TENTANG
BUNGA RUMPUT
Setelah
kuamati sedalam genangan kafein di ceruk cangkir yang ikut menyertai berayunku
pada lidah ilalang, kusimpulkan: bunga rumput itu sebenarnya tidak diseret
angin, melainkan dia menungganginya.
Hanya saja
angin yang dikekangnya agak sedikit liar, jika tak sedap dikatakan risau. Karna
baru saja, bak gembala dari barat, dia hampir saja melanda khusyuk bersila
soreku sembari ber- yihaa dengan ria.
Sedangkan
aku: si tukang mabuk, tentu saja sangat menyukai nakal pertunjukannya.
musirivermaya,
18022013
ADAKALANYA
ADAKALANYA
aku suka
awan, tapi adakalanya tidak!
ketika ia
usil mengusik bidikanku, saat
tengah
khusyuk hendak memanah bulan, saat
ia tak
datang ketika tempurung pikir
pecah--belah
ditikami terik
aku suka
angin, tapi adakalanya tidak!
saat ia
jahil jawili riang anak-anak hujan, yang
sedang riang
pentaskan tari-tari telanjang, ketika
ia alpa
menyepoi di saat hari gemas, remasi
tubuh--menguras--perasi
peluh
adakalanya
tidak, tidaklah setentu tidak!
hanyalah
seperti terhirup semut, yang
sedang sial
sebab terlalu dimabuk gula
khilaf,
hingga jerumusi genangan kopi
adakalanya
tidak, janganlah genapkan tidak!
seperti
sambal
seperti
lapar, lalu
ditendang
kenyang, seperti
tangis,
seperti
tawa
seperti...
kita!
musirivermaya,
24052013
LOOKING FOR
THE MOON IN A STOCKING POOR BALLOON
there's
nothing, but
shaggy
whisper of the monsoon
crawling
like a braid, drawing
a room after
the raid
looking for
the moon, in
a stocking
poor balloon, there's
nothing,
but... hollow
slicing
sorrow
o, my....
musirivermaya,
25022014
TENTANG
PENYAIR
daun pada
angin
aku yang
bersisir, namun
selalu saja
engkau yang didengar
berdesir;
dasar penyair!
jua melambai
ah...
lagi-lagi dirimu itu, yang
begitu
melulu dahului
membelai;
dasar
penilai!
lalu aku
humus, uh
karenamulah
serbuk terhembus
; dasar
perumus!
..
angin pada
daun
kau memang
berdesir
sayang
akulah yang menghulu
seketika
ingin menghilir
; begitulah
penyair!
lunglaimu
juga
membelai-belai,
bayangnya
jari
jemarikulah yang
gemulai;
duhai
penilai!
kau pun
humus, layangnya
olehkulah
pinus-pinus itu terhunus
seperti
itulah... perumus!
...
daun dan
angin
begitulah
penyair--gusar
berpusar
gasing ianya mengilir
--ngilir;
uh... penyihir!
musiriver
maya, 15 01 2014
MALAM BADAI
Ini malam
badai--landas laut tak lagi landai
"Kita
kandas, Kapten! Karang mengurung kapal! Terapit cangka runcingnya, haluan
tersempal!"Satu taringnya telak menembus lambung, merobek tepat di sisi
kiri!"
Tepat di
puncak larut, sengkarut otak membumbung kalut
"Keluarkan
perintah, Kapten! Jangan memaku saja!"Geram laut ingin menelan, lesaknya
membanjir di ruang palka! "Setengah lunas mulai tergenang, deras tiada
terhadang!"
Topan
semakin amuk--risau naluri berkecamuk
"Kembalilah,
Kapten! Kembalilah seperti nahkoda lihai yang kami kenal. Pelaut tangguh dengan
beribu siasat handal! "Kau pun bersama bahtera yang tak kalah angkuh.
Manuver licinnya selalu mampu kelitkan kita dari incaran gemas badai yang ingin
menjegal!"
Api di dada
kembali kobar, nyala mata mulai membakar
"Ya,
Kaptenku! Itulah dirimu! Selebihnya, ini hanyalah gejolak lain yang tak
seberapa! "Kita pernah bertarung lebih sengit dari ini, dan selalu keluar
menyandang menang!"
Jemari kasap
mengambil alih, meremas gemas roda kemudi
"Bangkitlah,
pemandu kami! Tegaklah seperti adanya dirimu. Pantang menunduk takluk, haram
lutut menekuk!"
Kilat datang
di berontak pandang, seru lantang di kerasrahang! Saatnya:
"Putar
haluan, saudara sepelayaranku! Takkan kurelakan pengarungan ini terhempas pecah
begitu saja! "Semua pukulan, terjangan, dan tamparan ini tak lebih cadas
dari yang sudah! "Kaliskan lagi berandal tekad! Padukan mimpi kembali
bulat! "Kembali bertarung, Kawan sejangkarku! Bertarunglah untuk bandar di
mana dia selalu menunggu dengan dada menangkup rindu!"
Ini malam
badai. Tangkis menyatu padu di gigih tantang, melawan kemelut--congkak
mengangkang.
Ini malam
badai--malam rindu sang pemburu
musirivermaya,
13 Desember 2012
SAYAP KIRI
barat aku
ini, memanglah!
semburat
setipis ari: sesurat
serut sarat
perkara, sesirat
khidmat yang
kumiliki
berat aku
ini, timbanglah!
sepadang
penuh gajah, padanku
cukuplah
sekepul rajah, lunglai
jemari
seselipan ganja
kiri
kelopakku ini, timanglah!
saat kanan
terpulut kaku, ketika
itulah
kepakku kukuh-mengukuh
mati-matian
menggondol sauh
kiri aku
ini!
tanpaku...
kanan tak iri!
yogyakarta,
02 oktober 2004
OVER MY DEAD
BODY
aku punya
seekor kijang
kaki jenjang
lehernya panjang
bergaya jauh
di padang, menggodamu
sipu dari
balik tirai ilalang
memburunya?!
kau harus
punya sumpit berlaras lebih panjang
membidik
dari atas dadaku yang telentang, tentu
saat hela
terakhir sudah jauh tinggalkan sarang
karena...
kijang tak
sembarang kijang, ialah
ekorku yang
menggelang!
musirivermaya,
01022014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar