Kamis, 21 Agustus 2014

Sebentuk Pantulan (by : Sukaryanta G. Utama)

Daun-daun hujan menebarkan aroma tanah
kabut air yang meniadakan engkau
kejilmaan yang ditiupkan angin
berhenti pada kemandekan, setara dengan apa?
Keabadian yang luput ditandai, meski cerna ini berulang
ketika aku sendiri gagal mematut di cermin air beriak
suara dari dalam air, suara ketenggelaman
suara terapung dan kebasahan senja,
hanya warna hujan dan matahari yang gagal singgah.
Derap-derap kuda waktu, menuju malam buntu
menuju aku tak tahu,
tapi bila kelak ini tersampai padamu
pada titik daun gugur, yang ditampung oleh sedihmu
lantas apa? Engkau kenali dirimu sendiri
yang sekarang tanpa aku,
dulu sebab apa kau menangis pada guguran ini?
Teka teki waktu yang tak sepenuhnya aku tahu
alangkah ringan langkah-langkah hujan
alangkah semua ini tak tersampai padamu
tetapi kenapa jatuh pilu?
Oh, kita ada dalam rahasia genggaman itu.
Kukenali dukamu, yang setara dengan dukaku sendiri
dalam hamburan malam berkeping-keping,
siapa memcoba memecahkan malam kebuntuan?
Buku-buku tangan terkepal kaku, hantamkan ini
pada kekosongan, pecah tak berdenting
hanya nyaring ini tersampai, wujudmu lekas
membentuk pudaran.
Kabut cahaya air, kilat yang menjilatkan lidahnya
pada kekempalan sebatang ara,
burung-burung berjatuhan, sang penanam benih-benih.
Kutandai ini sebagai ketiadaanmu,
kutunggu apa yang akan ditumbuhkan malam
kebangunan dari mimpi, penjelmaan kau dari tiada?
Berdiri kau di situ laksana pantulan bayangku.


(Jakarta, 6/22/2014 8:36:09 PM)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar