Selasa, 26 April 2016

Seandainya Hidup Jaman Sekarang (by: Dr. Tri Budhi Sastrio )

Apakah wanita yang satu ini masih perlu berjuang,
Seandainya dia lahir dan hidup di jaman sekarang?
Jawab tentu saja ya walau bukan masalah peluang
Tapi masalah lain yang jumlahnya tetap segudang.
Inilah yang disebut sebagai jaman yang terentang
Persoalan boleh beda tapi masalah tetap berulang.
Pasti ada, akan terus ada, dari pagi sampai petang.
Dulu dengan rona romantika indah yang terbayang
Satu catatan berjudul Kartini Sang Wanita Pejuang
Digubah berdentam-dentam, sanjung ia tersayang,
Tetapi sekarang kala banyak peran wanita pegang
Fokus medan laga dan juang tak lagi dalam jurang
Tetapi sudah di puncak bukit dan tegak menjulang
Maka perbincangan mulai dari gawai ke selendang
Dipadu dengan tampilan menawan otak cemerlang
Rasanya pantas dan relevan jika digadang-gadang.
Tetapi tengok dulu kala rona jaman berulang-ulang
Digunakan sebagai latar puji Sang Wanita Pejuang.
Di sini banyak sekali pemudi yang jadi reinkarnasi
Si pendekar putri pujaan hati milik negeri kami ini.
Badan memang pernah terikat kuat-kuat lilitan tali,
Sanubari pun ikut terjerat, tetapi jiwamu hai Kartini
Terbang tinggi lintas bumi melanglang langit tinggi
Menggetarkan hati kaum laki-laki juga para priyayi.
Dikau memang suar terang pada itu masa, Kartini,
Yang tak hanya sigap buka jalan penuh onak duri
Serta memancarkan sinar bagi kaummu yang putri.
Ya ... bagi putri-putri kebanggaan kadipaten negeri.
Kalau tidak karena jasamu mungkin di depan kami
Tidak akan pernah tegak tegar penuh percaya diri
Putri-putri jelita pujaan hati seperti dia Eva Yuniarti,
Atau Renata Noviani, atau Komang Safitri dari Bali.
Mereka semua adalah bukti ... bukti bagi ini negeri,
Begitu mungkin dikau akan berteriak, wahai Kartini,
Ya semua itu bukti bagi dunia, bukti bagi negeri ini,
Bukti bahwa semua yang telah engkau rintis sendiri
Di jalan penuh halangan dan rintangan beronak duri
Akhirnya ia memberi makna, akhirnya memberi arti.
Merdeka jiwa negeri ini, merdeka atma nurani putri;
Merdeka tanah ini, merdeka pula dikau kaum putri!
Taufik serta Budhi hanyalah dua dari banyak lelaki
Yang tersenyum geli tapi dengan hati riang berseri
Mengiringi para putri harapan dan pujaan negeri ini
Melenggang ke sana ke mari bernyanyi dan menari
Melontarkan gagasan menebarkan buah pikiran inti
Mengajak kami semua kaum lelaki untuk berdiskusi
Sambil mencoba kenang kembali semua makna arti
Pejuanganmu wahai Kartini, Sang Putri Pemberani.
Pernah di suatu masa ketika goresan aksara pena
Yang dikau layangkan ke negeri nun jauh di Eropa,
Memancing decak kagum tebaran gagasan pesona
Yang ditabur dari balik temaram di kaki bukit Muria,
Lalu si ayahanda tercinta, meskipun pada akhirnya,
Memang terbukti betapa dia nyatanya tak berdaya,
Tapi jelas kentara sejak semula adalah pemrakarsa
Serta pendukung utamamu yang amat sangat setia,
Pada semua olah jiwa sukma kembara si putri jelita
Yang dari pantai utara jadi pujaan telatah nusantara.
Engkau melangkah dan wanita tanah ini harus jaya,
Mereka harus tengadah lalu angkat tegak isi kepala,
Begitu berkata berulang-ulang sang putri yang jelita,
Tak hanya di istana kadipaten yang remang nuansa
Tapi juga di pasar-pasar, di jalan-jalan, di mana saja
Pokoknya engkau akan terus maju membela wanita
Rumah tidak boleh jadi pengekang kebebasan jiwa,
Apalagi bagi kebebasanmu ... hai jelita suar mutiara.
Kepakkan sayapmu, terbang tinggi jauh ke angkasa
Engkau masa depan harapan putra-putri nusantara,
Serta juga masa depan anak-anak di tanah tercinta,
Masa depan negeri pujaan, masa depan ini bangsa.
Jauh di sana, Haumia, Kanaloa, serta Tane Mahuta,
Juga Tangaroa, Bellona, Bona Dea, dan Rhea Silvia,
Bahkan juga Roma, mereka itu para dewa penguasa
Yang pernah dikagumi serta banyak kali dipuja-puja,
Mereka itu memang bebas bebas berbicara apa saja,
Karena mereka memang pemilik dunia alam semesta.
Lainnya ... Rhianon, Hyperion, Deukalion, juga dewa;
Pon, Amphion, Sarpedon, Lakedaemon ... juga dewa,
Bersama-sama dengan Poseidon mereka bukan saja
Dihormat, disembah tetapi juga dipuja-puja di sana!
Mereka semuanya memang bebas berkata apa saja,
Karena memang merekalah empunya alam semesta!
Tetapi di sini, ya di sini ... di tanah yang hijau pesona
Kami tak punya banyak yang sepertimu, wahai dewa
Di tanah ini bahkan pernah ada masanya bagi wanita
Tak diberi dan punya hak bahkan untuk hanya bicara.
Tapi lihatlah mereka sekarang wahai dunia merdeka,
Kaum wanita lantang bicara berapi-api di mana-mana
Mereka sekarang adalah empunya pemilik ini dunia,
Merekalah sebenarnya pemilik dunia beserta isinya.
Perjalanan memang masih panjang luas membentang
Tetapi untuk sementara ya tuntas juga satu tugas juang.
Kaum wanita telah bebas berbicara garang dan lantang
Mereka telah bebas untuk berjalan melenggang tenang
Membela yang benar menegakkan keadilan isi peluang
Menyuarakan gagasan ilmu pengetahuan dalam ruang
Tidak lagi jadi impian, karena sepanjang jalan panjang
Yang indah dan bebas hambatan merentang-rentang,
Sonata dari kaki bukit gunung Muria terus berdentang
Tidak berkesudahan, merdu tetapi garang dan lantang,
Ibarat tembang yang siang malam dengan nada riang
Dilantun lewat gemercik tirta dibingkai cahaya bintang
Diiringi riak ombak nada lembut bunyi gamelan petang
Yang dulu hanya sayup didengar kemudian menghilang.
Sekarang pancaran alunan nada yang tak hilang-hilang
Terus mendayu tak kebersudahan, hilang tuh bimbang
Jika itu bukan suatu keajaiban yang datang menjelang
Tentu inilah segantang harapan yang berhasil didulang.
Lalu kala kembang mulai mekar indah di padang ilalang
Mewartakan semerbak harum pesona aroma kembang
Bunga yang dulu mekar dalam sempitnya ruang-ruang,
Sekarang tengadah indah lalu berbisik berulang-ulang
Jaman serta masa keemasan telah datang menjelang
Semua yang pernah cuma menjadi hiasan di belakang
Boleh berdiri tegak, bergaya dan lalu sedikit nampang
Di barisan paling depan sambil berseru merdu lantang
Ini kaummu jaman sekarang hai Kartini sang pejuang,
Penanda ini jaman bahwa habis gelap terbitlah terang.
Seandainya hidup jaman sekarang ini wanita pejuang,
Pasti bukan batu tulis dan papan hitam yang dipegang.
Tetapi gawai atau papan hitam, tetap engkau dikenang
Karena walau mungkin tak sepenuhnya dikau menang,
Kau ini tetap menawan, sejuk, serta seorang pejuang.
Ayo Kartini jaman sekarang, hadapi semua penantang
Karena seperti yang telah disuarakan dengan lantang
Dari kaki bukit Muria lama berselang, kalian menang.
Sidoarjo, 20 April 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar