Kamis, 21 Agustus 2014

Warisan (by : Andri Pituin Cianjur)

adik kakak saling menjambak
berebut rambut dibelah tujuh
katak botak loncati kepala
terkencing dan tertawa
membakarkan suluh

aku bercermin di rawa-rawa
menyaksikan anak katak
bermain perang lumpur
mereka riang gembira
setelah menelen tempurung
yang bertahun lelah mengurung

sayang
sawah kita
masih saja gundul
berharap padi merunduk
atau tumbuh katangkatang
yang menghijau di pematang
sebagai pemulas pucat ketiadaan

kebun kita pula
hanya alang
dan putrimalu
memanjangkan jemari
lalu tersenyum
setinggi dada
berharap disiangi
sebelum petang tiba
menjemput usia

rumah yang berlumut tiangnya
kusen-kusen pintu merayap
langit-langit merangkak
lantai bersolek codak
kamar terhimpit pengap
kasur kapuk yang sumbing
terbatuk-tabuk menabur sesak

nisan pusara terbelah
dauanan gugur menziarahinya
nama-nama mengelupas
sekedar alakadarnya
tak tumbuh pun kemboja
tempat peneduh do'a-do'a
sesempatnya terik
di bulan kemarau
dan hujan
di bulan risau
masuk ke celah sepi

meski semua mendung
emak dan bapak
damailah di sana
takkan terjual rasa iba
maupun pusaka
demi sehelai
kata
yang tertinggal
di kotak persegi

(Jember, APiC. 11-08-2014.)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar