Jangan kaujual pahamu seharga paha ayam, ayam kampus.
Sebab pangkuanmu seluas langit dan bumi, seumpama surga
musti hargamu setinggi nikmatmu, seberapa tinggi nikmatmu, nikmatmu terbeli olehku dan bagiku dua sungai yang mengangkang, sungai komer dan sungai susu, dari celah pangkal pahamu dan aku ingin tercelup ke dalam arus pusaran itu, tenggelam lebih dalam dan melambung lebih tinggi, aku beli harga tertinggimu,
sebab kau punya yang aku mau dan aku sungguh maha pemurah bagimu.
Jari-jarimu yang runcing, dulu sepi kini kumeriahkan dengan cincin;
sebab kuinginkan belaianmu, biar kupilih ia gemerincing menari
menenung hari yang lubuk,
kupangil kau Susi hari ini, esuk adalah Niomi dan lusa adalah Ismi dan entah siapa lagi
sebab kusuka kau berganti nama barganti rupa berganti tubuh berganti gaya berganti upaya,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Biar kutindik pusarmu dengan jarum jantan, dan kupasangan cincin selingkar mata, biar kian meriah tarian perutmu gelanggang paling puncak, biar kian pandai meninggi dan merendah memangil semua milik anak-anak ombak, menghempas dan terhempas karang tubuh melolong camar dan seganas belut listrik, arus menyengat ujung syaraf,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Tubuhmu selicin dirimu,
melingkar-lingkar tubuh belutmu melingkar tubuh kakuku
melingkar aku menyaingi gesit lingkaranmu;
mainkan lingkaran-lingkaran,
lebih licin lebih meliuk lebih lincah lebih ganas lebih elak, lebih pikat.
Kuurapi jenjang lehermu dengan kristal-kristal emas dan kupuja kerlipnya seupaya pendakian seupaya pencapean,
dan kuluberi dadamu dengan bintang krital paling gemerlap.
Seluas bidang dadamu kumainkan tarian
kampak-kampak lidah.
Datangkan pelupuk matamu ke mulutku, padanya kuciumkan maskara paling lentik, sebab kusuka matamu yang sangsi, Asmi, entah kusebut kau siapa lagi.
Mainkan ronggeng-ronggeng.
Kubelai rambutmu seperti kaubelai diriku
kubelai dirimu kausibakkan rambutmu,
tersibak sudah wajahmu lenganmu dadamu perutmu pusarmu pahamu pertemuan dua sungai itu, tersibak sudah ia, sedalam pusarannya sepekat lembahnya seumpama gairahnya pasangkan gelapnya,
sepasang mata nyalang, nanar sudah.
Datang sebelum mata terpejam
akan sehangus arang pelupukku,
sekarang kau bernama Ani, bukan?
Mainkan lidah-lidah
lidah kata, katakan yang tinggi-tinggi katakan yang lunak-lunak katakan dari tempat yang tinggi katakan musti hanya untuk sejenak, biar ia menagih lebih mau lagi, sejangkauan lagi
sepeluk lagi baru terjangkau kau sudah
alismu Susi pelupukmu Niomi matamu Ismi hidungmu Asmi bibirmu Ani dahimu Surti lehermu Nani dadamu Palupi perutmu Indri pusarmu Sukoci pahamu Narmi betismu Larasati talapakmu Astuti lembah kalian seluas kata sejaring makna, seluput puisi.
Kupanggili nama-nama kalian
nama-nama terpanggil sudah.
Sungai komer sungai susu
putih mengelagak menyala
sepusaran api
terpecik air
sepusaran air
terjilat api
sejurus puisi, belum
seikat pangkal paha, sudah.
Kuteriakkan nama-nama kalian
nama-nama yang nyaring sudah.
Nyanyikan ronggeng-ronggeng.
Hari musti turun ke kampus
hari mengejar jam-jam kuliah,
melangkah jauh ke masa depan,
mengetuk pintu gerbang.
Dan telah kita agendakan pertemuan yang akan datang
sekali waktu kuajak kau ke gelanggang
dari sebagian hadiah atau meja perjamuan meluluskan perundingan bisnis politik yang saling menjegal, kotor dan bau darah, kau sebagian dari pelaku yang kauomongan tinggi-tinggi di kampus, demikian kau aku manipulasi dalam arena ini,
mainkan uang-uang haram.
Kau kuangkat ke lebih tinggi
tapi kau juga harus membayar hargamu sendiri.
Kita cuci uang-uang haram
kita mainkan ronggeng-ronggeng.
Sekali aku pernah pertanya, tipmu berapa untuk makan pagi makan siang,
untuk makan malam sudah?
Kita mainkan ronggeng-ronggeng
kita pungut uang-uang haram,
kalian yang berdiri di mimbar-mimbar kampus
tidak ikut ambil bagian.
