Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Sukaryanta G. Utama

7. Rukuk Bunga Pepaya Jantan

Seorang perempuan memetik bunga pepaya jantan
pagi ini, ia seperti lupa mengenakan sayapnya
namun ia bisa mengepak seperti kupu-kupu
mengitari pohon pepaya.
Kegemilangan dari segala yang tampak
memetik bunga tanpa menjatuhkan butiran-butiran embunnya
seperti menjaganya dengan penuh kecemasan
namun tidak melupakan kehati-hatiannya,
dalam kelelapan embun-embun
dalam tangkai-tangkai bunga
dalam mimpi sepanjang ini bukan mimpi
dalam nyata yang melebihi kewajarannya
dalam kewajaran yang diselubungi gerak sucinya
hingga setinggi kilaunya.
Mungkin beribu malaikat ada di sekitarnya
dan semuanya pada kepatuhannya,
semua terjadi di atas ketidakmungkinan ini
meskipun sungguh ringan dalam tatapan
dan siapakah sebenarnya perempuan ini?
Bukan satu penampakan, 3 menit sudah bertahan
dengan jari-jari pemetiknya
dan menjaga tangkai-tangkainya
dan 3 menit yang luar biasa.
Dan bila keajaiban ini terus berlanjut
maka aku dalam keajaiban ini.
Menit-menit terus dalam keagungannya
bahkan ketika ia sudah selesai memetik bunga-bunga itu
dan berhasil menahan embun-embunnya.
Bukankah itu juga perempuan yang sama kulihat
ketika sore sebelumnya, menyirami pohon pepaya itu?
Yang ternyata juga membasuh bunga-bunga itu
hingga bertahan pada kesuciannya
yang sekarang seperti tertidur di tangannya
jelas terlihat pada kelelapan embun-embun itu.
Tapi sungguh siapa sangka, dalam menit-menit selanjutnya
keajaiban ini terus terjaga, dan mataku
memang melihat semua kebenaran ini.
Ya, Allah, sungguh Kau manjakan aku ini
siapakah sebenarnya perempuan yang Kau kirimkan ini
keindahannya setara dengan bidadari, yang kuyakini
tak lain adalah perempuan ini.
Setelah ia menghilang sejenak, di menit-menit berikutnya
tetapi segera kudengar orang menumbuk, di lumpang batu
tetapi pastilah perempuan tadi,
pastilah kuyakini ini, menumbuk bunga pepaya tadi
dengan tetesan embun-embunnya yang terjaga
tapi rukuk di tangannya, lalu memerasnya dalam saringan
dan menampungya dalam panci
seperti perempuan pembuat jamu
seperti jamaknya kenyataan dalam hidupku.
Sekarang ia datang lagi, dengan cangkir minun di tangannya
dan ia berdandan untuk kesederhanaan ini,
dan aku di atas kemewahan ini.
Tanpa mengatakan apa-apa, ia menyodorkan cangkir itu
seperti aku masih lena di kursi teras.
Aku tahu ini pasti rasanya pahit,
tetapi karena perempuan ini telah menyadorkannya kepadaku
aku musti menerimanya, seyakin ia dengan senyumnya.
“Kalau dengan minum ini aku mati, kaulah bidadariku,” kataku
dengan keyakinan itu aku minum.
“Kalau kau hidup?” tanyanya.
“Kau tetap bidadariku,” jawabku.
“Itu sama saja.”
“Tetapi siapakah sebenarnya kau ini,
seperti perempuan yang sama yang kulihat di tempat tidurku.?”
“Emang!”
“Jadi selama ini kau nyata ya?”
“Belum saatnya aku menjelma bidadari, sesekali tapi.”
Ya, kulihat tadi, tapi tak kukatakan ini,
saat ia dikerumuni para malaikat.
“Adakah yang ingin kaukatakan?” tanyanya.
“Adakah yang ingin kukatakan?” aku balik bertanya.
“Tidak?” tandasnya.
Ya, Allah, bangunkan aku
bila aku tidur dalam kelelapan ini
dan jangan Kau tidurkan aku dalam keterjagaan ini.
“Aamin.”
Ya, Allah sesungguhnya siapakah perempuan ini
ia tahu ketika aku berdoa
dan ketika aku tak mengatakan apa-apa
selalu siap dengan pelayanan-pelayanannya?
Dan ketika kutanya jawabannya cukup sederhana
dan lebih menyembunyikan di balik senyumnya.

