Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Rasca Muhammad

TENTANG BUNGA RUMPUT

Setelah kuamati sedalam genangan kafein di ceruk cangkir yang ikut menyertai berayunku pada lidah ilalang, kusimpulkan: bunga rumput itu sebenarnya tidak diseret angin, melainkan dia menungganginya.

Hanya saja angin yang dikekangnya agak sedikit liar, jika tak sedap dikatakan risau. Karna baru saja, bak gembala dari barat, dia hampir saja melanda khusyuk bersila soreku sembari ber- yihaa dengan ria.

Sedangkan aku: si tukang mabuk, tentu saja sangat menyukai nakal pertunjukannya.

musirivermaya, 18022013




ADAKALANYA ADAKALANYA

aku suka awan, tapi adakalanya tidak!

ketika ia usil mengusik bidikanku, saat
tengah khusyuk hendak memanah bulan, saat
ia tak datang ketika tempurung pikir
pecah--belah ditikami terik

aku suka angin, tapi adakalanya tidak!

saat ia jahil jawili riang anak-anak hujan, yang
sedang riang pentaskan tari-tari telanjang, ketika
ia alpa menyepoi di saat hari gemas, remasi
tubuh--menguras--perasi peluh

adakalanya tidak, tidaklah setentu tidak!

hanyalah seperti terhirup semut, yang
sedang sial sebab terlalu dimabuk gula
khilaf, hingga jerumusi genangan kopi

adakalanya tidak, janganlah genapkan tidak!

seperti sambal
seperti lapar, lalu
ditendang kenyang, seperti
tangis, seperti
tawa
seperti... kita!

musirivermaya, 24052013



LOOKING FOR THE MOON IN A STOCKING POOR BALLOON

there's nothing, but
shaggy whisper of the monsoon
crawling like a braid, drawing
a room after the raid

looking for the moon, in
a stocking poor balloon, there's
nothing, but... hollow
slicing sorrow

o, my....

musirivermaya, 25022014



TENTANG PENYAIR

daun pada angin
aku yang bersisir, namun
selalu saja engkau yang didengar
berdesir; dasar penyair!

jua melambai
ah... lagi-lagi dirimu itu, yang
begitu melulu dahului
membelai; dasar
penilai!

lalu aku humus, uh
karenamulah serbuk terhembus
; dasar perumus!
..
angin pada daun
kau memang berdesir
sayang akulah yang menghulu
seketika ingin menghilir
; begitulah penyair!

lunglaimu juga
membelai-belai, bayangnya
jari jemarikulah yang
gemulai; duhai
penilai!

kau pun humus, layangnya
olehkulah pinus-pinus itu terhunus
seperti itulah... perumus!
...
daun dan angin
begitulah penyair--gusar
berpusar gasing ianya mengilir
--ngilir; uh... penyihir!

musiriver maya, 15 01 2014




MALAM BADAI

Ini malam badai--landas laut tak lagi landai

"Kita kandas, Kapten! Karang mengurung kapal! Terapit cangka runcingnya, haluan tersempal!"Satu taringnya telak menembus lambung, merobek tepat di sisi kiri!"

Tepat di puncak larut, sengkarut otak membumbung kalut

"Keluarkan perintah, Kapten! Jangan memaku saja!"Geram laut ingin menelan, lesaknya membanjir di ruang palka! "Setengah lunas mulai tergenang, deras tiada terhadang!"

Topan semakin amuk--risau naluri berkecamuk

"Kembalilah, Kapten! Kembalilah seperti nahkoda lihai yang kami kenal. Pelaut tangguh dengan beribu siasat handal! "Kau pun bersama bahtera yang tak kalah angkuh. Manuver licinnya selalu mampu kelitkan kita dari incaran gemas badai yang ingin menjegal!"

Api di dada kembali kobar, nyala mata mulai membakar

"Ya, Kaptenku! Itulah dirimu! Selebihnya, ini hanyalah gejolak lain yang tak seberapa! "Kita pernah bertarung lebih sengit dari ini, dan selalu keluar menyandang menang!"

Jemari kasap mengambil alih, meremas gemas roda kemudi

"Bangkitlah, pemandu kami! Tegaklah seperti adanya dirimu. Pantang menunduk takluk, haram lutut menekuk!"

Kilat datang di berontak pandang, seru lantang di kerasrahang! Saatnya:

"Putar haluan, saudara sepelayaranku! Takkan kurelakan pengarungan ini terhempas pecah begitu saja! "Semua pukulan, terjangan, dan tamparan ini tak lebih cadas dari yang sudah! "Kaliskan lagi berandal tekad! Padukan mimpi kembali bulat! "Kembali bertarung, Kawan sejangkarku! Bertarunglah untuk bandar di mana dia selalu menunggu dengan dada menangkup rindu!"

Ini malam badai. Tangkis menyatu padu di gigih tantang, melawan kemelut--congkak mengangkang.

Ini malam badai--malam rindu sang pemburu

musirivermaya, 13 Desember 2012




SAYAP KIRI

barat aku ini, memanglah!
semburat setipis ari: sesurat
serut sarat perkara, sesirat
khidmat yang kumiliki

berat aku ini, timbanglah!
sepadang penuh gajah, padanku
cukuplah sekepul rajah, lunglai
jemari seselipan ganja

kiri kelopakku ini, timanglah!
saat kanan terpulut kaku, ketika
itulah kepakku kukuh-mengukuh
mati-matian menggondol sauh

kiri aku ini!

tanpaku... kanan tak iri!

yogyakarta, 02 oktober 2004



OVER MY DEAD BODY

aku punya seekor kijang
kaki jenjang lehernya panjang
bergaya jauh di padang, menggodamu
sipu dari balik tirai ilalang

memburunya?!

kau harus punya sumpit berlaras lebih panjang
membidik dari atas dadaku yang telentang, tentu
saat hela terakhir sudah jauh tinggalkan sarang

karena...

kijang tak sembarang kijang, ialah
ekorku yang menggelang!

musirivermaya, 01022014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar