Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Okta Dalam Goresan

Dekapan yang syaduh

Tuhan..
Katamu!
Ini senja yang rebah lalu engkau memeluk malam di waktu senyap.
Remang yang menangkap
Kunangkunang.
Undang sepi nyala yang hilang
Sekedip engkau diam.

Bak kanakkanak merajuk susu
Kepangkuan ibu: tangisnya sedu
Hidu renggek menggadu

Katamu!
Suci rembulan penuh mengawinkan cahaya di atas sajadah
Berdoalah
Lalu aku memelukmu, dalam dekap yang syahdu.

Maghrib - 60314, Payakumbuh.




KERACUNAN JANJI
(jelang pemilu)

Di sini, seseorang membuat peti mati, pada juru kunci negri ia memilah hati; Di sini janji akan di tagih

;Orasi setenggah jampi

"toatoa mencorong moncong letupannya, membakar mimpi dalam roman padi. Katanya menunduk sebelum di pilih"

Kursikursi tebal, nyaman menina bobok. Aku di obok!

Membangun panggung demokrasi: kolosal mencuri dalam balutan dasi. Di mulut bergigi, tanggal sebelum bersuci

Di sini, seseorang membuat puisi dari serbuk gergaji. Ampasampas kayu menampar imaji, dia kata penyair suci.
Di sini, mengobral janji dalam ruang bangun kaumkaum terpatri

;anak negri, seribu mimpi berlayar sampai kehulu Dahulu sejarah mengajar ganjaran mana?

Di sini, senja sepi sisi jalan buram Gerimis mengantar pada pintu diskotik. Merkuri mencuri langkahlangkah yang hilang. Jelas bukan revolusi

Sengaja ganja memabuk, ladang jiwa. Tuan amuk memeluk kepala ular. Dalam semburan bisa, keracunan.

220314




BILIK HATI

"Setiap pagi memanggil mentari"

lembaran lama akan luruh dihelai
waktu aku memanggil hati
tuk membuka bukunya
adapun torehan yang patah di ujung pena
kuraut dalam tulisan, tangis dan tawa

Pada bilik hati:

mana seharusnya,
tawa yang aku bagi dengan mereka.
ataupun tangis yang aku bawa,
dan ada satu pintu yang aku kunci dengannya.

"bukan untuk kamu ataupun dia"

kekasihku:
pemegang seluruh getar
denyutnya,
mengantar seluruh tabir
anak kuncinya, ialah 'takdir'

pintu yang aku tutup dengan rapalan sabda
doa-doa menjadi lampu dalam mata hati
Terang:
rahasia aku ada di kamu..KEKASIH

Okta, payakumbuh 29



Ungkap dekap

"Apa yang aku ungkapan, di hati. tetap menyatakan tentangmu"

"Apa yang engkau ragukan, di mata. tetap meyakinkan tentangmu"

"Ya ya. hati yang bicara, mata yang menjadi jendela"

"Ya ya. aku menyusun hurufhuruf sunyi bernurani."

"jauh dekat. rekat adalah kita"

"Tumbuh disela onak, duri merajam pori"

Tergores mungkin luka.
Miris - tangis pun tawa.

Kita:

"Mengambil larangan wejangan"

"Buah yang bukan hidangan"

Dini hari: 02: 20 050214



Rima TUNGGAL

Aku
Terpapar dari siang dan malam
Jua janin hari yang semakin tua
Di rahim alam renung, aku melahirkan kata
Yang menyaring suling

Rasa: bagai jendela
"Cahaya yang masuk membawa asa"
Pada bilikbilik menelisik jiwa, aku!

Mihrabnya DIA
Rasa memadu-NYA
Lalu aku sunting IA

Aku, sebutir
Mungkin
Sebuah akhir
Sebelum undur

Aku ialah sekalimat."KUN FAYAKUN"

Maka jadilah!

Payakumbuh 4 januari 14



Bukan jodohmu
[ Surat undangan ]

Gesekan malam teraut pilu
Meruncing taring,
luka hadir dibibir rindu.

Keluhnya: "adakah malam akan bernama?"

Sementara langit mengemai asa
Aku datang membawa berita
Dalam kado bersampul pelangi
Lembarnya janji ikatan suci
Di bukanya hati-hati

Lalu

Hatinya bernama patah
Seketika tiang langit goyah
Menjatuhkan sampah-menyampah

Umpatan

Gelap, si buruk hardik racau-igau

Namun tak terbalik!
Remuk koyak, jiwa yang terhoyak
Sansai

"Ia merasai membantah malam,
Siang pun begitu latah dendam"

Ah, kau
Patah jiwamu
Terlalu dalam kau hunus pilu
Hingga pedang tertikam dihulu
Muara berdarah tak berlalu
Di matamu
Waktu itu

Kelam yang menjemput kalut
Sesat di liang tak beraut
Rupanya

Kau,
Tak berjodoh!
Tak bertaut maut
Pahami hari terus meraut
Tanpa carut marut!

Hening..........

Payakumbuh, 15 des

Tidak ada komentar:

Posting Komentar