Selasa, 26 April 2016

BORNEO (by: Okta Piliang)

Rumah betang menjulang mantra-mantra pada Jubata, siang ditampi ibu-ibu. Boko dan pulut riuh dalam rapalan syukur, dayak saham batamu padi ladang. Ini negri mimpi di ukir pada ulin
Hutan-hutan berawa, gambut dalam wujud, damailah mereka. Di kandang ayam, babi. Di ladang padi dan ubi, dayak mengayak zaman dalam rupa tentram
Anakanak, melompat mimpi berlantai panjang rumah betang, petang adalah haru, pagi adalah harap, malam adalah ritual pada lambang kayu yang diukir, gerbang dan rumah betang di sisi hutan.

(1 Desember 2014)

Istanamu: Melati (by: Pena Hasan Bsaidi)

dalam hatiku kalau kau mau
dalam mimpiku bila kau sudi
dalam do'aku senantiasa
sungguh sekian lama sudah aku sedia
dan kau tahu, untukmu pintunya akan selalu kubuka
masuklah melati, sekedar mampir pun tak apa
sekian bunga di dalamnya
sekian doa dan harapan, sekian angan dan impian
kurangkai kuhimpun untukmu rindu
pilih saja yang kau suka, petik saja yang kau mau
atau kalau kau memang tiada yang berkenan
berikan tanda, campakkan saja
sungguh melati, sekian lama pintu itu menanti
sekian lama ruang itu kosong, sebuah ranjang lapuk di sudutnya
ranjang yang sering meringis saat gerimis
di dalam juga penuh lukisan waktu, gambaran hati dan luka rindu
sebuah ruang dalam hatiku, dengan telanjang melati, masukilah
milikilah sepenuhnya, selamanya kau kau mau
Batam, 01.12.2014

Tuhanku (by: Tbm Pahlawan Suntari)

Tuhan..
Disini, diantara jiwaku yang terkoyak
masih ada Kau yang mendengarkan ceritaku 
dengan butiran tasbih di tanganku.
Diantara sajadah yang terbentang
Dan dalam sujudku..
Aku percaya Kau ada disini.
Menemaniku, hatiku dan jiwaku.
Aku percaya Kau tidak akan pernah lelah
untuk bersama Doaku dan harapanku.
Walau aku tahu jiwaku penuh dengan dosa
yang telah kulakukan
tanpa atau dengan kesengajaanku.
Tuhan
Aku percaya Kau ada disini..
Aku bercaya Kau bersamaku .
Aku ingin berada dalam lindungan Mu
Dan akan selalu kubisikkan
Bahwa aku selalu merindukanMu

Akhir Januari 2015

Berdebu (by: Rahmad Koto)

Ia bagai embun
Sebelum pagi membakar
jarum mulai berdetak
Ia berjatuhan turun
Ia bukanlah putih
Saat tanah mencumbui
Lenyap dalam bumi
Hilang tak berjejak
Sekarang ialah debu
Selalu tertiup angin
Buram pada cermin
Lupa akan wajah
Ia selintas bayang
Raut tak berupa
Perlintasan terlihat kelam
Hitam bergelimang tanah

BENGKULU.13122014.

Ronggeng Kampus (by: Sukaryanta G. Utama)

