sebagian mereka yang lupa
maka sajak ini dituliskan.


(Jakarta, 6/10/2014 6:14:31 AM)

Ilalang dan Kamboja Berkisah Kepada Angin (by : Dewi Nurhalizah)

kurentang tangan
kangkang kaki
tatapi diri
hanya
nafsu bergulung
taifun menghempas
bundas tak temu impas
sedang laut bertepian
gunung berlembah dan riam
sedalam jurang masih punya dasar
hanya anganingin zona tak bertuan
lamunan tanpa alamat
persawangan gelap

rentang tangan
rapatkan selangkang
kaki segaris lurus ubun
tatapi diri
adalah titik temu
dua garis berpotongan
kalbu, letak cinta itu
sempurnanya cahaya
habluminallah habluminannas
luas padang hakekat
ketika kaki berpijak kuat
cengkeram tanah persemayaman
dan sejauh rentang tangan kanankiri
sebentang hampar paparan kasih sayang
ubun memilar langit gerbang hakiki
pintu yang tak mengenal materi
gerbang cahaya kembali
satu dalam cahaya
Sang Izzati

di ujung perjalanan
ketika kedua tangan telah bersedekap
kaki dan kepala segaris dan sejajar tanah,
rebah
hanya ilalang dan kamboja
berkisah kepada angin
tanpa suara

(Malang, 062014)

Tamsil Yang Ditinggalkan (by : Shirley Idris)

Di sini
ada gema yang kembali
dasawarsa berkonfrontasi
dari sisi gelap bergegak gempita
yang mencengangkan dunia

inti modernisasi sering dilupakan
beranjak
berdesak
berdesah
dengan suara aneh
terlajak hanyut dalam nanar
menggelinjang ruh
bertamsil dosa
dalam peradaban yang ditinggalkan
untuk kita depani

berpuing mengosong harapan
menggenggam padah
kaku dalam fana

Shirley Idris
Jalan Faraday,
Pulau Mutiara
26052014
9.02pagi

Surat Terbuka (by : Hendro Susilo)

: teruntuk segenap bangsa dan warga negara Indonesia

Aku pilih Prabowo-Hatta
Kau pilih Jokowi-JK
Aku pilih Jokowi-JK
Kau pilih Prabowo-Hatta
Apa yang beda di sana?
Haruskah kita membenar-salahkan mereka?

Kita adalah Indonesia
Mereka pun Indonesia
Ternyata sama.

Sebelum hari itu tiba:
tanya hati tentang mereka
yakinkan pilihan pada mereka
ikhlaskanlah yang lain untuk mereka

Mari!
Bermartabat memperjuangkan hak
Beretika melaksanakan kewajiban

Ingatlah!
39 hari setelah itu
Kita dan mereka akan bersama
Mengumandangkan Indonesia Raya
Gegap-gempita menggemuruhi dada
Mengangkat tangan untuk Sang Saka
Dengan bangga!

Salam SUKARNO-HATTA

(Nusantara, 02 Juli 2014 HS)

Sebentuk Pantulan (by : Sukaryanta G. Utama)

Daun-daun hujan menebarkan aroma tanah
kabut air yang meniadakan engkau
kejilmaan yang ditiupkan angin
berhenti pada kemandekan, setara dengan apa?
Keabadian yang luput ditandai, meski cerna ini berulang
ketika aku sendiri gagal mematut di cermin air beriak
suara dari dalam air, suara ketenggelaman
suara terapung dan kebasahan senja,
hanya warna hujan dan matahari yang gagal singgah.
Derap-derap kuda waktu, menuju malam buntu
menuju aku tak tahu,
tapi bila kelak ini tersampai padamu
pada titik daun gugur, yang ditampung oleh sedihmu
lantas apa? Engkau kenali dirimu sendiri
yang sekarang tanpa aku,
dulu sebab apa kau menangis pada guguran ini?
Teka teki waktu yang tak sepenuhnya aku tahu
alangkah ringan langkah-langkah hujan
alangkah semua ini tak tersampai padamu
tetapi kenapa jatuh pilu?
Oh, kita ada dalam rahasia genggaman itu.
Kukenali dukamu, yang setara dengan dukaku sendiri
dalam hamburan malam berkeping-keping,
siapa memcoba memecahkan malam kebuntuan?
Buku-buku tangan terkepal kaku, hantamkan ini
pada kekosongan, pecah tak berdenting
hanya nyaring ini tersampai, wujudmu lekas
membentuk pudaran.
Kabut cahaya air, kilat yang menjilatkan lidahnya
pada kekempalan sebatang ara,
burung-burung berjatuhan, sang penanam benih-benih.
Kutandai ini sebagai ketiadaanmu,
kutunggu apa yang akan ditumbuhkan malam
kebangunan dari mimpi, penjelmaan kau dari tiada?
Berdiri kau di situ laksana pantulan bayangku.


(Jakarta, 6/22/2014 8:36:09 PM)

KALI INI (by : Oscar Amran)

kali ini kutundukkan jiwa
bukan kepala
doa-doa mencari jalannya
tak lagi mengurai keluh
aku akan menjadi gelombang
di perahu sendiri

(Bogor, akhir sya'ban 1435 H)

Menggigil di Tepian Jelang Malam (by : Dewi Nurhalizah)

menggigil di tepian
bayang senja cakrawala
lengkung jingga remang di kaki langit
ketika asyik lengganglenggok pada pentas tari topeng
wangi dupa setanggi semribit dan damar meredup mobatmabit

drama mimik digelar
berulang kumainkan ekspresi semu
tentang hidup kelabu sesekali merah jambu
kukibas pelangi dekap erat kilau warna hitam
sandiwara di depan mata dan ceruk terdalam dada
melengking tanpa suara genggam senyap merayap diam-diam

getar tepi sore jelang malam
kesima rasa buatku terpelanting
dan layar pentas tiba waktu diturunkan
aku berpaling tak sempat tahu arah mata angin
hanya sesaat kulihat ekor senja antar warna kelam
sebelum bawaku hilang pada luasan sunyi yang dalam

(Probolinggo, 072014)

Pohon Cahaya (by : Barep Pangestu)

Dalam gegap-gempita gelap
Cahaya itu terus tumbuh
Melukat akar tertanam dalam-dalam
Semarak emas mengalir ke segala penjuru
Hingga menuju jemari dedaunan
Sekuncup demi sekuncup daun hitam
menjadi perak
Terus menyerap remang-remang


Pohon cahaya itu bersinar hingga batas semburat
Bernaung kunang-kunang mendulang warna
Cahaya kunang-kunang pula yang menumbuhkan pohon itu

Terus tumbuh, semakin gulita di ujung semburat
Ah, cahaya itu mulai bosan
Tak cukup remang-remang terserap
Tak cukup percikan kilat hinggap
Namun bila tirai-mirai tersibak, pohon cahaya akan hilang

(Lampung Timur, 22-27 Juli 2014)

Anak Sekolah dan Daging Sapi (by : Oma Neska)

Duri duri mencari cucuk
yang hilang ditelan daging mentah
sapikah atau babi itu?
keduanya sama segar sama empuk
berdarah merah
berlemak putih

“ Itu bendera negara kami !“
teriak ragu anakanak sekolah
yang baru pada pulang dari Warnet
mengunduh video Miyabi
- yang panas -
seperti daging anjing

Darah mereka mendidih
dijerang gairah hubungan bebas
positif negatif
- yang terlarang -
“ Apa beda daging sapi, babi atau anjing?“ Teriak mereka
“Sama daging, sama hangat, sama empuk;
kenapa dibedabeda?”

Mereka tahu
sang Bapak juga sama, tak bisa membedakannya
lalu pada siapa lagi akan meniru?
Sedangkan para Guru sibuk mendulang nasi
( dari pintu samping kantor )
dan pak Ustadz terpaksa harus mencari ilmu lagi,
yang hilang ditelan dilema ganda
dogma dan fanatisme, di satu sisi
plus dompet tebal, di sisi lain

Duuh ..., anakanak merah putih
gamang antara memegang buku doa dan saluran internet
sementara
jaringan internasional berseliweran
menyajikan robot bugil dan perempuan bayaran
bergelut melawan malaikat muka putih

Purapurakah itu,
atau sungguhan?

Lihatlah
sapi, babi dan anjing
hanya berdiam diri

Siapa peduli?

(31juli14)

Selagi Palestin Tidak Tegak di Bumi Tuhan (by : Abang Patdeli Abang Muhi)

Israel mengganas lagi
membunuh sesiapa sahaja
tanpa belas kasihan
tanpa simpati
tanpa perikemanusiaan
Semenanjung Gaza kembali bermandi darah
mayat-mayat bergelimpangan
jasad-jasad berhamburan
rumah-rumah berkecaian
ibu meratap pilu
isteri menangis sendu
wanita meraung-raung sedih
anak-anak kecil merengek ketakutan

Dunia sekali lagi bangkit berdemonstrasi
membantah, mengecam kekejaman Yahudi
tanda simpati yang tidak pernah mati
kendati keganasan Israel tidak terampun
waima kebinatangan Zionis tidak termaafkan

Israel yang laknat
dan sesat itu
tidak cukup dengan kutukan
tidak cukup dengan desakan
tidak cukup dengan kecaman
tidak cukup dengan rasa bimbang PBB
tidak cukup dengan simpati
dan ihsan warga dunia semua bangsa
tidak cukup dengan demonstrasi
dan unjuk rasa
tidak cukup dengan laungan
jeritan , dan teriakan
Nyah Israel dari bumi ini!
Pulaukan Israel!
Israel Pengganas!
Jahanam Israel!
Laknat Israel!
Selamatkan Palestin!
Hidup Palestin!
kerana Israel pengganas yang maha berkuasa
kerana Israel penjarah yang maha durjana

Selagi syaitan Amerika
dan dajal NATO ada di belakang Israel
selagi Hamas dan Fatah berbalah
selagi negara-negara Islam bertelagah sesama sendiri
selagi umat Islam berteka-teki
selagi OIC tidak bersatu hati
selagi Palestin tidak beraskar
dan bersenjata perang yang canggih
selagi itu Israel laknat akan bermaharajalela
dan tidak akan tunduk kepada siapa-siapa
selagi itu mereka akan mengganas di bumi Palestin

Apalagi seluruh dunia kini tunduk takluk
dan terus terbelenggu dek pengaruh ekonomi Yahudi
KFC, McDonald, Starbucks , Coca-cola, Filem Holywood
hatta, makanan, hiburan dan fesyen ala Israel – Amerika
sudah mendarah-mendaging
dalam jiwa
dalam hati
dalam fikiran
dalam semangat
dalam budaya
dalam hidup
umat Islam sedunia
lalu menjadi senjata pembungkam umat Muslim
yang menjadikan mereka hanya bijak berkata-kata
cuma petah berhujah pintar beretorik
sekadar pandai mengartikulasikan metafora hak asasi
tetapi Israel tidak sedikit pun peduli
tidak terusik barang sekelumit pun kerakusan mereka
tidak tersentuh langsung naluri kemanusiaan mereka
malah makin angkuh dan takbur
makin garang dan ganas
makin kejam dan sadis
kerana mereka tahu umat Islam
yang lemah dan tidak berdaya
yang terjajah minda dan jiwa
yang terpecah dan terperintah
tidak bisa berbuat apa-apa

Maaf atas kelancangan aku
bukan aku tidak sayang akan Palestin
bukan aku tidak suka akan saudara seislam
bukan aku tidak sudi untuk ikut bersimpati
bukan aku melecehkan perjuangan kaum Muslim sejagat
tetapi aku masih tidak yakin
suara-suara kemanusiaan kita akan didengar
pekik lolong hak asasi kita akan dipedulikan
laungan bantahan dan kutukan kita akan diendahkan
lalu aku jadi takut
yang kita akan selama-lamanya
menjadi anjing yang menyalak bukit
bukit tidak runtuh-runtuh
tapi kita pula yang keletihan
kita pula yang kekecewaan
kita pula yang dimomokkan

Apa pun, perjuangan tetap kita teruskan
selagi nyawa dikandungkan badan
selagi Palestin tidak tegak di bumi Tuhan.

Pangkalan Hulu, Perak.
17 November 2012

Warisan (by : Andri Pituin Cianjur)

adik kakak saling menjambak
berebut rambut dibelah tujuh
katak botak loncati kepala
terkencing dan tertawa
membakarkan suluh

aku bercermin di rawa-rawa
menyaksikan anak katak
bermain perang lumpur
mereka riang gembira
setelah menelen tempurung
yang bertahun lelah mengurung

sayang
sawah kita
masih saja gundul
berharap padi merunduk
atau tumbuh katangkatang
yang menghijau di pematang
sebagai pemulas pucat ketiadaan

kebun kita pula
hanya alang
dan putrimalu
memanjangkan jemari
lalu tersenyum
setinggi dada
berharap disiangi
sebelum petang tiba
menjemput usia

rumah yang berlumut tiangnya
kusen-kusen pintu merayap
langit-langit merangkak
lantai bersolek codak
kamar terhimpit pengap
kasur kapuk yang sumbing
terbatuk-tabuk menabur sesak

nisan pusara terbelah
dauanan gugur menziarahinya
nama-nama mengelupas
sekedar alakadarnya
tak tumbuh pun kemboja
tempat peneduh do'a-do'a
sesempatnya terik
di bulan kemarau
dan hujan
di bulan risau
masuk ke celah sepi

meski semua mendung
emak dan bapak
damailah di sana
takkan terjual rasa iba
maupun pusaka
demi sehelai
kata
yang tertinggal
di kotak persegi

(Jember, APiC. 11-08-2014.)

Senyum Di Balik Puing (by : Eko Putra Ngudiraharjo)

Terdengar jerit, tangis dan dentuman bombardir. Sesaat kemudian sepi, hanya gerak puing bergeser; bangunan telah hancur, serupa tanah dan aspal yang tak lagi datar.

Indah senyumnya: malaikat kecil di garis GAZA, sepulang bermain dan kembali hanya terdengar nama. Senyum itu, bersembunyi di balik tumpukan urat-urat nadi kota yang kini tercabik.

"Di mana kamu, nak?" Embun mengalir, bukan untuk pucuk daun.
Bahkan jasad tak lagi ada, tulang yang seharusnya bersisa ketika mencampur tanah, ini benar-benar musnah.

Sekejam apa, peluru-peluru dan ledakan itu? Hingga semua hanya tersisa nama yang kembali ke istana dan senyum di balik puing, tak ada lagi selain itu.

Hanya bayangan senyum di balik puing, mereka bercanda dan bermain; aroma anyir darah mewarnai udara di garis GAZA.


(Sukoharjo, 12 Agustus 2014)

Perempuanku (by : Okta Dalam Goresan)

Aku bukakan pintu, pada daunnya menyibak angin
Anakanak rambutmu basah menumpuk keringat dingin

Masih aku ingat
Kala engkau datang dalam gegas
Kalut cemas
Matamu nanar segala arah
Berputar

Siang membanting malam
Kau yang berjalan menunggang angin
Meniup api pada bilik-bilik tak berpintu
Lakumu!
Pengap sekehendak hati
Pinggan-pinggan pecah jatuh
Demi inginmu melempar gemuruh
Berdegupku dalam gugup ada yang hilang di romanmu, perempuanku

O, seakan kita melupa ciuman pertama
Bergairah lalu pudar pada ranjang duka
Raib dari hari ke bulan, tiada o tiada

Ohai, perempuanku
Aku bukakan pintu kali kedua
Pada senja memerah saga
Bukan pada malam buta
Datanglah ini kali yang kedua
Maafku tetap menjadi raja

(Payakumbuh, 070814)

Merdekanya Airmataku (by : Bunga Pena Hbasrie Btmvarao)

Bu,
adakah yang lebih merdeka melebihi kemerdekaan airmataku ini, ibu

Dengarlah paduan suaranya yang sendu, lihatlah tariannya, bu
Bersama lagu keroncongan yang dinyanyikan oleh perut pengemis kecil di simpang lampu merah itu, lihatlah bu, betapa bebasnya ia menggerimis

Selamat ulang tahun bu, 69 tahun sudah usiamu
Kata tukang parkir di pasar itu, hari ini adalah hari yang teramat indah

Katanya hari kemerdekaan ini adalah hari kebebasan
Akan banyak kendaraan yang parkir dan ia bebas untuk menaikkan tarif
Di samping itu bu, hari ini ia juga bebas untuk memasukkan semua retribusi yang dipungutnya itu ke dalam kantongnya sendiri.

Karena hari ini adalah hari bebas merdeka
jadi katanya, hari ini ia bebas untuk tidak menyetorkannya

Selamat ulang tahun bu, dirgahayu
Semoga hari esok, takkan kudengar lagi lagu-lagu itu
Lagu-lagu keroncongan sendu, dari perut-perut yang kelaparan itu

(Batam, 17 Agustus 2014)