Kamis, 21 Agustus 2014

Abah dan Tarawangsanya (by : Oma Neska)

Irama Tarawangsa yang mendayu pilu,
digesek Abah dari beranda saung bilik;
bertiang batang kawung.
Merintih
sayu
lirih.

Duuh ...

Si Abah pengepul lahang,
telah lama lupa akan senyum;
apalagi tawa renyah.
Pada punggungnya yang bungkuk,
hanya tersandang
lodong berisi lahang.

Dia tidak hafal angka- angka matematika,
Juga biologi atau politik.
Mesin hitungnya pun delapan jari,
sebab jempol dan telunjuk kirinya;
hilang terpotong golok
ketika mengupas buah cangkaleng.

Abah ...
Suaranya serak menakuti anak- anak.
Tetapi dia tidak pernah berorasi,
memberi janji- janji basi;
berisi pepesan kosong yang tanpa isi
: samasekali.

Tarawangsa bernada sumbang,
mengalunkan tembang;
tentang lahang yang kian hilang.
Karena pupuk tidak terbeli,
dan
pohon Kawungpun mati kurang nutrisi.

Abah tidak pernah menyembah sesiapa,
baik dia Raja ataupun para Petinggi Negara;
apalagi Koruptor buncit.
Karena Abah tidak pernah mengenali mereka,
yang sering berubah- ubah wujud.

Abah hanya mau bersujud,
kepada yang tak berwujud

: Gusti Allah ...


(13juni14)
...................................................

Catatan :

Tarawangsa : alat musik gesek khas Sunda
Lahang (bhs. Sunda) : nira
Bilik : gedek
Kawung : pohon aren
lodong : tempat membawa benda cair,terbuat dari bambu
cangkaleng : kolang kaling

Tidak ada komentar:

Posting Komentar