Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Eni Ratnaningsih

1. SELEPAS SUBUH

katamu siang itu; dua hari lalu
kau melihat sekawanan capung jarum
terbang beriringan di halaman
usung sehelai tikar jerami,
menyungkupmu

lalu pagi tadi,kau minta bukakan pintu
untuk ratusan orang penuhi pelataran
datang menjenguk, ujarmu

dan malam ini,ada senyap yang tak biasa
hembus angin lebih lembut, hangat
derik jangkrik dan nyanyian serangga malam,
serupa gumam teredam
kau tak lagi bicara padaku
hanya bisikkan nama Kekasihmu
di antara tarikan nafas yang memberat

tengah malam kuhampar tikar-tikar jerami,
buka pintu selebar-lebarnya
menerima kedatangan merekah
aturkan salam dan rangkaian bunga
teronce syahdu dari bibir gemetar
rumah dipenuhi wangi bunga
kulihat, senyummu kian menjauh

selepas shalat subuh di surau,
barisan panjang jemaah antar kepulanganmu
kelopak bunga penuhi jalan-jalan
semerbak melangit tinggi
aku beku dipeluk renyai

Palembang |080613|



2. SEMBILU RINDU

Sudah berbilang tahun namamu bergantung di ujung lidah, selalu melompat tanpa harus kuingat. Ingin kusimpan di barisan kata, agar lidahku tak kaku sebut selainmu; lidahku terpaku namamu, tapi ia beku di ujung jemari. Mungkin kusimpan saja tiap huruf berbalut kenangku tentangmu, dalam sajak sederhana di sudut hati sana.

Masih lekat di pelupukku saat senja bertudung mendung, dan hembus angin serupa isak, mengusung  harum bunga kopi bercampur aroma khas cengkeh, menyeruak di antara obrolan kita di bangku bambu itu. Pandangku tertumbuk matamu, tajam berlumur kasih, dengan riak tipis duka di kedalamannya. Tak sempat ku urai tanya yang melintas, kutertunduk menatap tautan jemariku; malu. 

Kini senjaku telah karam bersama tanya di rahimnya. Sisakan gelap walau di langit sana benderang disepuh kilau bintang. Aku seperti jeda di antara senja dan malam tak berjeda. Kusam dalam bayang muram diantara langit-bumi tempatku  berada kini: ruang kosong, sejak kepergianmu. Dan kubiarkan tetap begitu, tak hendak kuganti  bahkan secuil cat yang mengelupas di sudut sana. Agar aroma dan butiran kenang yang dulu mengalir dari danau cintamu tetap utuh.

Aku tak ingin guratan puisi dan surat-suratmu yang bertebaran di tiap celah dindingnya terhapus jejak baru. Meski  beberapa huruf memudar, luntur saat kubaca dalam hujan, tapi tiap peri begitu lekat di ingatan, aku bisa membacakannya untukmu tanpa melihat suratnya. Dan itu yang aku lakukan di ruang kosong ini, ketika jemari rindu garukiku, seperti belati rauti bambu; ngilu!

Palembang |170114|


3. PENGANYAM GERIMIS

Seikat rindu kau kirim pagi ini. Wanginya penuhi kamarku, mengalir ke ruang-ruang kosong berdebu. Biasanya di sana hanya terhidu sepi yang lembab, pengap; menyesakkan! Tapi hari ini ronggaku begitu lega, menghirup udara baru; kau!

Dan dari kelopak-kelopak rindu yang kau kirim, aku seakan melihatmu, berbalut jas hujan duduk di antara rinai menggerimis, deru angin bergaram, lalu lalang para pengusung mimpi yang menitipkan mimpi-mimpinya di roda-roda, pada sampan-sampan yang ayun-temayun dibuai alun, juga pekik camar yang tak lelah mengepakkan mimpinya ; kau asik menganyam gerimis jadi seuntai sajak yang mendendangkan rindu: untukkukah?

Palembang |280114|

Tidak ada komentar:

Posting Komentar