Dekapan yang
syaduh
Tuhan..
Katamu!
Ini senja
yang rebah lalu engkau memeluk malam di waktu senyap.
Remang yang
menangkap
Kunangkunang.
Undang sepi
nyala yang hilang
Sekedip
engkau diam.
Bak
kanakkanak merajuk susu
Kepangkuan
ibu: tangisnya sedu
Hidu renggek
menggadu
Katamu!
Suci
rembulan penuh mengawinkan cahaya di atas sajadah
Berdoalah
Lalu aku
memelukmu, dalam dekap yang syahdu.
Maghrib -
60314, Payakumbuh.
KERACUNAN
JANJI
(jelang
pemilu)
Di sini,
seseorang membuat peti mati, pada juru kunci negri ia memilah hati; Di sini
janji akan di tagih
;Orasi
setenggah jampi
"toatoa
mencorong moncong letupannya, membakar mimpi dalam roman padi. Katanya menunduk
sebelum di pilih"
Kursikursi
tebal, nyaman menina bobok. Aku di obok!
Membangun
panggung demokrasi: kolosal mencuri dalam balutan dasi. Di mulut bergigi,
tanggal sebelum bersuci
Di sini,
seseorang membuat puisi dari serbuk gergaji. Ampasampas kayu menampar imaji,
dia kata penyair suci.
Di sini,
mengobral janji dalam ruang bangun kaumkaum terpatri
;anak negri,
seribu mimpi berlayar sampai kehulu Dahulu sejarah mengajar ganjaran mana?
Di sini,
senja sepi sisi jalan buram Gerimis mengantar pada pintu diskotik. Merkuri
mencuri langkahlangkah yang hilang. Jelas bukan revolusi
Sengaja
ganja memabuk, ladang jiwa. Tuan amuk memeluk kepala ular. Dalam semburan bisa,
keracunan.
220314
BILIK HATI
"Setiap
pagi memanggil mentari"
lembaran
lama akan luruh dihelai
waktu aku
memanggil hati
tuk membuka
bukunya
adapun
torehan yang patah di ujung pena
kuraut dalam
tulisan, tangis dan tawa
Pada bilik
hati:
mana
seharusnya,
tawa yang
aku bagi dengan mereka.
ataupun
tangis yang aku bawa,
dan ada satu
pintu yang aku kunci dengannya.
"bukan
untuk kamu ataupun dia"
kekasihku:
pemegang
seluruh getar
denyutnya,
mengantar
seluruh tabir
anak
kuncinya, ialah 'takdir'
pintu yang
aku tutup dengan rapalan sabda
doa-doa
menjadi lampu dalam mata hati
Terang:
rahasia aku
ada di kamu..KEKASIH
Okta,
payakumbuh 29
Ungkap dekap
"Apa
yang aku ungkapan, di hati. tetap menyatakan tentangmu"
"Apa
yang engkau ragukan, di mata. tetap meyakinkan tentangmu"
"Ya ya.
hati yang bicara, mata yang menjadi jendela"
"Ya ya.
aku menyusun hurufhuruf sunyi bernurani."
"jauh
dekat. rekat adalah kita"
"Tumbuh
disela onak, duri merajam pori"
Tergores
mungkin luka.
Miris -
tangis pun tawa.
Kita:
"Mengambil
larangan wejangan"
"Buah
yang bukan hidangan"
Dini hari:
02: 20 050214
Rima TUNGGAL
Aku
Terpapar
dari siang dan malam
Jua janin
hari yang semakin tua
Di rahim
alam renung, aku melahirkan kata
Yang
menyaring suling
Rasa: bagai
jendela
"Cahaya
yang masuk membawa asa"
Pada
bilikbilik menelisik jiwa, aku!
Mihrabnya
DIA
Rasa
memadu-NYA
Lalu aku
sunting IA
Aku, sebutir
Mungkin
Sebuah akhir
Sebelum
undur
Aku ialah
sekalimat."KUN FAYAKUN"
Maka
jadilah!
Payakumbuh 4
januari 14
Bukan
jodohmu
[ Surat
undangan ]
Gesekan
malam teraut pilu
Meruncing
taring,
luka hadir
dibibir rindu.
Keluhnya:
"adakah malam akan bernama?"
Sementara
langit mengemai asa
Aku datang
membawa berita
Dalam kado
bersampul pelangi
Lembarnya
janji ikatan suci
Di bukanya
hati-hati
Lalu
Hatinya
bernama patah
Seketika
tiang langit goyah
Menjatuhkan
sampah-menyampah
Umpatan
Gelap, si
buruk hardik racau-igau
Namun tak
terbalik!
Remuk koyak,
jiwa yang terhoyak
Sansai
"Ia
merasai membantah malam,
Siang pun
begitu latah dendam"
Ah, kau
Patah jiwamu
Terlalu
dalam kau hunus pilu
Hingga
pedang tertikam dihulu
Muara
berdarah tak berlalu
Di matamu
Waktu itu
Kelam yang
menjemput kalut
Sesat di
liang tak beraut
Rupanya
Kau,
Tak
berjodoh!
Tak bertaut
maut
Pahami hari
terus meraut
Tanpa carut
marut!
Hening..........
Payakumbuh,
15 des
Tidak ada komentar:
Posting Komentar