AMUK RINDU
BADAN YANG TERLUKA
Yang namanya
sihir matamu
telah
mengalahkan segala kenyataan
baris-baris
langit hitam telah pudar
aku terkapar
meminum secawan anggurmu
di balik
ini, tubuh menyimpan segala rasa
pada
pertikaian waktu, buru memburu
rindu
sepetak tanah, kering kerontang
lalu hujan
mengeluarkan ayat basah
tentang
cinta sekelumit janji di tangannya
kusimpan
semua kenangan di jalan trotoar
anak mata
jalang, menatap derunya lapar
sepasang
kekasih rela bunuh diri telanjang
sepasang
mata kejora terlepas dari gantungan baju
dan nestapa
pejalan kaki di kota-kota besar
mencari
alamat kedamaian yang tak kunjung datang
Mari
anganku, teruslah berjalan menyisir lorong
gelap kaca
mataku, berbentur kenyataan
semalam
masih ada pelukan di loket antrian
kematian
merekam jejaknya, cinta tak pulang
kepada
selain kekasih yang memburu kelaminnya
ayat-ayat
luka terus dibacakan oleh musafir
sampai ke
sini, desa telah sepi dan lebih mengerikan
lagi kau tak
pernah mau tahu, betapa kisah ini
jauh lebih
absurd dari kecupan di malam pertama
saat kau tak
berkata apapun pada secangkir kopi
hangat dan
dinginnya waktu adalah pengendalian
ruang-ruang
hampa di balik tirai kau menari
sedang wajah
zaman makin tua lalu uban di kepala
menerjemahkan
cinta lebih muda dari usia bayi-bayi
dilahirkan
kedukaan itu, kesedihan yang niscaya kau jalani
di pintu
penyair banyak kata-kata telah jadi cahaya
tapi
terkadang cinta tak berdiam di tubuhnya
maka hanya
kematian lebih punya cara mengingatkan
bahwa di
jantung hati, Tuhan masih duduk diam
tersenyum
melihat kita yang jumawa dengan kata rindu
Apakah amsal
dan muasal rindu dan cinta itu?
kitapun
melupakan jarak dan batas kemampuan
selalu
berkata, dekap aku, cium tubuhku, rasakanlah!
hangatnya
anggur di tubuh ini, berikanlah aku hujan
sehingga
petani di dada ini tak mati kelaparan
menggantung
dirinya di kursi-kursi pesakitan
lantaran
harga-harga nyawa tergantung 5 tahun sekali
dan cinta
ternyata lebih menjijikan dari air comberan
yang melekat
di ubun-ubun kepentingan otakmu
dan Tuhan
kembali tertawa, cinta tak kita kenali
wajahnya
yang lebih buruk dari lukisan kuno
berabad-abad
tafsir rindu tak kunjung menuai arti
Moncek
Tengah, 161113
PULANGLAH
Bila nanti
telah tak ada
kau temukan
lagi inginmu
di sana
jangan sendiri saja
karena aku
masih di sini
Meski dulu
kau bawa sekeranjang
biji salak
dari mataku
dan dari
elusan hangat tangan ini
tapi sekali
lagi tak ada
dendam itu
telah kukuburkan
di kebun
belakang pohon salak
Kudengar kau
berlari
mengejar
matahari di senja kemarin
kubiarkan
kau menjadi camar
di tepi
pantai yang bebas mengepak
akan tetapi
aku masih di sini
Berharap dan
berdoa
pada Tuhan
yang pernah mengetuk kita
untuk
bersama secara tulus
begitupun
aku masih di sini
doaku sama
saja tak beda
baik-baiklah
selalu dengan tubuhmu
Kubiarkan
ikhlas tak meronta
bahkan masih
saja di sini
seperti hari
kemarin dan hari yang lain
Moncek
Tengah, 31 Jan 2014
Tidak ada komentar:
Posting Komentar