Jakarta, 3/24/2014 3:52:56 AM

6. Mawar Malam


Mawar kepiluan. Tumbuh di ladang-ladang kesunyian
dengan derap langkah-langkah pergi
bukan kau penanamnya. Tapi kau bersekutu dengan
musim dan menajamkan duri-durinya
dengan pentul-pentul darah kata
yang memancarkan kilau merahnya:
aku wajah dalam kilau merah itu.
Seribu wajah tersembunyi dalam darah
yang tak akan kaukenali seandainya kau kembali
kecuali tangis yang dulu sekali
yang terasa lebih anyir.
Tapi buat apa kau datang bila hanya untuk melupa
dengan mengagumi semak mawar
yang tumbuh dari duka.
Kau memang tidak hadir
di kehadiran yang berwarna merah ini,
dalam samun kata-kata.
Kau akan membunuhku sekali lagi
untuk menghidupkan aku beribu kali
menghuni pucuk-pucuk duri
untuk sekedar terpelanting,
dengan tanpa prasangka kau akan tertusuk
duri-duri yang ditumbuhkan oleh musim itu
yang dengannya kau bersekutu
dan termakan oleh kutukku.
Maka aku pun bersekutu dengan musuh-musuhku
untuk sekedar melukaimu.
Tapi aku tak sesampai itu
aku lebih memilih melukai diri sendiri
sebab ini cara aku lebih menyukaimu
meskipun kau tak
tak cukup menakar diri.
Kau pilih, yang musti kau pilih
tapi jangan lantas menjadi rapuh
bila pilihan bukan dari yang terpilih.
Aku suka cara kau melukaiku
dan cara kau meninggalkanku.
Tapi kaulah bayangan mawar yang sembunyi
di balik tajam duri-durinya,
di balik hijau daun-daunnya,
di balik kerapuhan ini.
Dalam kesenduan tangsimu,
atau aku tak tahu
kalau itu senduku sendiri
yang tak bisa
kecuali kukepal dalam tinju beribu kali.
Kaulah yang membuatnya,
kuhancurkan benteng yang kudirikan sendiri
untuk terkubur di dalamnya.
Dan mengendus bangkaiku sendiri
dan menjadi sepanjang napasku,
kecuali aku mampu bangkit lagi
di tengah tangismu yang sunyi.
Terdengar sampai di sini
tangismu yang ini,
merungkuh malam berkali-kali
yang dulu kurengkuh sepenuh hati
cukup sekali kauludahi.
Agar aku membencimu
dan pura-pura ini telah pula menyakitimu
yang kutuliskan dalam sajak ini,
yang tak lagi bisa pura-pura.
Bukan lagi samun kata-kata
tapi tangismu yang sebenarnya
yang isaknya lebih tajam dari keris dan 7 mitosnya,
yang menghunusku tanpa menancapkannya
kecuali luka tusukannya
sehalus keris sutra.
Tangismu yang menghunjam
perih luka dada.

Kau hadir
dalam ketidakhadiran ini.
Mawar malam.

Jakarta, 3/8/2014 1:32:07 PM



5. Bunga Mistis Sedap Malam


Bunga sedap malam merenda cahaya, tidak dengan imaji tangannya dengan imaji aromanya
semerbak cahaya malam,
pusaran-pusaran detik yang menebar jaring laba-laba peraknya
jaring-jaring malam memenuhi dirinya dengan wajah-wajah malam
mata-matanya berkerjaban bagai kelopak-kelopak bunga yang membuka menutup
memancarkan keriangan.
Siapa yang datang akan diletakkan di sana, ruh-ruh putih yang bergayut di ranting-rantingnya
meminum oroma seperti meminum anggur yang tetes dari kendi-kendi
meminum terus dengan rasa haus yang terus meminta
menetes kembali karena tanpa wadah tubuh mereka,
mereka sendiri serupa kendi-kendi yang menetes.
Tetes-tetes kebeningan yang jatuh di atas tanah kehidupan
yang bangkit dari tanah kematiannya.
Malam dan serbuk-serbuk aroma seperti istal-istal
kebeningan dari kuda-kuda waktu,
yang terus meringkik sepanjang malam itu
dalam kebeningan-kebeningan aroma.
Jatuh di tungku-tungku waktu, di atas bara arang
menjadi aroma yang terbakar.
kebeningan asap-asap meliuk dalam perwujudan tubuh
tanpa wadah, mengasapi bunga-bunga dengan 7 batang cabang malamnya
yang digelayuti daun-daun kegelapan.
Serimbun gelap adalah pusat aroma.
Bila cahaya terang belum mendekat, malam terus menggerimis
dengan oramanya yang menusuk seperti jarum-jarum waktu
terus berjatuhan seperti ingin menujum sang waktu sendiri.
Cahaya laras, cahaya daun-daun, cahaya waktu yang mengepak
tinggi di atas bintang yang terpecil dan pancaran cahayanya
datang dari ribuan tahun yang lalu,
dan tiba di haribaannya kini.
Cahaya kebiruan di atas daun-daun yang sekejab
segera gugur dalam pusaran waktu dan hilang tanpa detak.
Kesunyian malam dan hal-ihwal yang  mengisinya
dengan segenap kekosonganya yang penuh
yang tertampung seluruh isinya,
tanpa kepenuhan dan semua berada di tempatnya.
Berdiri aku di antara mereka,
berdiri aku tanpa dasar,  dalam gelegak aroma.

Jakarta, 9/14/2013 6:57:38 PM


4. Gelas Anggur


Aku bangun tidur dan bermimpi, seorang wanita keluar
dari botol anggur yang kosong, yang luput aku tenggak
dan menyisakan kenangan yang  siksa: seperti lidah api
yang menjilat-jilat, tubuh api membakar api, dan menyala begitu bening.
Dan musnah dalam mata terjagaku.
Kukucek mataku dan tetap saja,
tak tertatap oleh mata nyalangku
tak senyata mimpiku. Ia yang bangun di lelapku,
dari wewangian padat tubuhnya,
yang meruap dari gelas anggur:
awal keberangkatan, dan tiada langkah pulang.
Tidaklah musti aku berdiri menunggu
dengan gelas-gelas anggur berikutnya
dan mimpi-mimpi sesudahnya?
Gelas yang pecah berdenting:
dan dari kejenihan langkahnya itu lagi.
Pergi pergi dan tak pernah kembali,
ada banyak kepergian dari orang yang sama
dan tak pernah kembali,
lantas rasa patut kehilangan ini disebut apa?
Serasa kupegang kekosongan ini
dan kurasakan daging udara, dan selingkar angin mencicin jari
seperti lingkaran es.
Dan kutatap botol-botol kosong anggur itu
dari sesuatu yang pergi
dan ia tak kembali,
setiap aku tenggelam di gelas-gelas kosong dan kutenggak tandas.
Aku yang tak bisa memisahkan mimpi dari kenyataan,
sebelum ia hilang dalam pusaran denting gelas
dalam repetisi langkah pergi
dan aku memandangnya seperti wanita suci
yang setara dengan ketiadaanya, namun terlajur memujanya dalam hati
dan aku menguncinya di botol-botol kosong.
Botol-botol yang bersih
harum bagai mimpi-mimpiku dan yang dielak oleh wanita itu beribu kali
untuk sekali saja ia kembali.

Jakarta, 1/15/2014 4:50:53 AM




3. Putri Teratai


Siapa melangkah di sunyi malam?
Kakinya seramping bunga teratai sejenang,
ia berjalan seperti sulur teratai berkembang, kuncuplah keindahan malam
malam tergelar di daun-daunnya yang hijau,
berkilauan kelam ke dalam keluasannya.
Air terpercik nyaring di denting malam serupa nyanyian
di kelam lain malam, terseberangkankah bayang?
Mata ikan mata ikan yang menatapnya di bening kolam
sudahkah ia menyeberang batas, sisi malam?
Ujudkan  siapa yang berdiri di bunga teratai,
ia terlingkari cahaya
ia tertandai sunyi
ia tersusu kabut.
Ia berdiri di sana tanpa ia berdiri di sana
pastilah ia telah menyeberang batas kemungkinan ini
pada bebayang yang patah pada ketertegakan teratai?
Langkahnya masih nyaring di atas perairan
di antara kecipak ikan-ikan dan dengung nyamuk-nyamuk
berkitaran kaki teratai sejenang,
bila ia pandangan yang urung di mata.
Sunyi mustilah ia mati berkali-kali
dan hidup kembali di nyaring langkahnya
di sisi langkah lain: carilah aku.
Desah  ingsang-ingsang ikan, akar-akar teratai, napas-napas kolam
jari-jari malam yang tercelup, dan bulan tujuh hari yang angslup,
waktu-waktu yang basah: carilah aku.
Ia tiada selain langkah gemericik
kaki-kaki teratai yang menapak di atas perairan
tiada jejak, kecuali pendar-pendar air yang terbit
dari tetes-tetes air di atas kolam,
teratai yang tegak dan bebayangnya yang hilir-mudik
dengan mata teratai bulan sabit
dengan luruhan di dasar kolam,
tiada yang bangkit dan terangkat.
Tarian malam ikan-ikan di udara,
teratai-teratai yang menyelam,
akar-akar yang mendusin,
dan gerak lembut  putri teratai.

Jakarta, 9/18/2013 7:57:49 PM

2. Laut dalam Sebutir Embun


Laut telah tertangkap, telah dibenam dalam sebutir embun
telah terpantai ombak pecah tanpa kebenaran hantaman pada embun         
ia tak pecah dihantam ombak, perciknya pecah di karang
membuncah dalam makna di kelompang embun,
telah hadir laut dalam kepenuhan udara dalam embun
dalam mata udara embun laut ia tatapkan, ia tatapkan pada dirinya
dalam dunia lingkaran air. Laut kekosongan
laut tanpa air, laut hanya cerminan dalam embun
ombak memukul hampa, lidah laut tanpa jilatan basah keramatnya
meskipun tetap dengan hasrat-hasrat besarnya
yang tak gemuruh di dalam embun,
seperti kesunyian laut di cawan embunnya
di bawah langit kekosongan.
Kehadiran yang tak hadir dalam sebutir embun
kekosongan yang milik laut dan langitnya,
dunia sementara yang mengantung rapuh di sebatang rumput.
Semesta yang terhimpun maya,
musti dipuja sama tinggi dengan laut di depannya.
Gelora kekosongan yang tatapkan dirinya ke arah matahari,
kekosongan laut,  dan elemen-elemen udara, dalam ari-ari embun
pecah terbakar cahaya dan tanpa hancuran laut,
hanya kebeningan udara yang mendaki tangga cahaya
matahari telah membuka,
telah terbuka makna tersiratnya.
Matahari yang suwung di sebatang rumput adalah kebeningan
laut yang terpacak di depannya menggelora,
istana-istana pasir dalam cangkang waktu antara pukulan ombak dan sapuannya
kepiting-kepiting yang tenggelam di istananya dan remukannya
dan waktu-waktu tergulingnya,
kisah-kisah pasir.
Berkilauan matahari atas pasir dan busa laut, biji-biji rumput
benih-benih angin,
berhamburan waktu dan matahari dan kebenaran dunia embun
laut pecah dan menghampar, cangkih-mencangkih ombak-ombak karang
batang-rumput hilir-mudik,
matahari berkilauan di wajah laut. Tanpa sebutir embun
dunia yang selesai dan senantiasa.

Jakarta, 9/16/2013 2:27:06 AM


1. Bokeh Daun

Selembar daun kuning keemasan dan bayangannya
membujur di atas air dengan suaranya yang biru
gemerincing di nyala kuning keemasan yang bernapas dekat udara.
Cahaya koin koin kebiruan kehijauan keperakan di antara yang hijau di antara yang putih
lebih menyala seolah memaut semua keindahan ini,
titik titik cahaya putih dekat air berkelip mendaki tinggi udara
di koin koin birunya hijaunya keperakannya kemataharinya,

cahaya koin cahaya koin di atas perairan biru,
cahaya perairan biru yang menampung selembar daun keemasan dan bayangannya
dalam pantul keemasan menyala membuka cahaya yang meluas mencari batas airnya
dan mendapatkan batas udaranya yang biru berkerumun
dalam koin-koin menyala dan cahaya-cahaya pecahannya.

Selembar daun yang disucikan oleh cahaya selembar daun dan warna keemasannya.
Ia bertahan di atar air, di atas semua yang biru
mengisi dirinya dengan air,
tapi ditampungnya juga udara ditampungnya napas terakhir
mendaki di antara uap-uap air dan pori-pori udara di bawah cahaya koin-koin,
mengapung sepenuh dirinya
sepenuh air menjangkaunya.
Ia dengar dirinya dalam nyanyian cahaya biru
tapi belumlah ia terlelap sepenuh raga
matanya masih mengintip dasar perairan biru
dan berbenah, kiranya aku berkubur dalam air
di atas tanah semua yang berair,
dan gelembung-gelembung udaranya yang menyala ke atas air
pecah menjadi koin-koin cahaya;
aku di atas mimpi semua itu.
Matahari dan kerlip koin-koin
menyala pada rangka daun, pucuk daun keemasan tangkai daun kecoklatan
menyala di atas kebiruan air, api biru yang beriak
pada kepenuhan koin-koin dan kerlip matahari.
Tersabdalah setangkai daun kuning keemasan
tersabdalah dalam biru telaga,
tersabdalah dalam koin-koin cahaya
tersabdalah dalam riak-riak antara matahari kedap dan langkan
nasib hari,
selembar yang gugur.

Jakarta, 9/5/2013 7:09:19 PM

Tidak ada komentar:

Posting Komentar