1. SELEPAS
SUBUH
katamu siang
itu; dua hari lalu
kau melihat
sekawanan capung jarum
terbang
beriringan di halaman
usung
sehelai tikar jerami,
menyungkupmu
lalu pagi
tadi,kau minta bukakan pintu
untuk
ratusan orang penuhi pelataran
datang
menjenguk, ujarmu
dan malam
ini,ada senyap yang tak biasa
hembus angin
lebih lembut, hangat
derik
jangkrik dan nyanyian serangga malam,
serupa gumam
teredam
kau tak lagi
bicara padaku
hanya
bisikkan nama Kekasihmu
di antara
tarikan nafas yang memberat
tengah malam
kuhampar tikar-tikar jerami,
buka pintu
selebar-lebarnya
menerima
kedatangan merekah
aturkan
salam dan rangkaian bunga
teronce
syahdu dari bibir gemetar
rumah
dipenuhi wangi bunga
kulihat,
senyummu kian menjauh
selepas
shalat subuh di surau,
barisan
panjang jemaah antar kepulanganmu
kelopak
bunga penuhi jalan-jalan
semerbak
melangit tinggi
aku beku
dipeluk renyai
Palembang
|080613|
2. SEMBILU
RINDU
Sudah
berbilang tahun namamu bergantung di ujung lidah, selalu melompat tanpa harus
kuingat. Ingin kusimpan di barisan kata, agar lidahku tak kaku sebut selainmu;
lidahku terpaku namamu, tapi ia beku di ujung jemari. Mungkin kusimpan saja
tiap huruf berbalut kenangku tentangmu, dalam sajak sederhana di sudut hati
sana.
Masih lekat
di pelupukku saat senja bertudung mendung, dan hembus angin serupa isak,
mengusung harum bunga kopi bercampur
aroma khas cengkeh, menyeruak di antara obrolan kita di bangku bambu itu.
Pandangku tertumbuk matamu, tajam berlumur kasih, dengan riak tipis duka di
kedalamannya. Tak sempat ku urai tanya yang melintas, kutertunduk menatap
tautan jemariku; malu.
Kini senjaku
telah karam bersama tanya di rahimnya. Sisakan gelap walau di langit sana
benderang disepuh kilau bintang. Aku seperti jeda di antara senja dan malam tak
berjeda. Kusam dalam bayang muram diantara langit-bumi tempatku berada kini: ruang kosong, sejak kepergianmu.
Dan kubiarkan tetap begitu, tak hendak kuganti
bahkan secuil cat yang mengelupas di sudut sana. Agar aroma dan butiran
kenang yang dulu mengalir dari danau cintamu tetap utuh.
Aku tak
ingin guratan puisi dan surat-suratmu yang bertebaran di tiap celah dindingnya
terhapus jejak baru. Meski beberapa
huruf memudar, luntur saat kubaca dalam hujan, tapi tiap peri begitu lekat di
ingatan, aku bisa membacakannya untukmu tanpa melihat suratnya. Dan itu yang
aku lakukan di ruang kosong ini, ketika jemari rindu garukiku, seperti belati
rauti bambu; ngilu!
Palembang
|170114|
3. PENGANYAM
GERIMIS
Seikat rindu
kau kirim pagi ini. Wanginya penuhi kamarku, mengalir ke ruang-ruang kosong
berdebu. Biasanya di sana hanya terhidu sepi yang lembab, pengap; menyesakkan!
Tapi hari ini ronggaku begitu lega, menghirup udara baru; kau!
Dan dari
kelopak-kelopak rindu yang kau kirim, aku seakan melihatmu, berbalut jas hujan
duduk di antara rinai menggerimis, deru angin bergaram, lalu lalang para
pengusung mimpi yang menitipkan mimpi-mimpinya di roda-roda, pada sampan-sampan
yang ayun-temayun dibuai alun, juga pekik camar yang tak lelah mengepakkan
mimpinya ; kau asik menganyam gerimis jadi seuntai sajak yang mendendangkan
rindu: untukkukah?
Palembang
|280114|
Tidak ada komentar:
Posting Komentar