JANJI
Terselimut
luluh seluruh
pada debu
halus beledu
dalam
kering, damai terhambus
betapa tak
ada daya
renjana...
semua sirna
ditelan pekat harap
Itu
selimutmu
lembut
menutup, erat mendekap
jemari sang
kala,
tak berdaya
merenggut benang kusut
yang di
dalamnya
aku terajut.
Untaian
syair bernadakan sedih,
menguap pada
setangkup pelangi;
terisi
lembaran janji
kendati tak
pasti,
ingin ku
buat jadi pasti
itu mimpi
sianghari
Ku lumuri
duri seputar diri
yang pada
tiap ujungnya,
terpatri
pelangi
biarkan
mereka terjerat indah warna,
lalu duri
duri beraksi
Mengeksekusi.
Juni2013
Sejiwa
(Kilan
Winaya )
Teman...
kita sudah
terlalu lama
berjalan,
dan
kufikir kau
dan aku, telah sama- sama saling mengerti ;
kita
bukanlah sejiwa...
Aku ( adalah
Ia), yang tersimpan jauh di dalam dadamu
- di balik
rusuk -
tersembunyi
di sela- sela setiap detak jantungmu..
Aku adalah ia...
yang
terhubung antara nadimu,
antara suara
dan matamu..
Aku adalah
ia..
yang
terantuk saat kau selalu menyelinap pergi,
kala
berfikir ( tanpa sadar )
bahwa aku
tak pernah ada di sisimu.
Padahal...
akumu
adalah
milik
iamu
Mei2013
Aku dan Kamu
- Kita -
Di belakang
rumah tua itu,
kita
bercumbu
“Wajahmu
elok mirip adonan tahu” kataku
kau tertawa
atau cemberut,
aku tak
lihat
tapi
kudengar suaramu seperti senandung perkutut
yang sakit
gigi
“ Teimakasih
kang” katamu
suaramu tak
ikhlas - aku tahu
matahari
sore diatas langit, turun malu malu
mengencerkan
adonan tahu.
Aku dan kamu
bertatapan
sebelah mata
ada sedikit
air di pelupuk matamu
aku terharu
ternyata air
aitu turun dari udara lembab
di langit
langit rindumu- yang birumuda-
Matahari
sudah pergi ke kolong langit
sedikit
gelap menutupi hati kita
tapi dari
lobang lobang kecil di tanah,
sinar
matahari mengintip
kita berubah
jadi polkadot
dan
aku menatap
setan dibelakang layar
Tiba tiba
bajuku bajumu tanggal
dan rembulan
yang marah
menghancurkan
adonan tahu
Aku dan kamu
- kita -
jatuh ke
jurang menganga
dibawahnya
ada buaya
atau komodo?
Mataku gelap
gelap mata
5feb14
Beban
Di sudut
gelap itu teronggok sehelai baju koko
pemiliknya
telah pergi
meniti
batangan batangan ayat
yang telah
renta dimakan lafal
Dia
si pencari
yang tak pernah menemu
di kopiah
lapuknya, hanya terkumpul
penganan
penganan pasar
yang dia
beli dengan sejemput doa demi doa
dibalik kain
sarungnya
huruf Arab
berubah menjadi aksara Cina
dan
ulat ulat
kecil berloncatan keluar mencari Lam dan Mim
Hari telah
beranjak senja
tapi rekal
tempatnya membaca Kitab
tak pernah
jadi ukiran
malah
rayapan
dan
pincang!
Dia pergi
memikul beban doa,
yang tampak
berisi tapi ternyata hampa
di
pergelangan kakinya, bandul besi berukir ayat suci
memberati
tiap langkahnya
Sementara,
otak
kecilnya panas terpanggang
dan berubah
merah membara
nyala...
Sujudnya
habis terbakar
Hangus!
(Puasa hari
ke14,23Juli2013)
Hilang
Dewi Arum
Kedaton
mencari
raganya di semak semak
seputih
kapas mukanya
tercoreng
ribuan noda
Gemetar
sinar rembulan
berpendar
menerpa patahan tulang
aduhai Dewi
hilang di
pusaran waktu
tak satupun
peramal
bisa
menafsir
Pulanglah
dalam damai
tak raga
tak jiwa
milikmu
4feb14
Tidak ada komentar:
Posting Komentar