Biarkan kami mainkan ronggeng-ronggeng
Sebab pangkuanmu seluas langit dan bumi, seumpama surga
musti hargamu setinggi nikmatmu, seberapa tinggi nikmatmu, nikmatmu terbeli olehku dan bagiku dua sungai yang mengangkang, sungai komer dan sungai susu, dari celah pangkal pahamu dan aku ingin tercelup ke dalam arus pusaran itu, tenggelam lebih dalam dan melambung lebih tinggi, aku beli harga tertinggimu,
sebab kau punya yang aku mau dan aku sungguh maha pemurah bagimu.
Jari-jarimu yang runcing, dulu sepi kini kumeriahkan dengan cincin;
sebab kuinginkan belaianmu, biar kupilih ia gemerincing menari
menenung hari yang lubuk,
kupangil kau Susi hari ini, esuk adalah Niomi dan lusa adalah Ismi dan entah siapa lagi
sebab kusuka kau berganti nama barganti rupa berganti tubuh berganti gaya berganti upaya,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Biar kutindik pusarmu dengan jarum jantan, dan kupasangan cincin selingkar mata, biar kian meriah tarian perutmu gelanggang paling puncak, biar kian pandai meninggi dan merendah memangil semua milik anak-anak ombak, menghempas dan terhempas karang tubuh melolong camar dan seganas belut listrik, arus menyengat ujung syaraf,
mainkan ronggeng-ronggeng.
Tubuhmu selicin dirimu,
melingkar-lingkar tubuh belutmu melingkar tubuh kakuku
melingkar aku menyaingi gesit lingkaranmu;
mainkan lingkaran-lingkaran,
lebih licin lebih meliuk lebih lincah lebih ganas lebih elak, lebih pikat.
Kuurapi jenjang lehermu dengan kristal-kristal emas dan kupuja kerlipnya seupaya pendakian seupaya pencapean,
dan kuluberi dadamu dengan bintang krital paling gemerlap.
Seluas bidang dadamu kumainkan tarian
kampak-kampak lidah.
Datangkan pelupuk matamu ke mulutku, padanya kuciumkan maskara paling lentik, sebab kusuka matamu yang sangsi, Asmi, entah kusebut kau siapa lagi.
Mainkan ronggeng-ronggeng.
Kubelai rambutmu seperti kaubelai diriku
kubelai dirimu kausibakkan rambutmu,
tersibak sudah wajahmu lenganmu dadamu perutmu pusarmu pahamu pertemuan dua sungai itu, tersibak sudah ia, sedalam pusarannya sepekat lembahnya seumpama gairahnya pasangkan gelapnya,
sepasang mata nyalang, nanar sudah.
Datang sebelum mata terpejam
akan sehangus arang pelupukku,
sekarang kau bernama Ani, bukan?
Mainkan lidah-lidah
lidah kata, katakan yang tinggi-tinggi katakan yang lunak-lunak katakan dari tempat yang tinggi katakan musti hanya untuk sejenak, biar ia menagih lebih mau lagi, sejangkauan lagi
sepeluk lagi baru terjangkau kau sudah
alismu Susi pelupukmu Niomi matamu Ismi hidungmu Asmi bibirmu Ani dahimu Surti lehermu Nani dadamu Palupi perutmu Indri pusarmu Sukoci pahamu Narmi betismu Larasati talapakmu Astuti lembah kalian seluas kata sejaring makna, seluput puisi.
Kupanggili nama-nama kalian
nama-nama terpanggil sudah.
Sungai komer sungai susu
putih mengelagak menyala
sepusaran api
terpecik air
sepusaran air
terjilat api
sejurus puisi, belum
seikat pangkal paha, sudah.
Kuteriakkan nama-nama kalian
nama-nama yang nyaring sudah.
Nyanyikan ronggeng-ronggeng.
Hari musti turun ke kampus
hari mengejar jam-jam kuliah,
melangkah jauh ke masa depan,
mengetuk pintu gerbang.
Dan telah kita agendakan pertemuan yang akan datang
sekali waktu kuajak kau ke gelanggang
dari sebagian hadiah atau meja perjamuan meluluskan perundingan bisnis politik yang saling menjegal, kotor dan bau darah, kau sebagian dari pelaku yang kauomongan tinggi-tinggi di kampus, demikian kau aku manipulasi dalam arena ini,
mainkan uang-uang haram.
Kau kuangkat ke lebih tinggi
tapi kau juga harus membayar hargamu sendiri.
Kita cuci uang-uang haram
kita mainkan ronggeng-ronggeng.
Sekali aku pernah pertanya, tipmu berapa untuk makan pagi makan siang,
untuk makan malam sudah?
Kita mainkan ronggeng-ronggeng
kita pungut uang-uang haram,
kalian yang berdiri di mimbar-mimbar kampus
tidak ikut ambil bagian.
Biarkan kami mainkan ronggeng-ronggeng
Yogyakarta, 8/15/2013 5:47:46 PM
Tidak ada komentar:
Posting Komentar