7. Rukuk
Bunga Pepaya Jantan
Seorang
perempuan memetik bunga pepaya jantan
pagi ini, ia
seperti lupa mengenakan sayapnya
namun ia
bisa mengepak seperti kupu-kupu
mengitari
pohon pepaya.
Kegemilangan
dari segala yang tampak
memetik
bunga tanpa menjatuhkan butiran-butiran embunnya
seperti
menjaganya dengan penuh kecemasan
namun tidak
melupakan kehati-hatiannya,
dalam
kelelapan embun-embun
dalam
tangkai-tangkai bunga
dalam mimpi
sepanjang ini bukan mimpi
dalam nyata
yang melebihi kewajarannya
dalam
kewajaran yang diselubungi gerak sucinya
hingga
setinggi kilaunya.
Mungkin
beribu malaikat ada di sekitarnya
dan semuanya
pada kepatuhannya,
semua
terjadi di atas ketidakmungkinan ini
meskipun
sungguh ringan dalam tatapan
dan siapakah
sebenarnya perempuan ini?
Bukan satu
penampakan, 3 menit sudah bertahan
dengan
jari-jari pemetiknya
dan menjaga
tangkai-tangkainya
dan 3 menit
yang luar biasa.
Dan bila
keajaiban ini terus berlanjut
maka aku
dalam keajaiban ini.
Menit-menit
terus dalam keagungannya
bahkan
ketika ia sudah selesai memetik bunga-bunga itu
dan berhasil
menahan embun-embunnya.
Bukankah itu
juga perempuan yang sama kulihat
ketika sore
sebelumnya, menyirami pohon pepaya itu?
Yang
ternyata juga membasuh bunga-bunga itu
hingga
bertahan pada kesuciannya
yang
sekarang seperti tertidur di tangannya
jelas
terlihat pada kelelapan embun-embun itu.
Tapi sungguh
siapa sangka, dalam menit-menit selanjutnya
keajaiban
ini terus terjaga, dan mataku
memang
melihat semua kebenaran ini.
Ya, Allah,
sungguh Kau manjakan aku ini
siapakah
sebenarnya perempuan yang Kau kirimkan ini
keindahannya
setara dengan bidadari, yang kuyakini
tak lain
adalah perempuan ini.
Setelah ia
menghilang sejenak, di menit-menit berikutnya
tetapi
segera kudengar orang menumbuk, di lumpang batu
tetapi
pastilah perempuan tadi,
pastilah
kuyakini ini, menumbuk bunga pepaya tadi
dengan
tetesan embun-embunnya yang terjaga
tapi rukuk
di tangannya, lalu memerasnya dalam saringan
dan
menampungya dalam panci
seperti
perempuan pembuat jamu
seperti
jamaknya kenyataan dalam hidupku.
Sekarang ia
datang lagi, dengan cangkir minun di tangannya
dan ia
berdandan untuk kesederhanaan ini,
dan aku di
atas kemewahan ini.
Tanpa
mengatakan apa-apa, ia menyodorkan cangkir itu
seperti aku
masih lena di kursi teras.
Aku tahu ini
pasti rasanya pahit,
tetapi
karena perempuan ini telah menyadorkannya kepadaku
aku musti
menerimanya, seyakin ia dengan senyumnya.
“Kalau
dengan minum ini aku mati, kaulah bidadariku,” kataku
dengan
keyakinan itu aku minum.
“Kalau kau
hidup?” tanyanya.
“Kau tetap
bidadariku,” jawabku.
“Itu sama
saja.”
“Tetapi
siapakah sebenarnya kau ini,
seperti
perempuan yang sama yang kulihat di tempat tidurku.?”
“Emang!”
“Jadi selama
ini kau nyata ya?”
“Belum
saatnya aku menjelma bidadari, sesekali tapi.”
Ya, kulihat
tadi, tapi tak kukatakan ini,
saat ia
dikerumuni para malaikat.
“Adakah yang
ingin kaukatakan?” tanyanya.
“Adakah yang
ingin kukatakan?” aku balik bertanya.
“Tidak?”
tandasnya.
Ya, Allah,
bangunkan aku
bila aku
tidur dalam kelelapan ini
dan jangan
Kau tidurkan aku dalam keterjagaan ini.
“Aamin.”
Ya, Allah
sesungguhnya siapakah perempuan ini
ia tahu
ketika aku berdoa
dan ketika
aku tak mengatakan apa-apa
selalu siap
dengan pelayanan-pelayanannya?
Dan ketika
kutanya jawabannya cukup sederhana
dan lebih
menyembunyikan di balik senyumnya.
Jakarta,
3/24/2014 3:52:56 AM
6. Mawar
Malam
Mawar
kepiluan. Tumbuh di ladang-ladang kesunyian
dengan derap
langkah-langkah pergi
bukan kau
penanamnya. Tapi kau bersekutu dengan
musim dan
menajamkan duri-durinya
dengan
pentul-pentul darah kata
yang
memancarkan kilau merahnya:
aku wajah
dalam kilau merah itu.
Seribu wajah
tersembunyi dalam darah
yang tak
akan kaukenali seandainya kau kembali
kecuali
tangis yang dulu sekali
yang terasa
lebih anyir.
Tapi buat
apa kau datang bila hanya untuk melupa
dengan
mengagumi semak mawar
yang tumbuh
dari duka.
Kau memang
tidak hadir
di kehadiran
yang berwarna merah ini,
dalam samun
kata-kata.
Kau akan
membunuhku sekali lagi
untuk
menghidupkan aku beribu kali
menghuni
pucuk-pucuk duri
untuk
sekedar terpelanting,
dengan tanpa
prasangka kau akan tertusuk
duri-duri
yang ditumbuhkan oleh musim itu
yang
dengannya kau bersekutu
dan termakan
oleh kutukku.
Maka aku pun
bersekutu dengan musuh-musuhku
untuk
sekedar melukaimu.
Tapi aku tak
sesampai itu
aku lebih
memilih melukai diri sendiri
sebab ini
cara aku lebih menyukaimu
meskipun kau
tak
tak cukup
menakar diri.
Kau pilih,
yang musti kau pilih
tapi jangan
lantas menjadi rapuh
bila pilihan
bukan dari yang terpilih.
Aku suka
cara kau melukaiku
dan cara kau
meninggalkanku.
Tapi kaulah
bayangan mawar yang sembunyi
di balik
tajam duri-durinya,
di balik
hijau daun-daunnya,
di balik
kerapuhan ini.
Dalam
kesenduan tangsimu,
atau aku tak
tahu
kalau itu
senduku sendiri
yang tak
bisa
kecuali
kukepal dalam tinju beribu kali.
Kaulah yang
membuatnya,
kuhancurkan
benteng yang kudirikan sendiri
untuk
terkubur di dalamnya.
Dan
mengendus bangkaiku sendiri
dan menjadi
sepanjang napasku,
kecuali aku
mampu bangkit lagi
di tengah
tangismu yang sunyi.
Terdengar
sampai di sini
tangismu
yang ini,
merungkuh
malam berkali-kali
yang dulu
kurengkuh sepenuh hati
cukup sekali
kauludahi.
Agar aku
membencimu
dan
pura-pura ini telah pula menyakitimu
yang
kutuliskan dalam sajak ini,
yang tak
lagi bisa pura-pura.
Bukan lagi
samun kata-kata
tapi
tangismu yang sebenarnya
yang isaknya
lebih tajam dari keris dan 7 mitosnya,
yang
menghunusku tanpa menancapkannya
kecuali luka
tusukannya
sehalus
keris sutra.
Tangismu
yang menghunjam
perih luka
dada.
Kau hadir
dalam
ketidakhadiran ini.
Mawar malam.
Jakarta,
3/8/2014 1:32:07 PM
5. Bunga
Mistis Sedap Malam
Bunga sedap
malam merenda cahaya, tidak dengan imaji tangannya dengan imaji aromanya
semerbak
cahaya malam,
pusaran-pusaran
detik yang menebar jaring laba-laba peraknya
jaring-jaring
malam memenuhi dirinya dengan wajah-wajah malam
mata-matanya
berkerjaban bagai kelopak-kelopak bunga yang membuka menutup
memancarkan
keriangan.
Siapa yang
datang akan diletakkan di sana, ruh-ruh putih yang bergayut di
ranting-rantingnya
meminum
oroma seperti meminum anggur yang tetes dari kendi-kendi
meminum
terus dengan rasa haus yang terus meminta
menetes
kembali karena tanpa wadah tubuh mereka,
mereka
sendiri serupa kendi-kendi yang menetes.
Tetes-tetes
kebeningan yang jatuh di atas tanah kehidupan
yang bangkit
dari tanah kematiannya.
Malam dan
serbuk-serbuk aroma seperti istal-istal
kebeningan
dari kuda-kuda waktu,
yang terus
meringkik sepanjang malam itu
dalam
kebeningan-kebeningan aroma.
Jatuh di
tungku-tungku waktu, di atas bara arang
menjadi
aroma yang terbakar.
kebeningan
asap-asap meliuk dalam perwujudan tubuh
tanpa wadah,
mengasapi bunga-bunga dengan 7 batang cabang malamnya
yang
digelayuti daun-daun kegelapan.
Serimbun
gelap adalah pusat aroma.
Bila cahaya
terang belum mendekat, malam terus menggerimis
dengan
oramanya yang menusuk seperti jarum-jarum waktu
terus
berjatuhan seperti ingin menujum sang waktu sendiri.
Cahaya
laras, cahaya daun-daun, cahaya waktu yang mengepak
tinggi di
atas bintang yang terpecil dan pancaran cahayanya
datang dari
ribuan tahun yang lalu,
dan tiba di
haribaannya kini.
Cahaya
kebiruan di atas daun-daun yang sekejab
segera gugur
dalam pusaran waktu dan hilang tanpa detak.
Kesunyian
malam dan hal-ihwal yang mengisinya
dengan
segenap kekosonganya yang penuh
yang
tertampung seluruh isinya,
tanpa
kepenuhan dan semua berada di tempatnya.
Berdiri aku
di antara mereka,
berdiri aku
tanpa dasar, dalam gelegak aroma.
Jakarta,
9/14/2013 6:57:38 PM
4. Gelas
Anggur
Aku bangun
tidur dan bermimpi, seorang wanita keluar
dari botol
anggur yang kosong, yang luput aku tenggak
dan
menyisakan kenangan yang siksa: seperti
lidah api
yang
menjilat-jilat, tubuh api membakar api, dan menyala begitu bening.
Dan musnah
dalam mata terjagaku.
Kukucek
mataku dan tetap saja,
tak tertatap
oleh mata nyalangku
tak senyata
mimpiku. Ia yang bangun di lelapku,
dari
wewangian padat tubuhnya,
yang meruap
dari gelas anggur:
awal
keberangkatan, dan tiada langkah pulang.
Tidaklah
musti aku berdiri menunggu
dengan
gelas-gelas anggur berikutnya
dan
mimpi-mimpi sesudahnya?
Gelas yang
pecah berdenting:
dan dari
kejenihan langkahnya itu lagi.
Pergi pergi
dan tak pernah kembali,
ada banyak
kepergian dari orang yang sama
dan tak
pernah kembali,
lantas rasa
patut kehilangan ini disebut apa?
Serasa
kupegang kekosongan ini
dan
kurasakan daging udara, dan selingkar angin mencicin jari
seperti
lingkaran es.
Dan kutatap
botol-botol kosong anggur itu
dari sesuatu
yang pergi
dan ia tak
kembali,
setiap aku
tenggelam di gelas-gelas kosong dan kutenggak tandas.
Aku yang tak
bisa memisahkan mimpi dari kenyataan,
sebelum ia
hilang dalam pusaran denting gelas
dalam
repetisi langkah pergi
dan aku
memandangnya seperti wanita suci
yang setara
dengan ketiadaanya, namun terlajur memujanya dalam hati
dan aku
menguncinya di botol-botol kosong.
Botol-botol
yang bersih
harum bagai
mimpi-mimpiku dan yang dielak oleh wanita itu beribu kali
untuk sekali
saja ia kembali.
Jakarta,
1/15/2014 4:50:53 AM
3. Putri
Teratai
Siapa
melangkah di sunyi malam?
Kakinya
seramping bunga teratai sejenang,
ia berjalan
seperti sulur teratai berkembang, kuncuplah keindahan malam
malam
tergelar di daun-daunnya yang hijau,
berkilauan
kelam ke dalam keluasannya.
Air
terpercik nyaring di denting malam serupa nyanyian
di kelam
lain malam, terseberangkankah bayang?
Mata ikan
mata ikan yang menatapnya di bening kolam
sudahkah ia
menyeberang batas, sisi malam?
Ujudkan siapa yang berdiri di bunga teratai,
ia
terlingkari cahaya
ia tertandai
sunyi
ia tersusu
kabut.
Ia berdiri
di sana tanpa ia berdiri di sana
pastilah ia telah
menyeberang batas kemungkinan ini
pada
bebayang yang patah pada ketertegakan teratai?
Langkahnya
masih nyaring di atas perairan
di antara
kecipak ikan-ikan dan dengung nyamuk-nyamuk
berkitaran
kaki teratai sejenang,
bila ia
pandangan yang urung di mata.
Sunyi
mustilah ia mati berkali-kali
dan hidup
kembali di nyaring langkahnya
di sisi
langkah lain: carilah aku.
Desah ingsang-ingsang ikan, akar-akar teratai,
napas-napas kolam
jari-jari
malam yang tercelup, dan bulan tujuh hari yang angslup,
waktu-waktu
yang basah: carilah aku.
Ia tiada
selain langkah gemericik
kaki-kaki
teratai yang menapak di atas perairan
tiada jejak,
kecuali pendar-pendar air yang terbit
dari
tetes-tetes air di atas kolam,
teratai yang
tegak dan bebayangnya yang hilir-mudik
dengan mata
teratai bulan sabit
dengan
luruhan di dasar kolam,
tiada yang
bangkit dan terangkat.
Tarian malam
ikan-ikan di udara,
teratai-teratai
yang menyelam,
akar-akar
yang mendusin,
dan gerak
lembut putri teratai.
Jakarta,
9/18/2013 7:57:49 PM
2. Laut
dalam Sebutir Embun
Laut telah
tertangkap, telah dibenam dalam sebutir embun
telah
terpantai ombak pecah tanpa kebenaran hantaman pada embun
ia tak pecah
dihantam ombak, perciknya pecah di karang
membuncah
dalam makna di kelompang embun,
telah hadir
laut dalam kepenuhan udara dalam embun
dalam mata
udara embun laut ia tatapkan, ia tatapkan pada dirinya
dalam dunia
lingkaran air. Laut kekosongan
laut tanpa
air, laut hanya cerminan dalam embun
ombak
memukul hampa, lidah laut tanpa jilatan basah keramatnya
meskipun
tetap dengan hasrat-hasrat besarnya
yang tak
gemuruh di dalam embun,
seperti
kesunyian laut di cawan embunnya
di bawah
langit kekosongan.
Kehadiran
yang tak hadir dalam sebutir embun
kekosongan
yang milik laut dan langitnya,
dunia
sementara yang mengantung rapuh di sebatang rumput.
Semesta yang
terhimpun maya,
musti dipuja
sama tinggi dengan laut di depannya.
Gelora
kekosongan yang tatapkan dirinya ke arah matahari,
kekosongan
laut, dan elemen-elemen udara, dalam
ari-ari embun
pecah
terbakar cahaya dan tanpa hancuran laut,
hanya
kebeningan udara yang mendaki tangga cahaya
matahari
telah membuka,
telah
terbuka makna tersiratnya.
Matahari
yang suwung di sebatang rumput adalah kebeningan
laut yang
terpacak di depannya menggelora,
istana-istana
pasir dalam cangkang waktu antara pukulan ombak dan sapuannya
kepiting-kepiting
yang tenggelam di istananya dan remukannya
dan
waktu-waktu tergulingnya,
kisah-kisah
pasir.
Berkilauan
matahari atas pasir dan busa laut, biji-biji rumput
benih-benih
angin,
berhamburan
waktu dan matahari dan kebenaran dunia embun
laut pecah
dan menghampar, cangkih-mencangkih ombak-ombak karang
batang-rumput
hilir-mudik,
matahari
berkilauan di wajah laut. Tanpa sebutir embun
dunia yang
selesai dan senantiasa.
Jakarta,
9/16/2013 2:27:06 AM
1. Bokeh
Daun
Selembar
daun kuning keemasan dan bayangannya
membujur di
atas air dengan suaranya yang biru
gemerincing
di nyala kuning keemasan yang bernapas dekat udara.
Cahaya koin
koin kebiruan kehijauan keperakan di antara yang hijau di antara yang putih
lebih
menyala seolah memaut semua keindahan ini,
titik titik
cahaya putih dekat air berkelip mendaki tinggi udara
di koin koin
birunya hijaunya keperakannya kemataharinya,
cahaya koin
cahaya koin di atas perairan biru,
cahaya
perairan biru yang menampung selembar daun keemasan dan bayangannya
dalam pantul
keemasan menyala membuka cahaya yang meluas mencari batas airnya
dan
mendapatkan batas udaranya yang biru berkerumun
dalam
koin-koin menyala dan cahaya-cahaya pecahannya.
Selembar
daun yang disucikan oleh cahaya selembar daun dan warna keemasannya.
Ia bertahan
di atar air, di atas semua yang biru
mengisi
dirinya dengan air,
tapi
ditampungnya juga udara ditampungnya napas terakhir
mendaki di
antara uap-uap air dan pori-pori udara di bawah cahaya koin-koin,
mengapung
sepenuh dirinya
sepenuh air
menjangkaunya.
Ia dengar
dirinya dalam nyanyian cahaya biru
tapi
belumlah ia terlelap sepenuh raga
matanya
masih mengintip dasar perairan biru
dan
berbenah, kiranya aku berkubur dalam air
di atas
tanah semua yang berair,
dan
gelembung-gelembung udaranya yang menyala ke atas air
pecah
menjadi koin-koin cahaya;
aku di atas
mimpi semua itu.
Matahari dan
kerlip koin-koin
menyala pada
rangka daun, pucuk daun keemasan tangkai daun kecoklatan
menyala di
atas kebiruan air, api biru yang beriak
pada
kepenuhan koin-koin dan kerlip matahari.
Tersabdalah
setangkai daun kuning keemasan
tersabdalah
dalam biru telaga,
tersabdalah
dalam koin-koin cahaya
tersabdalah
dalam riak-riak antara matahari kedap dan langkan
nasib hari,
selembar
yang gugur.
Jakarta,
9/5/2013 7:09:19 PM