Jangan kaujual pahamu seharga paha ayam, ayam kampus.
Sebab pangkuanmu seluas langit dan bumi, seumpama surga
musti hargamu setinggi nikmatmu, seberapa tinggi nikmatmu, nikmatmu terbeli olehku dan bagiku dua sungai yang mengangkang, sungai komer dan sungai susu, dari celah pangkal pahamu dan aku ingin tercelup ke dalam arus pusaran itu, tenggelam lebih dalam dan melambung lebih tinggi, aku beli harga tertinggimu,
sebab kau punya yang aku mau dan aku sungguh maha pemurah bagimu.
Jari-jarimu yang runcing, dulu sepi kini kumeriahkan dengan cincin;
sebab kuinginkan belaianmu, biar kupilih ia gemerincing menari
menenung hari yang lubuk,
kupangil kau Susi hari ini, esuk adalah Niomi dan lusa adalah Ismi dan entah siapa lagi
sebab kusuka kau berganti nama barganti rupa berganti tubuh berganti gaya berganti upaya,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Biar kutindik pusarmu dengan jarum jantan, dan kupasangan cincin selingkar mata, biar kian meriah tarian perutmu gelanggang paling puncak, biar kian pandai meninggi dan merendah memangil semua milik anak-anak ombak, menghempas dan terhempas karang tubuh melolong camar dan seganas belut listrik, arus menyengat ujung syaraf,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Tubuhmu selicin dirimu,
melingkar-lingkar tubuh belutmu melingkar tubuh kakuku
melingkar aku menyaingi gesit lingkaranmu;
mainkan lingkaran-lingkaran,
lebih licin lebih meliuk lebih lincah lebih ganas lebih elak, lebih pikat.
Kuurapi jenjang lehermu dengan kristal-kristal emas dan kupuja kerlipnya seupaya pendakian seupaya pencapean,
dan kuluberi dadamu dengan bintang krital paling gemerlap.
Seluas bidang dadamu kumainkan tarian
kampak-kampak lidah.
Datangkan pelupuk matamu ke mulutku, padanya kuciumkan maskara paling lentik, sebab kusuka matamu yang sangsi, Asmi, entah kusebut kau siapa lagi.
Mainkan ronggeng-ronggeng.
Kubelai rambutmu seperti kaubelai diriku
kubelai dirimu kausibakkan rambutmu,
tersibak sudah wajahmu lenganmu dadamu perutmu pusarmu pahamu pertemuan dua sungai itu, tersibak sudah ia, sedalam pusarannya sepekat lembahnya seumpama gairahnya pasangkan gelapnya,
sepasang mata nyalang, nanar sudah.
Datang sebelum mata terpejam
akan sehangus arang pelupukku,
sekarang kau bernama Ani, bukan?
Mainkan lidah-lidah
lidah kata, katakan yang tinggi-tinggi katakan yang lunak-lunak katakan dari tempat yang tinggi katakan musti hanya untuk sejenak, biar ia menagih lebih mau lagi, sejangkauan lagi
sepeluk lagi baru terjangkau kau sudah
alismu Susi pelupukmu Niomi matamu Ismi hidungmu Asmi bibirmu Ani dahimu Surti lehermu Nani dadamu Palupi perutmu Indri pusarmu Sukoci pahamu Narmi betismu Larasati talapakmu Astuti lembah kalian seluas kata sejaring makna, seluput puisi.
Kupanggili nama-nama kalian
nama-nama terpanggil sudah.
Sungai komer sungai susu
putih mengelagak menyala
sepusaran api
terpecik air
sepusaran air
terjilat api
sejurus puisi, belum
seikat pangkal paha, sudah.
Kuteriakkan nama-nama kalian
nama-nama yang nyaring sudah.
Nyanyikan ronggeng-ronggeng.
Hari musti turun ke kampus
hari mengejar jam-jam kuliah,
melangkah jauh ke masa depan,
mengetuk pintu gerbang.
Dan telah kita agendakan pertemuan yang akan datang
sekali waktu kuajak kau ke gelanggang
dari sebagian hadiah atau meja perjamuan meluluskan perundingan bisnis politik yang saling menjegal, kotor dan bau darah, kau sebagian dari pelaku yang kauomongan tinggi-tinggi di kampus, demikian kau aku manipulasi dalam arena ini,
mainkan uang-uang haram.
Kau kuangkat ke lebih tinggi
tapi kau juga harus membayar hargamu sendiri.
Kita cuci uang-uang haram
kita mainkan ronggeng-ronggeng.
Sekali aku pernah pertanya, tipmu berapa untuk makan pagi makan siang,
untuk makan malam sudah?
Kita mainkan ronggeng-ronggeng
kita pungut uang-uang haram,
kalian yang berdiri di mimbar-mimbar kampus
tidak ikut ambil bagian.
Biarkan kami mainkan ronggeng-ronggeng

Yogyakarta, 8/15/2013 5:47:46 PM

Pertanyaan Pelupa (by: Pena Hasan Bsaidi)

Kemana lagi akan mencari, tanyamu
mata hujan telah rata, langkah telah nyatakan lelah 
Namun untuk kembali kita enggan
jarum jam telah melewati bosan, katamu
tapi kita masih asyik dengan semua omong kosong ini
dengan segala angin, kita larut berhanyut-hanyut
telah kita saksikan musim berganti,
kadang di depan mata kita, dedaun luruh tak kenal kenal warna
hijua kuning semuanya gugur, namun tentang apa yang dikhabarkan langit itu
kita masih acuh tak acuh
dan betapa sering tanpa kita sadari
kita asyik menyobek kalender demi kalender
lalu tanpa sedikit sesal, kita lempar ke tong sampah
hingga tanpa kita duga, tibalah kalender terakhir kita
, tibalah saat meregang tegang
dan pasti setelah itu
kita akan tahu sepenuhnya
kemana seharusnya kita menuju
setelah itu
kita tak perlu bertanya lagi
hanya perlu menjawab saja

siapkah kau diriku, Batam, 27.11.2014

Nama Alias (by: Soehanggono)

Perampok dan koruptor sama-sama kotor
Mencuri dan penjegal sama-sama menyakiti hati
Selalu ada nama lain alias dalam dunia kejahatan
Perampok merampas dengan senjata tajam
Koruptor merampas dengan wajah bertopeng
Semua adalah kejahatan kejam yang harus dirajam
Masuk penjara walau tak sama fasilitasnya
Masuk hukuman walau tak sama waktunya
Semua beda padahal sama-sama kejahatan
Koruptor memakan nasi rakyat
Perampok merampas harta rakyat
Semua tak patuh dicontoh
Purworejo, 02 Februari 2015

Perisai Hati (by: Alex Tanjung)

Setan gentayangan
pada wajah malam
mengetuk kuburan
ajak mayat dendam.
"Bangun! Mari mengurun!"
pesulap ramai riuh
menutup telinga pagi
menghipnotis ruh
provokasi geraman gigi.
"Bangkit! Mari menggigit!"
Tuhan konon yang terlipat
akhirnya setan terlindas tempat.
Tuhan dulu yang tersandra
akhirnya pesulap terbekap mantra.
"Dar!"
Bergelegar!
Gunung nun belum berdatar.
"Trang!"
Berdentang!
pedangpun jatuh terlentang.
: perisai sabar--hati terang.

Ciputat, 13052015.

Balasan Alasan (by: Soehanggono)

Hanya dengan alasan manusia berkilah
Menolak tuduhan dari manusia lain
Pandai bersandiwara karena ada sutradara drama
Beginilah tontonan televisi akhir-akhir ini
Para politisi bersilat lidah
Saling lempar omongan
Berbantahan sendiri tanpa ujung
Balasan alasan itu analisanya
Tercium dari cara cari alasannya
Yang lalu dibongkar lagi
Di cari-cari kesalahannya
Lalu dibui bentuk balas dendam
Beginilah negeriku
Purworejo, 05 Mei 2015

Senja Kuning di Atas Pohon Belimbing (by: Riswo Mulyadi)

kupanggil-panggil para pemburu pulang
menyerahkan hasil buruan ke kampung malam
di mana sunyi menunggu mereka di tapal batas
:sudah waktunya pesta
kataku
lepaskan penat , seka keringat
menarilah!
menyanyilah!
senja kuning di atas pohon belimbing
tanda pesta akan dimulai
bergegaslah, sebelum matahari benar-benar pulang

Desember 2015

Tsunami (by: Genkidama Hendi)

Semesta luka mengguncang nurani dunia
Alam murka
Tsunami mengusung keranda duka
Merumus tangis pilu, menyayat sumbu x dan y
Bilangan hati yang sekarat di ujung surga bencana
Bagai kiamat frekuensi pagi
berskala gempa yang dahsyat
"Siapa yang mensubtitusikan gemuruh ombak di dalam tidur manusia?
hancur dan binasa teorema mimpi-mimpi!"
Tsunami memporak-poranda Tanah Rencong
Volume gelombang laut tumpah ke permukaan bumi
Riak air memburu riuh kaki yang berlari selamatkan diri
Jiwa-jiwa tereliminasi terhempas ke angkasa
Terkubur dan tenggelam
Mayat-mayat berserakan di jalan,
di reruntuhan dan di selokan
Berselimut kafan berbaris di emperan toko
Mereka histeris kehilangan sanak saudara
Lingkaran kebersamaan menjadi linier kepedihan
Sepanjang kehidupan di hari-hari kelam
Di titik tenda-tenda pengungsian
Terangkum wabah penyakit di koordinat kelaparan
Didominasi dari jasad yang membusuk
Dan dikerumuni belatung
Bereaksi ribuan para pengungsi
Semua telah binasa tiada tersisa
Ketika jari Tuhan menyentuh dunia
Petik hikmah sadari grafik fungsi kekuasaanNya
Karena hidup hanya sekejap mata
Cikarang, 30-12-2015

Soneta Nyanyian Ilalang (by: Netty Tanjung)

Rembulan telah sembunyi entah ke mana
Pagi hadir mulai mengikis mimpi semalam
Cerah tiada kelam
Pandang hanya sekilas pana

Bunga ilalang mulai tampak
Melambai setelah tercurah hujan
Bibit-bibit tertiup angin berjatuhan
Merenda tunas nan akan terkuak

Mungkihah setelah melihat pelangi?
Warna-warni membias kembali
Wah, ilalang tumbuh di sana-sini

Nyanyian ilalang desau merebak angkasa
Hanya bisikan ternyata dia tak kuasa
Begitukah hari-hari merangkul asa?

Bekasi, 29012016

Kaum yang Kasutnya Ditanggalkan Orang (Dr. Tri Budhi Sastrio)

Pernah ada masanya bagaimana kebiasaan adat budaya
Dicatat laksana Sabda Surga hingga akibat mengikatnya,
Bisa saja dahsyat luar biasa dan jauh di luar nalar logika.
Bahkan di tangan kaum picik bisa diubah menjadi senjata
Tak hanya guna menyerang, tapi juga untuk mempedaya.
Sasarannya juga tidak tanggung-tanggung, bisa luarbiasa.
Coba bayangkan seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga,
Diuji dan dicoba kejeniusannya menggunakan adat dunia.
Adat yang seharusnya hanya berlaku di dalam dunia fana 
Pada segelintir manusia yang merasa paling kuat berjaya
Ditanya bukankah hal ini juga harusnya berlaku di Surga?
Masalah kuasa dan harta, masalah pewaris sah di dunia,
Yang juga menjadi inti dasar pertanyaan penuh tipu daya
Direkayasa sedemikian rupa dengan suatu tujuan utama
Mempermalukan Sang Pewaris Kuasa Dunia dan Surga.
Tetapi bagaimana bisa para kecoa yang penuh tipu daya
Berhasil mengecoh Sang Mesias dan Penyelamat Dunia?

Apabila mereka yang bersaudara tinggal bersama-sama, 
Lalu seorang dari pada mereka itu mati tinggalkan dunia 
Dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, hanya wanita,
Atau bahkan jika dia sama sekali tidak mempunyai putra, 
Maka janganlah sang isteri menikah dengan seorang pria
Di luar lingkungan keluarga, salah satu saudara suaminya 
Haruslah hampiri dia, meminta, kemudian mengambil dia 
Jadi isterinya, dengan demikian tunai sudah adat budaya
Lakukan kewajiban pernikahan ipar bagi seorang saudara.
Adat budaya ini lazim dan lumrah, karena masalah nama
Dan juga harta menjadi sangat penting untuk tetap dijaga 
Bagi seorang pria yang jadi inti pimpinan kepala keluarga.
Harta tak boleh sirna, nama keluarga tak boleh putus jeda.
Adalah tugas kewajiban sesama saudara, jaga ini semua.
Kelak jika ia berhasil mendapatkan putra, mulai dari nama,
Sampai hak warisi harta, hendaknya tetap milik si saudara.

Entah mengapa pada itu masa, ya sampai sekarang juga,
Masalah nama garis keturunan kadang penting luarbiasa.
Tidak boleh terputus, harus dijaga gunakan segala upaya.
Begitulah jika kaum pria merasa paling unggul segalanya.
Padahal jika realita dunia dipadu dengan nalar dan logika 
Yang dijadikan tolok ukurnya, nama garis keluarga wanita 
Juga tak kalah hebat perbawanya, tetapi dulu itulah fakta.
Lalu bagaimana jika para saudara yang lebih dulu pralaya
Menolak mengambil adik atau kakak ipar sebagai istrinya?
Pertama ia akan dibujuk oleh para tetua adat dan agama.
Jika bujuk rayu berhasil, maka masalah oke, yang tersisa
Hanyalah takdir dari Sang Maha, putra penyandang nama 
Bisa tidak dilahirkan dari perkawinan ipar atas nama cinta.
Jika rayuan bertepuk sebelah tangan, masih usaha kedua.
Jika tetap gagal sia-sia, wanita janda punya hak istimewa.
Pertama tentu boleh marah jika ia memang keras maunya.
Kalau marah tak suka, atau diam-diam malah hatinya lega
Dia tetap harus tunaikan satu tindakan keras adat budaya,
Melepas kasut sang saudara ipar yang menolak menjaga
Ya harta, ya garis keturunan, si mendiang suami tercinta,
Sambil tentu saja ia tidak lupa meludah tepat di wajahnya.
Bagi seorang pria diludahi wajahnya oleh seorang wanita
Tentu merupakan penghinaan luar biasa yang tiada tara;
Tetapi yang luar biasa, dilepas kasut dalam hidup tersisa.
Ini tidak hanya menyiksa tetapi juga aib hina melukai jiwa.
Karena sejak itu sang pria akan diberi label api membara 
‘Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang’, dilepas wanita.

Itulah adat dan budaya, itulah ketetapan bagi satu bangsa
Yang konon dipilih oleh Sang Maha untuk mewarisi dunia.
Adat ini tentu saja boleh dirawat dan dijaga, tidak apa-apa.
Tetapi manakala ini adat dunia diguna untuk mempedaya
Seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga, lainlah ceritanya,
Apalagi nuansa jebakan licik serta rekayasa amat terasa,
Karena ditanya dalam kaitannya dengan tujuh bersaudara. 
Bagaimana status perkawinan ini keluarga kelak di Surga?
Siapa yang berhak jadi suami utama duduk di meja pesta?
Suami pertama, ataukah yang kedua, ataukah yang ketiga,
Ataukah yang terakhir, atau yang mana, itu pertanyaannya.
Sang Putra jenius cerdas luar biasa, Ia jadinya berang juga. 
Kamu sesat sebab kamu tak mengerti Kitab Suci, kataNya, 
Maupun kuasa Allah! Karena waktu tiba kebangkitan mulia 
Semua tidak kawin dan tidak dikawinkan seperti adat dunia 
Melainkan akan hidup kekal mulia seperti malaikat di sorga.
Jawaban ini menghentak langit, mengguncang hati dan jiwa.
Yang semula sibuk merencanakan rekayasa dan tipu daya
Akhirnya terdiam tak bisa bicara karena adat budaya dunia
Betapapun hebat, kuat, dan cermatnya dijaga tapi ternyata
Itu hanya berlaku di dunia, tidak di Surga, tidaklah di sana.

Ini baru satu adat budaya bangsa dunia yang ternyata juga 
Tak berlaku di mana-mana melainkan hanya sebagian saja.
Padahal manusia sudah terlanjur percaya, budaya mereka
Yang paling unggul dan cocok, hingga manakala berkuasa
Yang paling disuka, memaksa banyak orang tidak berdaya
Tidak hanya mengganti adat dan budaya tetapi juga agama.
Tak sadarkah mereka jikalau yang amat dirasa baik di dunia
Bisa saja justru salah mega dan berlawanan dengan Surga?
Bumi punya jalannya, langit punya aturannya, bisa berbeda.
Manusia punya adat budayanya, langit punya ketentuannya.
Saduki boleh punya adatnya, Putra Manusia punya titahNya.
Jika berbeda, tentu saja yang lebih berkuasa atas isi dunia 
Yang harus dijadikan suar cahaya panutan untuk berkarya.
Tak apa ada dalam kelompok hina dina timbangan manusia 
Asalkan masih layak menempati tempat mulia di pojok surga.
Ayo jadikan empati dan kasih pada sesama sebagai suarnya
Melayari samudera lautan derita yang masih jauh tepiannya
Agar selamat lintasi gelombang tak terhempas karang dosa.

Sidoarjo, 23 Februari 2016

Penantian (by: Okta Piliang)

cericit murai, punai di ranting pagi
mengepak sayap menjatuhkan embun
halimun usai angin mengantar ke ujung hutan
di dalamku, beranjak detak hingga ke hulu jantung
memompa diri
mencari kasihnya

cericit murai lagu yang tak usai
di dalamku, irama nadi sampai sanubari
memompa diri
mencari kasihnya

kepak punai nampak seadanya lakuku
meniti ranting hari
menderu di antara angin pergi dan kembali
nanti atau kini

di dalamku ialah pengertian dan penantian
kapan pulang kapan berpulang

(Payakumbuh, 2015)

Seroja (by: Dedi Azha)

Serojaku
Kini engkau menyebrangi sepi
Bergulat dengan kesunyian tanpa batas
Dilembah hatimu engkau termenung sendiri
Jiwamu terbelengu dalam semayam hati
Kelopak jiwamu ingkari kalbu
Mengapa kini engkau menutup mata
Menyembunyikan rasa dari ketulusan
Menyembunyikan rasa dari keikhlasan
Kini engkau berkelana menyelami kidung kalbu
Menghantarkan rintihan keheningan sanubari
Tak merelahkan tentang rasa ini
Palung hatimu ingin menampakan bulan
Kendati bulan itu jauh
Serojaku
Engkau berdiam diri dalam cakrawala
Merenungi warna jingga di ufuk senja
Tuk melepaskan rasa bukan fata morgana
Bersujud dan berlari dari ketulusan rasa
Diam seribu bahasa…
Berurai air mata tanpa kata dalam ruang dan waktu
Ketika hati hampa rasa berpaut lirih
Serojaku
Jangan biarkan alunan rasa pergi dari kegersangan jiwa
Dari jiwa
Karna jiwa bukan nestapa

(Dedi Vide, 2016)

Seandainya Hidup Jaman Sekarang (by: Dr. Tri Budhi Sastrio )

Apakah wanita yang satu ini masih perlu berjuang,
Seandainya dia lahir dan hidup di jaman sekarang?
Jawab tentu saja ya walau bukan masalah peluang
Tapi masalah lain yang jumlahnya tetap segudang.
Inilah yang disebut sebagai jaman yang terentang
Persoalan boleh beda tapi masalah tetap berulang.
Pasti ada, akan terus ada, dari pagi sampai petang.
Dulu dengan rona romantika indah yang terbayang
Satu catatan berjudul Kartini Sang Wanita Pejuang
Digubah berdentam-dentam, sanjung ia tersayang,
Tetapi sekarang kala banyak peran wanita pegang
Fokus medan laga dan juang tak lagi dalam jurang
Tetapi sudah di puncak bukit dan tegak menjulang
Maka perbincangan mulai dari gawai ke selendang
Dipadu dengan tampilan menawan otak cemerlang
Rasanya pantas dan relevan jika digadang-gadang.
Tetapi tengok dulu kala rona jaman berulang-ulang
Digunakan sebagai latar puji Sang Wanita Pejuang.
Di sini banyak sekali pemudi yang jadi reinkarnasi
Si pendekar putri pujaan hati milik negeri kami ini.
Badan memang pernah terikat kuat-kuat lilitan tali,
Sanubari pun ikut terjerat, tetapi jiwamu hai Kartini
Terbang tinggi lintas bumi melanglang langit tinggi
Menggetarkan hati kaum laki-laki juga para priyayi.
Dikau memang suar terang pada itu masa, Kartini,
Yang tak hanya sigap buka jalan penuh onak duri
Serta memancarkan sinar bagi kaummu yang putri.
Ya ... bagi putri-putri kebanggaan kadipaten negeri.
Kalau tidak karena jasamu mungkin di depan kami
Tidak akan pernah tegak tegar penuh percaya diri
Putri-putri jelita pujaan hati seperti dia Eva Yuniarti,
Atau Renata Noviani, atau Komang Safitri dari Bali.
Mereka semua adalah bukti ... bukti bagi ini negeri,
Begitu mungkin dikau akan berteriak, wahai Kartini,
Ya semua itu bukti bagi dunia, bukti bagi negeri ini,
Bukti bahwa semua yang telah engkau rintis sendiri
Di jalan penuh halangan dan rintangan beronak duri
Akhirnya ia memberi makna, akhirnya memberi arti.
Merdeka jiwa negeri ini, merdeka atma nurani putri;
Merdeka tanah ini, merdeka pula dikau kaum putri!
Taufik serta Budhi hanyalah dua dari banyak lelaki
Yang tersenyum geli tapi dengan hati riang berseri
Mengiringi para putri harapan dan pujaan negeri ini
Melenggang ke sana ke mari bernyanyi dan menari
Melontarkan gagasan menebarkan buah pikiran inti
Mengajak kami semua kaum lelaki untuk berdiskusi
Sambil mencoba kenang kembali semua makna arti
Pejuanganmu wahai Kartini, Sang Putri Pemberani.
Pernah di suatu masa ketika goresan aksara pena
Yang dikau layangkan ke negeri nun jauh di Eropa,
Memancing decak kagum tebaran gagasan pesona
Yang ditabur dari balik temaram di kaki bukit Muria,
Lalu si ayahanda tercinta, meskipun pada akhirnya,
Memang terbukti betapa dia nyatanya tak berdaya,
Tapi jelas kentara sejak semula adalah pemrakarsa
Serta pendukung utamamu yang amat sangat setia,
Pada semua olah jiwa sukma kembara si putri jelita
Yang dari pantai utara jadi pujaan telatah nusantara.
Engkau melangkah dan wanita tanah ini harus jaya,
Mereka harus tengadah lalu angkat tegak isi kepala,
Begitu berkata berulang-ulang sang putri yang jelita,
Tak hanya di istana kadipaten yang remang nuansa
Tapi juga di pasar-pasar, di jalan-jalan, di mana saja
Pokoknya engkau akan terus maju membela wanita
Rumah tidak boleh jadi pengekang kebebasan jiwa,
Apalagi bagi kebebasanmu ... hai jelita suar mutiara.
Kepakkan sayapmu, terbang tinggi jauh ke angkasa
Engkau masa depan harapan putra-putri nusantara,
Serta juga masa depan anak-anak di tanah tercinta,
Masa depan negeri pujaan, masa depan ini bangsa.
Jauh di sana, Haumia, Kanaloa, serta Tane Mahuta,
Juga Tangaroa, Bellona, Bona Dea, dan Rhea Silvia,
Bahkan juga Roma, mereka itu para dewa penguasa
Yang pernah dikagumi serta banyak kali dipuja-puja,
Mereka itu memang bebas bebas berbicara apa saja,
Karena mereka memang pemilik dunia alam semesta.
Lainnya ... Rhianon, Hyperion, Deukalion, juga dewa;
Pon, Amphion, Sarpedon, Lakedaemon ... juga dewa,
Bersama-sama dengan Poseidon mereka bukan saja
Dihormat, disembah tetapi juga dipuja-puja di sana!
Mereka semuanya memang bebas berkata apa saja,
Karena memang merekalah empunya alam semesta!
Tetapi di sini, ya di sini ... di tanah yang hijau pesona
Kami tak punya banyak yang sepertimu, wahai dewa
Di tanah ini bahkan pernah ada masanya bagi wanita
Tak diberi dan punya hak bahkan untuk hanya bicara.
Tapi lihatlah mereka sekarang wahai dunia merdeka,
Kaum wanita lantang bicara berapi-api di mana-mana
Mereka sekarang adalah empunya pemilik ini dunia,
Merekalah sebenarnya pemilik dunia beserta isinya.
Perjalanan memang masih panjang luas membentang
Tetapi untuk sementara ya tuntas juga satu tugas juang.
Kaum wanita telah bebas berbicara garang dan lantang
Mereka telah bebas untuk berjalan melenggang tenang
Membela yang benar menegakkan keadilan isi peluang
Menyuarakan gagasan ilmu pengetahuan dalam ruang
Tidak lagi jadi impian, karena sepanjang jalan panjang
Yang indah dan bebas hambatan merentang-rentang,
Sonata dari kaki bukit gunung Muria terus berdentang
Tidak berkesudahan, merdu tetapi garang dan lantang,
Ibarat tembang yang siang malam dengan nada riang
Dilantun lewat gemercik tirta dibingkai cahaya bintang
Diiringi riak ombak nada lembut bunyi gamelan petang
Yang dulu hanya sayup didengar kemudian menghilang.
Sekarang pancaran alunan nada yang tak hilang-hilang
Terus mendayu tak kebersudahan, hilang tuh bimbang
Jika itu bukan suatu keajaiban yang datang menjelang
Tentu inilah segantang harapan yang berhasil didulang.
Lalu kala kembang mulai mekar indah di padang ilalang
Mewartakan semerbak harum pesona aroma kembang
Bunga yang dulu mekar dalam sempitnya ruang-ruang,
Sekarang tengadah indah lalu berbisik berulang-ulang
Jaman serta masa keemasan telah datang menjelang
Semua yang pernah cuma menjadi hiasan di belakang
Boleh berdiri tegak, bergaya dan lalu sedikit nampang
Di barisan paling depan sambil berseru merdu lantang
Ini kaummu jaman sekarang hai Kartini sang pejuang,
Penanda ini jaman bahwa habis gelap terbitlah terang.
Seandainya hidup jaman sekarang ini wanita pejuang,
Pasti bukan batu tulis dan papan hitam yang dipegang.
Tetapi gawai atau papan hitam, tetap engkau dikenang
Karena walau mungkin tak sepenuhnya dikau menang,
Kau ini tetap menawan, sejuk, serta seorang pejuang.
Ayo Kartini jaman sekarang, hadapi semua penantang
Karena seperti yang telah disuarakan dengan lantang
Dari kaki bukit Muria lama berselang, kalian menang.
Sidoarjo, 20 April 2015