Selasa, 26 April 2016

BORNEO (by: Okta Piliang)

Rumah betang menjulang mantra-mantra pada Jubata, siang ditampi ibu-ibu. Boko dan pulut riuh dalam rapalan syukur, dayak saham batamu padi ladang. Ini negri mimpi di ukir pada ulin
Hutan-hutan berawa, gambut dalam wujud, damailah mereka. Di kandang ayam, babi. Di ladang padi dan ubi, dayak mengayak zaman dalam rupa tentram
Anakanak, melompat mimpi berlantai panjang rumah betang, petang adalah haru, pagi adalah harap, malam adalah ritual pada lambang kayu yang diukir, gerbang dan rumah betang di sisi hutan.

(1 Desember 2014)

Istanamu: Melati (by: Pena Hasan Bsaidi)

dalam hatiku kalau kau mau
dalam mimpiku bila kau sudi
dalam do'aku senantiasa
sungguh sekian lama sudah aku sedia
dan kau tahu, untukmu pintunya akan selalu kubuka
masuklah melati, sekedar mampir pun tak apa
sekian bunga di dalamnya
sekian doa dan harapan, sekian angan dan impian
kurangkai kuhimpun untukmu rindu
pilih saja yang kau suka, petik saja yang kau mau
atau kalau kau memang tiada yang berkenan
berikan tanda, campakkan saja
sungguh melati, sekian lama pintu itu menanti
sekian lama ruang itu kosong, sebuah ranjang lapuk di sudutnya
ranjang yang sering meringis saat gerimis
di dalam juga penuh lukisan waktu, gambaran hati dan luka rindu
sebuah ruang dalam hatiku, dengan telanjang melati, masukilah
milikilah sepenuhnya, selamanya kau kau mau
Batam, 01.12.2014

Tuhanku (by: Tbm Pahlawan Suntari)

Tuhan..
Disini, diantara jiwaku yang terkoyak
masih ada Kau yang mendengarkan ceritaku 
dengan butiran tasbih di tanganku.
Diantara sajadah yang terbentang
Dan dalam sujudku..
Aku percaya Kau ada disini.
Menemaniku, hatiku dan jiwaku.
Aku percaya Kau tidak akan pernah lelah
untuk bersama Doaku dan harapanku.
Walau aku tahu jiwaku penuh dengan dosa
yang telah kulakukan
tanpa atau dengan kesengajaanku.
Tuhan
Aku percaya Kau ada disini..
Aku bercaya Kau bersamaku .
Aku ingin berada dalam lindungan Mu
Dan akan selalu kubisikkan
Bahwa aku selalu merindukanMu

Akhir Januari 2015

Berdebu (by: Rahmad Koto)

Ia bagai embun
Sebelum pagi membakar
jarum mulai berdetak
Ia berjatuhan turun
Ia bukanlah putih
Saat tanah mencumbui
Lenyap dalam bumi
Hilang tak berjejak
Sekarang ialah debu
Selalu tertiup angin
Buram pada cermin
Lupa akan wajah
Ia selintas bayang
Raut tak berupa
Perlintasan terlihat kelam
Hitam bergelimang tanah

BENGKULU.13122014.