Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : RD Kedum

Kubiarkan

kubiarkan angin berbisik rindu
ketika katup jendela
belum juga berderit

/Bumi Raflessia, 03062013


ADA

Ada lorong-lorong sempit yang harus kusisir, bermuara padamu kawan
Akankah kupetik kembali bunga dan madu, yang berbaris manis di sudut bibirmu yang kering
Langit dan mendung memang sulit diprediksi kawan
Selalu bersenandung tentang hati merah darah
kemarin dan hari inikabut atau hujan, akan kubiarkan tersenyum
Lalu kembali aku menambahkan catatan "tak mudah percaya dengan musim"

/Jakarta, 5061213


SAYANG

Semilir angin basa-basi senja ini
mengamit genit lenganku yang terkulai
sayang
tak kau temukan nuansa hatiku yang bening biru

di ujung senja rasa bercandu
setitik noda menghilir sayang
kau cekal aku dalam sendu

di ujung senja terenda kata
desah kotor meracun segala
sayangkau tak paham aku

/Jakarta, 6 Juni 2013


TAK SANGGUP

/1/
Kreekk..
tingkap pintu berderit
sebaris cahaya
bertandang bersama bulan yang menyabit
embunpun jatuh
tumpah
memecah
bernoda

/2/
Kreeeek…kreek…
aii..takkah bisa sejenak berdiam?
membiarkan imajiku sebentar saja
bergelut pada tentangmu

/3/
Kreeeek…kreek…kreek
Oh..ku tak sanggup;
ujung belatimu terlalu tajam menghujam

/Bengkoelou, 10061913


MATI (Puisi 2,7)

Jiwa pun meronta
Kembang kapas lunglai: mati

/Llg.15072013


PUSARA

Pusara berliang tanah merah
Sedan membanjir: duka

/Llg.15072013


PENYERAHAN

Tersungkur dalam sujud penuh
ruah di sepertiga

/Llg,17072013


NISAN (pada ayah)

/1/
Ada isak yang tersisa
meski waktu bergulir sekian lama
ketika tanah merah berjejer rata
menjadi saksi bisu kecintaan yang kau bawa

/2/
Ada sesak tibatiba menghimpit dada
hasrat ingin berpeluk
menambatkan rindu yang memerah
meriap di antara altar usia

oh separuh purnama terbilangbilang
menjenjang raut dan kerdip matamu yang merabun

/3/
Ada sebaris desis menari di ujung purnamaku
tambatkan dalamdalam seiring Asma
hanya padaMu semua bermula
lalu kembali
berpacak pada takdir
mengeruh di atas batu pemakaman
saksi bisu dimakan usia

/Lubuklinggau, Romadhan-2013


SECANGKIR RINDU

Secangkir rindu
mengembun di pangkal hari ini

/Silampari, 27082013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar