Kamis, 21 Agustus 2014

Pohon Cahaya (by : Barep Pangestu)

Dalam gegap-gempita gelap
Cahaya itu terus tumbuh
Melukat akar tertanam dalam-dalam
Semarak emas mengalir ke segala penjuru
Hingga menuju jemari dedaunan
Sekuncup demi sekuncup daun hitam
menjadi perak
Terus menyerap remang-remang


Pohon cahaya itu bersinar hingga batas semburat
Bernaung kunang-kunang mendulang warna
Cahaya kunang-kunang pula yang menumbuhkan pohon itu

Terus tumbuh, semakin gulita di ujung semburat
Ah, cahaya itu mulai bosan
Tak cukup remang-remang terserap
Tak cukup percikan kilat hinggap
Namun bila tirai-mirai tersibak, pohon cahaya akan hilang

(Lampung Timur, 22-27 Juli 2014)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar