Terdengar jerit, tangis dan dentuman bombardir. Sesaat kemudian sepi, hanya gerak puing bergeser; bangunan telah hancur, serupa tanah dan aspal yang tak lagi datar.
Indah senyumnya: malaikat kecil di garis GAZA, sepulang bermain dan kembali hanya terdengar nama. Senyum itu, bersembunyi di balik tumpukan urat-urat nadi kota yang kini tercabik.
"Di mana kamu, nak?" Embun mengalir, bukan untuk pucuk daun.
Bahkan jasad tak lagi ada, tulang yang seharusnya bersisa ketika mencampur tanah, ini benar-benar musnah.
Sekejam apa, peluru-peluru dan ledakan itu? Hingga semua hanya tersisa nama yang kembali ke istana dan senyum di balik puing, tak ada lagi selain itu.
Hanya bayangan senyum di balik puing, mereka bercanda dan bermain; aroma anyir darah mewarnai udara di garis GAZA.
(Sukoharjo, 12 Agustus 2014)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar