Di warung itu, semalam kami menonton sebuah panggung dalam TV dimana orang-orang hebat sibuk memperdebatkan masa depan dan nasib kami
Semakin lama TV itu pun semakin panas memaparkan visi-misinya, nada-nada retorika mengalun menawarkan angka-angka, nyanyian janji-janji beradu merdu mendendangkan mimpi-mimpi
Ah betapa hebatnya, betapa indah deklamasi puisi basi itu, setidaknya demikianlah reaksi yang kami lihat, orang-orang riuh bertepuk tangan, lalu salam-salaman lalu kembali hujat-hujatan
Demikianlah lewat TV di warung itu, hari-hari terakhir ini, kami belajar menimbang pahit-manisnya kopi, yang konon katanya akan memperjuangkan masa depan dan nasib kami
hmmm..., kami hanya bisa percaya
semoga saja, kali ini tak lagi sekedar
... konon katanya
(Batam, 16.06.2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar