Aku bukakan pintu, pada daunnya menyibak angin
Anakanak rambutmu basah menumpuk keringat dingin
Masih aku ingat
Kala engkau datang dalam gegas
Kalut cemas
Matamu nanar segala arah
Berputar
Siang membanting malam
Kau yang berjalan menunggang angin
Meniup api pada bilik-bilik tak berpintu
Lakumu!
Pengap sekehendak hati
Pinggan-pinggan pecah jatuh
Demi inginmu melempar gemuruh
Berdegupku dalam gugup ada yang hilang di romanmu, perempuanku
O, seakan kita melupa ciuman pertama
Bergairah lalu pudar pada ranjang duka
Raib dari hari ke bulan, tiada o tiada
Ohai, perempuanku
Aku bukakan pintu kali kedua
Pada senja memerah saga
Bukan pada malam buta
Datanglah ini kali yang kedua
Maafku tetap menjadi raja
(Payakumbuh, 070814)
Anakanak rambutmu basah menumpuk keringat dingin
Masih aku ingat
Kala engkau datang dalam gegas
Kalut cemas
Matamu nanar segala arah
Berputar
Siang membanting malam
Kau yang berjalan menunggang angin
Meniup api pada bilik-bilik tak berpintu
Lakumu!
Pengap sekehendak hati
Pinggan-pinggan pecah jatuh
Demi inginmu melempar gemuruh
Berdegupku dalam gugup ada yang hilang di romanmu, perempuanku
O, seakan kita melupa ciuman pertama
Bergairah lalu pudar pada ranjang duka
Raib dari hari ke bulan, tiada o tiada
Ohai, perempuanku
Aku bukakan pintu kali kedua
Pada senja memerah saga
Bukan pada malam buta
Datanglah ini kali yang kedua
Maafku tetap menjadi raja
(Payakumbuh, 070814)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar