Rabu, 16 April 2014

Bengkel Karya : Alex Tanjung

AMUK RINDU BADAN YANG TERLUKA

Yang namanya sihir matamu
telah mengalahkan segala kenyataan
baris-baris langit hitam telah pudar
aku terkapar meminum secawan anggurmu
di balik ini, tubuh menyimpan segala rasa
pada pertikaian waktu, buru memburu
rindu sepetak tanah, kering kerontang
lalu hujan mengeluarkan ayat basah
tentang cinta sekelumit janji di tangannya
kusimpan semua kenangan di jalan trotoar
anak mata jalang, menatap derunya lapar
sepasang kekasih rela bunuh diri telanjang
sepasang mata kejora terlepas dari gantungan baju
dan nestapa pejalan kaki di kota-kota besar
mencari alamat kedamaian yang tak kunjung datang

Mari anganku, teruslah berjalan menyisir lorong
gelap kaca mataku, berbentur kenyataan
semalam masih ada pelukan di loket antrian
kematian merekam jejaknya, cinta tak pulang
kepada selain kekasih yang memburu kelaminnya
ayat-ayat luka terus dibacakan oleh musafir
sampai ke sini, desa telah sepi dan lebih mengerikan
lagi kau tak pernah mau tahu, betapa kisah ini
jauh lebih absurd dari kecupan di malam pertama
saat kau tak berkata apapun pada secangkir kopi
hangat dan dinginnya waktu adalah pengendalian
ruang-ruang hampa di balik tirai kau menari
sedang wajah zaman makin tua lalu uban di kepala
menerjemahkan cinta lebih muda dari usia bayi-bayi
dilahirkan kedukaan itu, kesedihan yang niscaya kau jalani
di pintu penyair banyak kata-kata telah jadi cahaya
tapi terkadang cinta tak berdiam di tubuhnya
maka hanya kematian lebih punya cara mengingatkan
bahwa di jantung hati, Tuhan masih duduk diam
tersenyum melihat kita yang jumawa dengan kata rindu

Apakah amsal dan muasal rindu dan cinta itu?
kitapun melupakan jarak dan batas kemampuan
selalu berkata, dekap aku, cium tubuhku, rasakanlah!
hangatnya anggur di tubuh ini, berikanlah aku hujan
sehingga petani di dada ini tak mati kelaparan
menggantung dirinya di kursi-kursi pesakitan
lantaran harga-harga nyawa tergantung 5 tahun sekali
dan cinta ternyata lebih menjijikan dari air comberan
yang melekat di ubun-ubun kepentingan otakmu
dan Tuhan kembali tertawa, cinta tak kita kenali
wajahnya yang lebih buruk dari lukisan kuno
berabad-abad tafsir rindu tak kunjung menuai arti


Moncek Tengah, 161113




PULANGLAH

Bila nanti telah tak ada
kau temukan lagi inginmu
di sana jangan sendiri saja
karena aku masih di sini

Meski dulu kau bawa sekeranjang
biji salak dari mataku
dan dari elusan hangat tangan ini
tapi sekali lagi tak ada
dendam itu telah kukuburkan
di kebun belakang pohon salak

Kudengar kau berlari
mengejar matahari di senja kemarin
kubiarkan kau menjadi camar
di tepi pantai yang bebas mengepak
akan tetapi aku masih di sini

Berharap dan berdoa
pada Tuhan yang pernah mengetuk kita
untuk bersama secara tulus
begitupun aku masih di sini
doaku sama saja tak beda
baik-baiklah selalu dengan tubuhmu

Kubiarkan ikhlas tak meronta
bahkan masih saja di sini
seperti hari kemarin dan hari yang lain

Moncek Tengah, 31 Jan 2014

Tidak ada komentar:

Posting Komentar