Pernah ada masanya bagaimana kebiasaan adat budaya
Dicatat laksana Sabda Surga hingga akibat mengikatnya,
Bisa saja dahsyat luar biasa dan jauh di luar nalar logika.
Bahkan di tangan kaum picik bisa diubah menjadi senjata
Tak hanya guna menyerang, tapi juga untuk mempedaya.
Sasarannya juga tidak tanggung-tanggung, bisa luarbiasa.
Coba bayangkan seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga,
Diuji dan dicoba kejeniusannya menggunakan adat dunia.
Adat yang seharusnya hanya berlaku di dalam dunia fana
Pada segelintir manusia yang merasa paling kuat berjaya
Ditanya bukankah hal ini juga harusnya berlaku di Surga?
Masalah kuasa dan harta, masalah pewaris sah di dunia,
Yang juga menjadi inti dasar pertanyaan penuh tipu daya
Direkayasa sedemikian rupa dengan suatu tujuan utama
Mempermalukan Sang Pewaris Kuasa Dunia dan Surga.
Tetapi bagaimana bisa para kecoa yang penuh tipu daya
Berhasil mengecoh Sang Mesias dan Penyelamat Dunia?
Dicatat laksana Sabda Surga hingga akibat mengikatnya,
Bisa saja dahsyat luar biasa dan jauh di luar nalar logika.
Bahkan di tangan kaum picik bisa diubah menjadi senjata
Tak hanya guna menyerang, tapi juga untuk mempedaya.
Sasarannya juga tidak tanggung-tanggung, bisa luarbiasa.
Coba bayangkan seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga,
Diuji dan dicoba kejeniusannya menggunakan adat dunia.
Adat yang seharusnya hanya berlaku di dalam dunia fana
Pada segelintir manusia yang merasa paling kuat berjaya
Ditanya bukankah hal ini juga harusnya berlaku di Surga?
Masalah kuasa dan harta, masalah pewaris sah di dunia,
Yang juga menjadi inti dasar pertanyaan penuh tipu daya
Direkayasa sedemikian rupa dengan suatu tujuan utama
Mempermalukan Sang Pewaris Kuasa Dunia dan Surga.
Tetapi bagaimana bisa para kecoa yang penuh tipu daya
Berhasil mengecoh Sang Mesias dan Penyelamat Dunia?
Apabila mereka yang bersaudara tinggal bersama-sama,
Lalu seorang dari pada mereka itu mati tinggalkan dunia
Dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, hanya wanita,
Atau bahkan jika dia sama sekali tidak mempunyai putra,
Maka janganlah sang isteri menikah dengan seorang pria
Di luar lingkungan keluarga, salah satu saudara suaminya
Haruslah hampiri dia, meminta, kemudian mengambil dia
Jadi isterinya, dengan demikian tunai sudah adat budaya
Lakukan kewajiban pernikahan ipar bagi seorang saudara.
Adat budaya ini lazim dan lumrah, karena masalah nama
Dan juga harta menjadi sangat penting untuk tetap dijaga
Bagi seorang pria yang jadi inti pimpinan kepala keluarga.
Harta tak boleh sirna, nama keluarga tak boleh putus jeda.
Adalah tugas kewajiban sesama saudara, jaga ini semua.
Kelak jika ia berhasil mendapatkan putra, mulai dari nama,
Sampai hak warisi harta, hendaknya tetap milik si saudara.
Lalu seorang dari pada mereka itu mati tinggalkan dunia
Dengan tidak meninggalkan anak laki-laki, hanya wanita,
Atau bahkan jika dia sama sekali tidak mempunyai putra,
Maka janganlah sang isteri menikah dengan seorang pria
Di luar lingkungan keluarga, salah satu saudara suaminya
Haruslah hampiri dia, meminta, kemudian mengambil dia
Jadi isterinya, dengan demikian tunai sudah adat budaya
Lakukan kewajiban pernikahan ipar bagi seorang saudara.
Adat budaya ini lazim dan lumrah, karena masalah nama
Dan juga harta menjadi sangat penting untuk tetap dijaga
Bagi seorang pria yang jadi inti pimpinan kepala keluarga.
Harta tak boleh sirna, nama keluarga tak boleh putus jeda.
Adalah tugas kewajiban sesama saudara, jaga ini semua.
Kelak jika ia berhasil mendapatkan putra, mulai dari nama,
Sampai hak warisi harta, hendaknya tetap milik si saudara.
Entah mengapa pada itu masa, ya sampai sekarang juga,
Masalah nama garis keturunan kadang penting luarbiasa.
Tidak boleh terputus, harus dijaga gunakan segala upaya.
Begitulah jika kaum pria merasa paling unggul segalanya.
Padahal jika realita dunia dipadu dengan nalar dan logika
Yang dijadikan tolok ukurnya, nama garis keluarga wanita
Juga tak kalah hebat perbawanya, tetapi dulu itulah fakta.
Lalu bagaimana jika para saudara yang lebih dulu pralaya
Menolak mengambil adik atau kakak ipar sebagai istrinya?
Pertama ia akan dibujuk oleh para tetua adat dan agama.
Jika bujuk rayu berhasil, maka masalah oke, yang tersisa
Hanyalah takdir dari Sang Maha, putra penyandang nama
Bisa tidak dilahirkan dari perkawinan ipar atas nama cinta.
Jika rayuan bertepuk sebelah tangan, masih usaha kedua.
Jika tetap gagal sia-sia, wanita janda punya hak istimewa.
Pertama tentu boleh marah jika ia memang keras maunya.
Kalau marah tak suka, atau diam-diam malah hatinya lega
Dia tetap harus tunaikan satu tindakan keras adat budaya,
Melepas kasut sang saudara ipar yang menolak menjaga
Ya harta, ya garis keturunan, si mendiang suami tercinta,
Sambil tentu saja ia tidak lupa meludah tepat di wajahnya.
Bagi seorang pria diludahi wajahnya oleh seorang wanita
Tentu merupakan penghinaan luar biasa yang tiada tara;
Tetapi yang luar biasa, dilepas kasut dalam hidup tersisa.
Ini tidak hanya menyiksa tetapi juga aib hina melukai jiwa.
Karena sejak itu sang pria akan diberi label api membara
‘Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang’, dilepas wanita.
Masalah nama garis keturunan kadang penting luarbiasa.
Tidak boleh terputus, harus dijaga gunakan segala upaya.
Begitulah jika kaum pria merasa paling unggul segalanya.
Padahal jika realita dunia dipadu dengan nalar dan logika
Yang dijadikan tolok ukurnya, nama garis keluarga wanita
Juga tak kalah hebat perbawanya, tetapi dulu itulah fakta.
Lalu bagaimana jika para saudara yang lebih dulu pralaya
Menolak mengambil adik atau kakak ipar sebagai istrinya?
Pertama ia akan dibujuk oleh para tetua adat dan agama.
Jika bujuk rayu berhasil, maka masalah oke, yang tersisa
Hanyalah takdir dari Sang Maha, putra penyandang nama
Bisa tidak dilahirkan dari perkawinan ipar atas nama cinta.
Jika rayuan bertepuk sebelah tangan, masih usaha kedua.
Jika tetap gagal sia-sia, wanita janda punya hak istimewa.
Pertama tentu boleh marah jika ia memang keras maunya.
Kalau marah tak suka, atau diam-diam malah hatinya lega
Dia tetap harus tunaikan satu tindakan keras adat budaya,
Melepas kasut sang saudara ipar yang menolak menjaga
Ya harta, ya garis keturunan, si mendiang suami tercinta,
Sambil tentu saja ia tidak lupa meludah tepat di wajahnya.
Bagi seorang pria diludahi wajahnya oleh seorang wanita
Tentu merupakan penghinaan luar biasa yang tiada tara;
Tetapi yang luar biasa, dilepas kasut dalam hidup tersisa.
Ini tidak hanya menyiksa tetapi juga aib hina melukai jiwa.
Karena sejak itu sang pria akan diberi label api membara
‘Kaum yang kasutnya ditanggalkan orang’, dilepas wanita.
Itulah adat dan budaya, itulah ketetapan bagi satu bangsa
Yang konon dipilih oleh Sang Maha untuk mewarisi dunia.
Adat ini tentu saja boleh dirawat dan dijaga, tidak apa-apa.
Tetapi manakala ini adat dunia diguna untuk mempedaya
Seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga, lainlah ceritanya,
Apalagi nuansa jebakan licik serta rekayasa amat terasa,
Karena ditanya dalam kaitannya dengan tujuh bersaudara.
Bagaimana status perkawinan ini keluarga kelak di Surga?
Siapa yang berhak jadi suami utama duduk di meja pesta?
Suami pertama, ataukah yang kedua, ataukah yang ketiga,
Ataukah yang terakhir, atau yang mana, itu pertanyaannya.
Sang Putra jenius cerdas luar biasa, Ia jadinya berang juga.
Kamu sesat sebab kamu tak mengerti Kitab Suci, kataNya,
Maupun kuasa Allah! Karena waktu tiba kebangkitan mulia
Semua tidak kawin dan tidak dikawinkan seperti adat dunia
Melainkan akan hidup kekal mulia seperti malaikat di sorga.
Jawaban ini menghentak langit, mengguncang hati dan jiwa.
Yang semula sibuk merencanakan rekayasa dan tipu daya
Akhirnya terdiam tak bisa bicara karena adat budaya dunia
Betapapun hebat, kuat, dan cermatnya dijaga tapi ternyata
Itu hanya berlaku di dunia, tidak di Surga, tidaklah di sana.
Yang konon dipilih oleh Sang Maha untuk mewarisi dunia.
Adat ini tentu saja boleh dirawat dan dijaga, tidak apa-apa.
Tetapi manakala ini adat dunia diguna untuk mempedaya
Seorang Nabi Mulia yang Utusan Surga, lainlah ceritanya,
Apalagi nuansa jebakan licik serta rekayasa amat terasa,
Karena ditanya dalam kaitannya dengan tujuh bersaudara.
Bagaimana status perkawinan ini keluarga kelak di Surga?
Siapa yang berhak jadi suami utama duduk di meja pesta?
Suami pertama, ataukah yang kedua, ataukah yang ketiga,
Ataukah yang terakhir, atau yang mana, itu pertanyaannya.
Sang Putra jenius cerdas luar biasa, Ia jadinya berang juga.
Kamu sesat sebab kamu tak mengerti Kitab Suci, kataNya,
Maupun kuasa Allah! Karena waktu tiba kebangkitan mulia
Semua tidak kawin dan tidak dikawinkan seperti adat dunia
Melainkan akan hidup kekal mulia seperti malaikat di sorga.
Jawaban ini menghentak langit, mengguncang hati dan jiwa.
Yang semula sibuk merencanakan rekayasa dan tipu daya
Akhirnya terdiam tak bisa bicara karena adat budaya dunia
Betapapun hebat, kuat, dan cermatnya dijaga tapi ternyata
Itu hanya berlaku di dunia, tidak di Surga, tidaklah di sana.
Ini baru satu adat budaya bangsa dunia yang ternyata juga
Tak berlaku di mana-mana melainkan hanya sebagian saja.
Padahal manusia sudah terlanjur percaya, budaya mereka
Yang paling unggul dan cocok, hingga manakala berkuasa
Yang paling disuka, memaksa banyak orang tidak berdaya
Tidak hanya mengganti adat dan budaya tetapi juga agama.
Tak sadarkah mereka jikalau yang amat dirasa baik di dunia
Bisa saja justru salah mega dan berlawanan dengan Surga?
Bumi punya jalannya, langit punya aturannya, bisa berbeda.
Manusia punya adat budayanya, langit punya ketentuannya.
Saduki boleh punya adatnya, Putra Manusia punya titahNya.
Jika berbeda, tentu saja yang lebih berkuasa atas isi dunia
Yang harus dijadikan suar cahaya panutan untuk berkarya.
Tak apa ada dalam kelompok hina dina timbangan manusia
Asalkan masih layak menempati tempat mulia di pojok surga.
Ayo jadikan empati dan kasih pada sesama sebagai suarnya
Melayari samudera lautan derita yang masih jauh tepiannya
Agar selamat lintasi gelombang tak terhempas karang dosa.
Sidoarjo, 23 Februari 2016
Tak berlaku di mana-mana melainkan hanya sebagian saja.
Padahal manusia sudah terlanjur percaya, budaya mereka
Yang paling unggul dan cocok, hingga manakala berkuasa
Yang paling disuka, memaksa banyak orang tidak berdaya
Tidak hanya mengganti adat dan budaya tetapi juga agama.
Tak sadarkah mereka jikalau yang amat dirasa baik di dunia
Bisa saja justru salah mega dan berlawanan dengan Surga?
Bumi punya jalannya, langit punya aturannya, bisa berbeda.
Manusia punya adat budayanya, langit punya ketentuannya.
Saduki boleh punya adatnya, Putra Manusia punya titahNya.
Jika berbeda, tentu saja yang lebih berkuasa atas isi dunia
Yang harus dijadikan suar cahaya panutan untuk berkarya.
Tak apa ada dalam kelompok hina dina timbangan manusia
Asalkan masih layak menempati tempat mulia di pojok surga.
Ayo jadikan empati dan kasih pada sesama sebagai suarnya
Melayari samudera lautan derita yang masih jauh tepiannya
Agar selamat lintasi gelombang tak terhempas karang dosa.
Sidoarjo, 23 Februari 2016
Tidak ada komentar:
Posting Komentar