Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Kakek Jomblo Tampan

REMBULAN KUNING

seribu angin,tuliskan malam dalam lembar kelam
sunyi langit lemparkan gemuruh jarum jam yang berdentang
katakata arungi samudra mimpi
dalam percakapan sepi
kutoreh di bibirnya yang merona,kata saga
dan kunikmati bolamatanya yang mengerling jingga
dalam hutanhutan hatiku
kau coba terus telusuri aroma bunga cinta
sebagai rindu pelepas lara
yang kadang tersesat di gununggunung kalbu yang bersalju
nyanyian kunang masih menjadi kelopak malam
cemara-cemara hening renungi mata rembulan
yang masih menguning di perbatasan kabut yang dingin
kini tinggalah gerimis sebuah
basahi langit,yang lontarkan gelisah
pada bunga-bunga dan nostalgianya
sejenak aku heningkan semesta
dalam dekap akar angin
untuk dengarkan alunan cakap
kelelawar dengan malam
di beranda ini udara tak kurasa lagi
hanya hampa yang meraba memintas hingga kejiwa
rembulan itu kini terus berlayar
arungi gigil kabut,hingga kewaktu yang berwajah derita
aku ingin pulang kerumah darahmu
hantarkan segala kekecewaan yang kukemas sebagai hadiah
di sepuluh malam yang kau sayatkan seribu mata sembilu
dan lara semakin menganga,
meradang di rogga-rongga petaka
lalu kukendarai kereta duka
menuju rimba semu dalam kalbumu yang beku
untuk mengejar sebuah pertemuan
di antara selaksa sejuta rindu,
duhai kekasihku


ROEMAH BAMBOE,2013


DENDAM CINTA YANG MEMBARA

aku adalah seorang perempuan
dengan segerombol dendam,
yang menyala di dada
perlahan aku datang meyusuri derita waktu
untuk mengejar semua sisa-sisa cinta
yang telah kau khianati
sambil kugenggam segala kisah
di antara getar alir darah yang penuh amarah
ooo, betapa tersayatnya lembar jantungku ini
ketika kau semakin jauh menyampakkan bayangbayangku dari mimpimu
aku semakin benci melihat kegagalan cinta ini
dinding-dinding angin yang semakin dingin
tak akan mampu memadamkan api cemburuku
yang semakin memburu
sukmaku terkapar di atas pilu
aku terbuang bagai seonggok perdu
aku terhina bagai seekor anjing busuk
aku begitu malu dengan ragaku
akan kuhancurkan wajah mayapada ini
akan ku robek seluruh langit ini
akan kubakar semua nostalgia cinta ini
dengan gumpalan api marah dan benci
dan akan kutembus segala luka di atas samudra lara ini
agar pengembaraan dendamku semakin abadi
melaknat semua bentuk rupamu
duhai lelakiku!!!
kini,akan kuhirup semua udara kesendirianku
sampai aku mabuk dan kepayang
oleh aroma udara dendam
yang begitu subur berkembang dalam jiwaku

kampoeng oengoe,2013


AKU LUPA PADA JUDUL PUISI INI

aku datangi mentari
di ufuk pagi bersama gamang nyanyian kenari
kutapaki jalanjalan kusam berdebu
bersama kidung rintihan sibuyung yang kelaparan
kutelusuri seluruh hari dengan irama caci maki
para pengendara dan pejalan kaki
aku nikmati alur keringat yang meniti
di atas tubuhku yang terpeluk terik mentari
aku hiasi semadiku dengan kaleng usang demi sesuap nasi
aku isi tengadah tanganku degan do'a
sebagai pengemis tua
karena aku tak lagi mampu mencuri apalagi korupsi
seperti para peguasa yang ada di negeri ini
ooo,dermawan yang menawan
umpatlah aku sebagai orang yang tak berguna
cemoohlah aku seperti anjing yang kelaparan
tapi aku akan tetap tersenyum
menerima umpatmu dalam hati yang ikhlas tersayat
aku tahu,kau tak akan pernah mau tahu
betapa menderitanya hidup anak-anaku
ketika semua jalan hidup di negeri ini
kau kuasai dengan janji-janji yag tak pernah pasti

ach,petang telah berkumandang
mentari semakin menyingsing ke ufuk senja yang gersang
deru mesin dan debu berbau bensin
hantarkan tubuhku pada letih yang menyiksa diri
seribu juta umpatan para dermawan
telah kukemas menjadi butiran rupiah
yang berdenting di dalam kaleng usang ini
kemudian perlahan aku bergegas pulang
membawa sejuta harap tentang perut yang akan terasa kenyang
tak lupa aku mampir di warteg sebelah kiri jalan
untuk memesan sebungkus nasi putih dan dua potong tempe goreng
karena aku yakin ketiga anakku sedang menanti sebuah rezeki
karena seharian tadi perutnya belum juga terisi
ooo,anak-anakku betepa miris hidup di negeri ini
apakah kau bangga pada bapakmu,anakku?
seorang bapak yag mencari sesuap nasi di atas hinaan para pengabdi
apakah kau bangga,o anakku?!!!

jalan pulang semakin rembang
di depan halaman penuh sampah
pintu berkayu rapuh tanpa engsel sedikit ternganga
dari dalam malaikatku segera berhamburan
dengan wajah setengah pucat menahan lapar
mendekap bahagia sang bapak yang di anggap begitu perkasa
lalu menuntun menuju sebuah rumah kecil berdinding kardus dan koran
tempat aku dan anak-anaku berbagi cerita suka maupun duka
tempat aku dan anak-anakku melepas lelah dan gelisah
tempat aku dan anak-anakku mengukir sebuah masa depan yang telah tenggelam

ach!!,nyeri,miris,hatiku semakin teriris
kala anak-anakku berebut suap
dalam sebungkus nasi yang kubuka
namun aku masih dapat menghela nafas
ketika mereka bercanda bercerita tentang perut yang telah kenyang
tertawa,bergelitik menjadi atas koran-koran sampah yang gantikan kasur
tempat mereka biasa menganyam sejuta mimpinya

tak lama malam kian merambat
lampu-lampu jalan menyapa gelap
dan perlahan mata mereka mulai terlelap
mengarungi mimpi yang terasa semakin senyap

bersama ribuan nyamuk yang riang berpesta pora
menghisap darah

ROEMAH BAMBOE,2013


BIARKANLAH LUKA ITU SEMAKIN MENUSUK JANTUNGKU

haru kalbu bergetar darah
sendu biru di tikam amarah
nyanyian angin menggelar serapah
di pucuk malam purnama jiwaku semakin gelisah
mimpimimpi mulai merapal nisan angkara
udara benci tak lagi batasi diri
menembus menusuk dalam pembuluh nadiku
mengkhianati segala janji
tentang sebuah cinta yang pernah bersemi
kemudian perlahan demi perlahan
kuusung segunung keperihan hati
sampai setinggi mentari
agar kau tahu betapa tersiksanya jantungku
yang bernafas dalam lumpur rasa yang penuh luka
o,bathara durga
lekas kau selimuti sukmaku dengan keangkuhanmu
agar aku mampu menahan terjalnya tebing kalbu yang begitu sendu
sebab di sini di atas langit cintaku
telah terbungkam seratus juta kabut merandu
yang semakin membuat rinduku membeku
kesepian yang panjang,telah membentang
menggerogoti amsal makna sebuah kebahagiaan rasa
dan degup jantungku semakin terkekang
di barisan kata-kata yang kau ucapkan
sebagai perpisahan

nur,jangan kau utarakan lagi
hawa langit semakin menghimpit
pergilah saja tinggalkan pintu yang berderit
agar jejakmu masih dapat aku kait
untuk pengobat hati kala rasa semakin menjepit
nur,
pergilah,pergi sayang

roemah api,1999



SAJAK UNTUK PEREMPUAN PENYAIR

(kutulis sajak ini di bawah deras hujan)

perempuan itu,adalah penulis syair yang bisu
wajahnya begitu kelabu,
aksaranya penuh sendu
sajaksajaknya melukis rasa beku
matanya selalu nanar penuh madu merandu
siapa yang tahu?
kalau dia menyimpan sejuta salju
hingga hatinya gigil membeku kaku

ach,...malam telah lewat,
di raihnya mimpi dengan harap berkarat
bait demi bait,
katakatanya semakin menyayat
bulan masih sabit,
di rengkuhnya agar gulita tak merapat
lalu dia coba bercakapcakap
pada cemara yang berderit cepat
bertanyatanya kepada angin yang datang melesat
tentang kesunyian yang terus menjerat
tentang kerinduan yang terus mendarat
tentang apa saja yang selalu memburu
di dadanya yang berat

perempuan itu,
adalah penulis syair yang resah
tubuhnya bergetar penuh gelisah
bibirnya merona penuh amarah
nafasnya bergerak memecah parah
tak ada ucap,
hanya tinta mecipta darah
di sela rintih hujan,
hati mati terbunuh pasrah

ROEMAH BAMBOE,2013




BIARKANLAH LUKA ITU MENUSUK JANTUNGKU

haru kalbu bergetar darah
sendu biru di tikam amarah
nyanyian angin menggelar serapah
di pucuk malam purnama jiwaku semakin gelisah
mimpimimpi mulai merapal nisan angkara
udara benci tak lagi batasi diri
menembus menusuk dalam pembuluh rasa
mengkhianati segala janji
tentang sebuah cinta yang pernah bersemi
kemudian perlahan demi perlahan
kuusung segunung keperihan hati
sampai setinggi mentari
agar kau tahu betapa tersiksanya jantungku
yang bernafas dalam lumpur rasa yang penuh luka
o,bathara durga
lekas kau selimuti sukmaku dengan keangkuhanmu
agar aku mampu menahan terjalnya tebing kalbu yang begitu sendu
sebab di sini di atas langit cintaku telah terbungkam seratus juta kabut merandu
yang semakin membuat rinduku membeku
kesepian yang panjang,telah membentang
menggerogoti amsal makna sebuah kebahagiaan rasa
dan degup jantungku semakin terkekang
di barisan kata-kata yang kau ucapkan
sebagai perpisahan
nur,jangan kau utarakan lagi
hawa langit semakin menghimpit
pergilah,tinggalkan saja pintu yang berderit
agar jejakmu masih dapat aku kait
untuk pengobat hati kala rasa semakin menjepit
nur,pergilah pergi,sayang


roemah api,1999



PEREMPUAN TUA DI BAWAH JEMBATAN KOTA

perempuan itu sudah mati
jasadnya di selimuti sepi
matanya teduh sunyi
bibirnya terkatup benci

di wajahnya tersimpan kerut duka
di rambutnya tertata suram usia
dia mati karena menahan derita
dari riuhnya kehidupan kota

ROEMAH BAMBOE,2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar