REMBULAN
KUNING
seribu
angin,tuliskan malam dalam lembar kelam
sunyi langit
lemparkan gemuruh jarum jam yang berdentang
katakata
arungi samudra mimpi
dalam percakapan
sepi
kutoreh di
bibirnya yang merona,kata saga
dan
kunikmati bolamatanya yang mengerling jingga
dalam
hutanhutan hatiku
kau coba
terus telusuri aroma bunga cinta
sebagai
rindu pelepas lara
yang kadang
tersesat di gununggunung kalbu yang bersalju
nyanyian
kunang masih menjadi kelopak malam
cemara-cemara
hening renungi mata rembulan
yang masih
menguning di perbatasan kabut yang dingin
kini
tinggalah gerimis sebuah
basahi
langit,yang lontarkan gelisah
pada
bunga-bunga dan nostalgianya
sejenak aku
heningkan semesta
dalam dekap
akar angin
untuk
dengarkan alunan cakap
kelelawar
dengan malam
di beranda
ini udara tak kurasa lagi
hanya hampa
yang meraba memintas hingga kejiwa
rembulan itu
kini terus berlayar
arungi gigil
kabut,hingga kewaktu yang berwajah derita
aku ingin
pulang kerumah darahmu
hantarkan
segala kekecewaan yang kukemas sebagai hadiah
di sepuluh
malam yang kau sayatkan seribu mata sembilu
dan lara
semakin menganga,
meradang di
rogga-rongga petaka
lalu
kukendarai kereta duka
menuju rimba
semu dalam kalbumu yang beku
untuk
mengejar sebuah pertemuan
di antara
selaksa sejuta rindu,
duhai
kekasihku
ROEMAH
BAMBOE,2013
DENDAM CINTA
YANG MEMBARA
aku adalah
seorang perempuan
dengan
segerombol dendam,
yang menyala
di dada
perlahan aku
datang meyusuri derita waktu
untuk
mengejar semua sisa-sisa cinta
yang telah
kau khianati
sambil
kugenggam segala kisah
di antara
getar alir darah yang penuh amarah
ooo, betapa
tersayatnya lembar jantungku ini
ketika kau
semakin jauh menyampakkan bayangbayangku dari mimpimu
aku semakin
benci melihat kegagalan cinta ini
dinding-dinding
angin yang semakin dingin
tak akan
mampu memadamkan api cemburuku
yang semakin
memburu
sukmaku
terkapar di atas pilu
aku terbuang
bagai seonggok perdu
aku terhina
bagai seekor anjing busuk
aku begitu
malu dengan ragaku
akan
kuhancurkan wajah mayapada ini
akan ku
robek seluruh langit ini
akan kubakar
semua nostalgia cinta ini
dengan
gumpalan api marah dan benci
dan akan
kutembus segala luka di atas samudra lara ini
agar
pengembaraan dendamku semakin abadi
melaknat
semua bentuk rupamu
duhai
lelakiku!!!
kini,akan
kuhirup semua udara kesendirianku
sampai aku
mabuk dan kepayang
oleh aroma
udara dendam
yang begitu
subur berkembang dalam jiwaku
kampoeng
oengoe,2013
AKU LUPA
PADA JUDUL PUISI INI
aku datangi
mentari
di ufuk pagi
bersama gamang nyanyian kenari
kutapaki
jalanjalan kusam berdebu
bersama
kidung rintihan sibuyung yang kelaparan
kutelusuri
seluruh hari dengan irama caci maki
para
pengendara dan pejalan kaki
aku nikmati
alur keringat yang meniti
di atas
tubuhku yang terpeluk terik mentari
aku hiasi
semadiku dengan kaleng usang demi sesuap nasi
aku isi
tengadah tanganku degan do'a
sebagai
pengemis tua
karena aku
tak lagi mampu mencuri apalagi korupsi
seperti para
peguasa yang ada di negeri ini
ooo,dermawan
yang menawan
umpatlah aku
sebagai orang yang tak berguna
cemoohlah
aku seperti anjing yang kelaparan
tapi aku
akan tetap tersenyum
menerima
umpatmu dalam hati yang ikhlas tersayat
aku tahu,kau
tak akan pernah mau tahu
betapa
menderitanya hidup anak-anaku
ketika semua
jalan hidup di negeri ini
kau kuasai
dengan janji-janji yag tak pernah pasti
ach,petang
telah berkumandang
mentari
semakin menyingsing ke ufuk senja yang gersang
deru mesin
dan debu berbau bensin
hantarkan
tubuhku pada letih yang menyiksa diri
seribu juta
umpatan para dermawan
telah
kukemas menjadi butiran rupiah
yang
berdenting di dalam kaleng usang ini
kemudian
perlahan aku bergegas pulang
membawa
sejuta harap tentang perut yang akan terasa kenyang
tak lupa aku
mampir di warteg sebelah kiri jalan
untuk
memesan sebungkus nasi putih dan dua potong tempe goreng
karena aku
yakin ketiga anakku sedang menanti sebuah rezeki
karena
seharian tadi perutnya belum juga terisi
ooo,anak-anakku
betepa miris hidup di negeri ini
apakah kau
bangga pada bapakmu,anakku?
seorang
bapak yag mencari sesuap nasi di atas hinaan para pengabdi
apakah kau
bangga,o anakku?!!!
jalan pulang
semakin rembang
di depan
halaman penuh sampah
pintu
berkayu rapuh tanpa engsel sedikit ternganga
dari dalam
malaikatku segera berhamburan
dengan wajah
setengah pucat menahan lapar
mendekap
bahagia sang bapak yang di anggap begitu perkasa
lalu
menuntun menuju sebuah rumah kecil berdinding kardus dan koran
tempat aku
dan anak-anaku berbagi cerita suka maupun duka
tempat aku
dan anak-anakku melepas lelah dan gelisah
tempat aku
dan anak-anakku mengukir sebuah masa depan yang telah tenggelam
ach!!,nyeri,miris,hatiku
semakin teriris
kala
anak-anakku berebut suap
dalam
sebungkus nasi yang kubuka
namun aku
masih dapat menghela nafas
ketika
mereka bercanda bercerita tentang perut yang telah kenyang
tertawa,bergelitik
menjadi atas koran-koran sampah yang gantikan kasur
tempat
mereka biasa menganyam sejuta mimpinya
tak lama
malam kian merambat
lampu-lampu
jalan menyapa gelap
dan perlahan
mata mereka mulai terlelap
mengarungi
mimpi yang terasa semakin senyap
bersama
ribuan nyamuk yang riang berpesta pora
menghisap
darah
ROEMAH
BAMBOE,2013
BIARKANLAH
LUKA ITU SEMAKIN MENUSUK JANTUNGKU
haru kalbu
bergetar darah
sendu biru
di tikam amarah
nyanyian
angin menggelar serapah
di pucuk
malam purnama jiwaku semakin gelisah
mimpimimpi
mulai merapal nisan angkara
udara benci
tak lagi batasi diri
menembus
menusuk dalam pembuluh nadiku
mengkhianati
segala janji
tentang
sebuah cinta yang pernah bersemi
kemudian
perlahan demi perlahan
kuusung
segunung keperihan hati
sampai
setinggi mentari
agar kau
tahu betapa tersiksanya jantungku
yang
bernafas dalam lumpur rasa yang penuh luka
o,bathara
durga
lekas kau
selimuti sukmaku dengan keangkuhanmu
agar aku
mampu menahan terjalnya tebing kalbu yang begitu sendu
sebab di
sini di atas langit cintaku
telah
terbungkam seratus juta kabut merandu
yang semakin
membuat rinduku membeku
kesepian
yang panjang,telah membentang
menggerogoti
amsal makna sebuah kebahagiaan rasa
dan degup
jantungku semakin terkekang
di barisan
kata-kata yang kau ucapkan
sebagai
perpisahan
nur,jangan
kau utarakan lagi
hawa langit
semakin menghimpit
pergilah
saja tinggalkan pintu yang berderit
agar jejakmu
masih dapat aku kait
untuk
pengobat hati kala rasa semakin menjepit
nur,
pergilah,pergi
sayang
roemah
api,1999
SAJAK UNTUK
PEREMPUAN PENYAIR
(kutulis
sajak ini di bawah deras hujan)
perempuan
itu,adalah penulis syair yang bisu
wajahnya
begitu kelabu,
aksaranya
penuh sendu
sajaksajaknya
melukis rasa beku
matanya
selalu nanar penuh madu merandu
siapa yang
tahu?
kalau dia
menyimpan sejuta salju
hingga
hatinya gigil membeku kaku
ach,...malam
telah lewat,
di raihnya
mimpi dengan harap berkarat
bait demi
bait,
katakatanya
semakin menyayat
bulan masih
sabit,
di
rengkuhnya agar gulita tak merapat
lalu dia
coba bercakapcakap
pada cemara
yang berderit cepat
bertanyatanya
kepada angin yang datang melesat
tentang
kesunyian yang terus menjerat
tentang
kerinduan yang terus mendarat
tentang apa
saja yang selalu memburu
di dadanya
yang berat
perempuan
itu,
adalah
penulis syair yang resah
tubuhnya
bergetar penuh gelisah
bibirnya
merona penuh amarah
nafasnya
bergerak memecah parah
tak ada
ucap,
hanya tinta
mecipta darah
di sela
rintih hujan,
hati mati
terbunuh pasrah
ROEMAH
BAMBOE,2013
BIARKANLAH
LUKA ITU MENUSUK JANTUNGKU
haru kalbu
bergetar darah
sendu biru di
tikam amarah
nyanyian angin menggelar serapah
di pucuk malam purnama jiwaku
semakin gelisah
mimpimimpi mulai merapal nisan angkara
udara benci tak lagi
batasi diri
menembus menusuk dalam pembuluh rasa
mengkhianati segala janji
tentang
sebuah cinta yang pernah bersemi
kemudian perlahan demi perlahan
kuusung segunung
keperihan hati
sampai setinggi mentari
agar kau tahu betapa tersiksanya
jantungku
yang bernafas dalam lumpur rasa yang penuh luka
o,bathara durga
lekas
kau selimuti sukmaku dengan keangkuhanmu
agar aku mampu menahan terjalnya tebing
kalbu yang begitu sendu
sebab di sini di atas langit cintaku telah terbungkam
seratus juta kabut merandu
yang semakin membuat rinduku membeku
kesepian yang
panjang,telah membentang
menggerogoti amsal makna sebuah kebahagiaan rasa
dan degup
jantungku semakin terkekang
di barisan kata-kata yang kau ucapkan
sebagai
perpisahan
nur,jangan
kau utarakan lagi
hawa langit semakin menghimpit
pergilah,tinggalkan saja pintu
yang berderit
agar jejakmu masih dapat aku kait
untuk pengobat hati kala rasa semakin
menjepit
nur,pergilah pergi,sayang
roemah
api,1999
PEREMPUAN
TUA DI BAWAH JEMBATAN KOTA
perempuan
itu sudah mati
jasadnya di
selimuti sepi
matanya
teduh sunyi
bibirnya
terkatup benci
di wajahnya
tersimpan kerut duka
di rambutnya
tertata suram usia
dia mati
karena menahan derita
dari riuhnya
kehidupan kota
ROEMAH
BAMBOE,2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar