Dinding batu dengan jendela membingkai ke dalam
pada kegelapan dinding-dinding batu
pada hitam cahaya: dengan cahaya
tubuh wanita yang setengah berdiri dan bertahan pada lutut
membentuk pinggul tubuhnya
meraih tubuh telanjangnya
menyembunyikan wajah, dada, pusar, pangkal paha dan segala yang disembunyikannya
dengan rembyak hitam rambutnya,
cahaya putih dari tubuhnya.
pada kegelapan dinding-dinding batu
pada hitam cahaya: dengan cahaya
tubuh wanita yang setengah berdiri dan bertahan pada lutut
membentuk pinggul tubuhnya
meraih tubuh telanjangnya
menyembunyikan wajah, dada, pusar, pangkal paha dan segala yang disembunyikannya
dengan rembyak hitam rambutnya,
cahaya putih dari tubuhnya.
Pada tangan yang merentang tubuh
merintang jendela dengan
cahaya tubuh dan bingkai gelap yang memancar keluar
seolah ingin menyaingi tinggi bulan.
Seumpama ia menyibak rambutnya,
seumpama wajahnya mengangkat rambutnya
menggerai punggungnya,
seumpama ini adalah gerhana wanita
dengan tubuh bulannya di jendela
di atas malam yang sempurna.
Setiap detik ingin lebih mengurainya
merintang jendela dengan
cahaya tubuh dan bingkai gelap yang memancar keluar
seolah ingin menyaingi tinggi bulan.
Seumpama ia menyibak rambutnya,
seumpama wajahnya mengangkat rambutnya
menggerai punggungnya,
seumpama ini adalah gerhana wanita
dengan tubuh bulannya di jendela
di atas malam yang sempurna.
Setiap detik ingin lebih mengurainya
di sunyi tubuhnya.
Musti malam bertandang, dalam tembang
dalam pungguk lelaki ingin memetik bulan.
Atau lebih hanya bayang yang termangu
di geridip jendela itu.
Seumpama ini sajak yang tak terbaca
meskipun sungguh terbaca,
yang melahirkan sunyi dan di atas semua ledakan-ledakan ini.
Bangun setiap kali dari runtuhannya sendiri
menyulih wanita sekali lagi
yang memancar di gelap jendela.
Tiba saatnya lelaki itu memungut puisi
yang luberi. Cahaya wanita tinggi di kilau
bulan di gelung hitam rambutnya
dan ia akan pacakan tusuk konde
untuk mimpi dan apa yang dilihatnya.
Untuk tubuhnya yang lebih bercahaya.
(Jakarta, 1/9/2014 5:15:11 AM)
Musti malam bertandang, dalam tembang
dalam pungguk lelaki ingin memetik bulan.
Atau lebih hanya bayang yang termangu
di geridip jendela itu.
Seumpama ini sajak yang tak terbaca
meskipun sungguh terbaca,
yang melahirkan sunyi dan di atas semua ledakan-ledakan ini.
Bangun setiap kali dari runtuhannya sendiri
menyulih wanita sekali lagi
yang memancar di gelap jendela.
Tiba saatnya lelaki itu memungut puisi
yang luberi. Cahaya wanita tinggi di kilau
bulan di gelung hitam rambutnya
dan ia akan pacakan tusuk konde
untuk mimpi dan apa yang dilihatnya.
Untuk tubuhnya yang lebih bercahaya.
(Jakarta, 1/9/2014 5:15:11 AM)